MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#48


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahiim


Allahumma Shalli'Alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Aalihi Sayyidija Muhammad


Dirga menepuk punggung Lettu Pandjaitan dan berkelakar.


"Kamu lihat itu Dja? Itulah mengapa aku izinkan dia menikahi putriku. Kamu berani dan tangguh Azam, aku akui itu. Tetapi tidak semua hal yang kamu benci harus kamu bunuh. Percayalah, aku bisa melakukannya sejak jauh - jauh hari itu"


"Apa yang bisa kami lakukan untuk membongkar kedoknya?"


Hamzah bertanya memecahkan ketegangan.


"Itulah alasan mengapa kita berkumpul disini. Agar salah satu diantara kita bisa berpikir dengan jernih!"


Dirga menjentikkan jarinya.


Selain Lettu Pandjaitan, tak ada yang menyadari jika Azam terlihat amat kesakitan, memijat - mijat lehernya dan beberapa kali meneguk air mineral yang ada di hadapannya.


Azam menelengkan kepala, menahan tekanan geraham yang terlanjur bergemelutuk. Dia bersumpah, tak akan pernah membiarkan Sahrir Tanjung merusak rumah tangganya. Kemarahan secara sadar menguasai setiap sel darahnya. Azam tak mengerti, bagaimana hanya mendengar nama Marsekal saja amarahnya langsung naik ke ubun - ubun. Tak ada pengampunan untuk si brengsek itu, sungguh tidak ada.


"Aku akan bergabung, aku akan bergabung untuk melumpuhkannya...!"


"Benar kamu memang harusnya bergabung"


Dirga menimpali.


3 alasan yang dapat ditarik menjadi kesimpulan untuk Azam.


Satu, dia adalah raja mafia yang berkeliaran bebas di negara ini. Produsen obat bius, kokain, sabu, dan ganja yang paling berbahaya. Juga bencana di Talihan yang memakan banyak korban juga dialah dalangnya.


Kedua, dia memiliki dendam pada mertuanya.


Ketiga, Azam sangat membenci Sahrir Tanjung.


...****************...


"Aku harus bertugas di Kalimantan Timur"


Asha yang tengah mengaduk tanah dalam pot berhenti, batang bunga mawar di letakkan di atas rumput. Ia menatap Azam dengan tampang yang sangat serius.


"Don't kidding me, my hubby...it's over morning...."


Saling sapa subuh - subuh dengan bahasa Over morning telah menjadi kebiasaan baru mereka. Tapi kali ini Asha mengucapkannya dengan wajah cemberut.


Azam menyugar rambut. tak kan mudah mendapatkan izin dari Asha, namun Azam akan tetap menyampaikan. Salah satu bagian dari kebahagiaannya adalah selalu mencoba jujur.


"Duduklah sebentar, aku ingin bicara!"

__ADS_1


Asha mengikutinya duduk di kursi taman.


"Minggu depan aku harus pergi ke Talihan"


"Apa? No___!"


"Sssshh...tenang dulu!"


Azam mengelus kelopak mata istrinya.


"Tak akan lama Sha, hanya dua hari. Setelah itu aku akan pulang"


Asha menggeleng, semangat paginya jadi merosot drastis.


"Kenapa harus pergi kesana? Ya Allah, itu tempat yang sangat berbahaya. Nanti bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Abang? Aku tidak mau lagi melihat Abang___!"


"Sha...dengar"


Azam menangkup kedua pipinya.


"Tak akan ada hal buruk yang akan terjadi, sebab doa mu telah mengikatku dalam perlindungan. Hanya tugas ringan, lagi pula aku hanya bertugas sebagai pendamping Batalyon Papa. Kami akan berangkat rombogan dengan pesawat terbang. Aku akan berangkat dengan Letkol Iqbal Dirgantara, jika itu bisa membuatmu sedikit lapang".


Asha menatap suaminya lama, terlihat seperti ingin menangis kalau saja Azam tidak terus berbisik menenangkan, bilang kalau hanya pergi sebentar.


"Aku janji tidak akan masuk hutan, aku hanya melakukan monitoring di dalam pesawat. Aku akan bergabung dengan kesatuan Mayjen Buya Abbas sepanjang hari. Kamu bisa menelphonnya sekarang untuk menyiapkan rantai supaya aku tidak bisa pergi kemana - mana ketika sampai di Kalimantan".


Asha mendesah berat, melepaskan Azam untuk pergi pertugas selalu terasa sulit dan menyesakkan dada. Sebab Asha tahu, seberapa berat tugas yang di emban Azam. Hidup atau mati menjadi kejutan ketika ia pulang nanti.


"Membongkar lubang yang di tanam di tanah lapang itu"


"Apa??? Tempat dimana Abang terkena___?"


"Aku tidak akan ikut masuk hutan Sha! Aku hanya akan memantau layar monitoring dan mengarahkan mereka menuju lokasi yang di tuju. Papa Dirga menjamin keselamatanku, oke! Lagi pula akan ada banyak pihak yang akan mengamankan wilayah itu".


Asha menghela napas dalam usai terdiam.


"Promise?"


Azam tersenyum, mengait kelingking Asha dengan tampang lega. Pergi ke Talihan adalah langkah awal untuk melindungi istrinya, keluarga istrinya dan banyak orang yang tak bersalah.


"I swear!"


Azam berbisik lembut dan mrngecup jemari Asha.


"Kalau begitu, Abang harus memakai ini!"


"Apa itu?"


Asha melepas gelang yang ada di pergelangan tangannya. Seingat Azam, istrinya itu hanya sempat melepas gelang itu saat pernikahan mereka saja. Setelahnya, Asha tak pernah terpisahkan dengan gelang itu.

__ADS_1


"Anggap gelang ini sebagai jimat, kalau Abang menemukan kesulitan panggil saja namaku sebanyak tiga kali dekat gelang ini. Bantuan akan datang pada setiap orang - orang yang membutuhkan"


"Ckk, kekanak - kanakan sekali"


Cibirnya pelan, namun tak urung membiarkan Asha memasangkannya.


"Sesorang telah memberikannya padaku My hubby. Dia mungkin orang jenius kedua setelah Abang. Laki - laki yang hampir menjadi jodohku sewaktu kecil, hanya tradisi perjodohan. Sayangnya ia menghilang begitu saja, namun sebelum itu ia menitipkan ini pada kakekku"


"Oh ya? Yang benar saja, mana ada pesawat bentuknya seperti ini? Dan ini_ kamu sebut bunga matahari? Siapa gadis kecil ini, mengapa jelek sekali?"


Asha mencubit lengan Azam.


"Abang menjengkelkan sekali tau! Gelang ini sudah aku miliki sejak usiaku 12 tahun yang lalu. Lebih tua dari pada aku mengenal Abang"


Azam tak acuh, paling cuma pemberian biasa dari laki - laki cinta monyetnya dulu. Ia lalu melepaskan jaketnya di pangkuan Asha dan berbaring nyaman di sana.


"Sebentar saja Sha, aku ingin istirahat sebelum berangkat ke kantor Batalyon Papa"


Asha mengulum senyum, mengusap wajah Azam yang terpejam karena lelah. Ya, memang semalam laki - laki itu bergadang di ruang kerjanya. Mengerjakan sesuatu yang tidak di ketahuinya. Siapa tahu kalau ternyata pekerjaan itu akan membawa suaminya kembali ke bumi Kalimantan?


Bagaimana pun Asha hanya mampu mendoakannya. Wajah Azam yang damai sepagian itu terlihat menikmati momen - momen tenangnya.


"Apa yang paling Abang suka di dunia ini?"


Azam menggumam sesuatu yang tidak jelas, menggerutu kecil kalau Asha selalu saja ingin tahu urusan dan pikiran orang lain.


"Kamu pasti tahu isi pikiranku bahkan sebelum aku mengatakan"


"Tell me, my hubby...?"


Desak Asha tak sabaran.


"Kamu dan awan"


"Eh...aku dan awan?"


"Hm"


"Kenapa?"


"Kamu adalah objek terindah yang ada di muka bumi, sementata awan adalah objek terindah yang ada di atas langit"


Tetap Azam memejamkan mata, namun bicaranya sangat puitis.


"Lalu apa hubungannya?"


"Aku ingin membawamu serta ke atas sana. Dan bersama kita akan berbicara pada Tuhan tentang betapa menajubkannya anugerah yang aku miliki"


Selesai, Azam berhasil membuat istrinya yang cantik bersemu merah muda pada ke dua pipinya.

__ADS_1


Ya ampun....makin gak sabar, apakah si babang menawan pulang dengan selamat dari Kalimantan nanti atau kah malah....???Penasaran kan? Ada yang samaan kaya author gak?


Tetap dukung ya...beri Like atau Krisan kalian...😙


__ADS_2