MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#61


__ADS_3

Bismillah Hirrahmaanirrahiim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihi Sayyidina Muhammad


Jendala besar itu berembun, salju di luaran sana menghujani halaman dan jalan raya. Saat ini telah memasuki akhir bulan desember, orang - orang sibuk menyapa dan meneriakkan selamat hari natal. Tetapi Asha baru saja selesai melaksanakan shalat dhuha, meringkuk di depan perapian yang menyala terang.


Satu jam lalu Asha baru saja menerima panggilan internasional dari Arkha, kakaknya itu bilang akan ada syukuran penggantian batu nisan dari kesatuan Anggakatan Udara Tanggerang. Kesatuan dimana Iqbal Dirgantara pernah mengabdi. Bertanya padanya, apakah ia dan Hanifah akan pulang?


Kembali ke Indonesia


Setelah 2 tahun, Asha tak tahu. Dulu, ia memang tak pernah ingin meninggalkan tanah airnya. Tetapi Hanifah yang memerlukan perawatan khusus setelah jatuh sakit membuatnya mengikuti beliau tinggal di negeri kincir angin.


Di samping menjaga Hanifa, Asha menemukan rutinas baru dengan bergabung bersama yayasan tempat anak - anak belajar membaca. Cukup memberikan semangat hidup, juga membantunya menyembuhkan luka hatinya.


Setelah lama pergi, Asha tak punya keberanian lagi untuk kembali ke negaranya.


Asha memejamkan mata, teringat percakapan denga Fahmi beberapa bulan lalu.


Husain fahmi waktu itu berada di Laboratorium di sebuah Universitas terbaik di Amsterdam. Sibuk dengan analisanya dia masih sempat curi - curi pandang pada Asha yang mengamati bangunan tua itu, tiba - tiba berbicara serius usai berbincang tentang kemungkinan Asha pulang ke Indonesia.


" Di mata hukum, dia masih berstatus suamimu. Kalian tak pernah mengurus secara resmi dokumen perceraian ke pengadilan agama. Tak pernah, dia tak pernah menandatangi apa pun yang menyatakan bersedia melepaskan mu sebagai istrinya".


Sepupunya itu menyinggung hal yang paling sensitif.


"Kamu pun tahu aku sudah mengurusnya melalui pengacara, Mimi. Dia di bebaskan 1,5 tahun lalu dan menghilang begitu saja. Entah petugas pengacara itu sampai mana mencarinya?"


Fahmi mendengus, memutar kursinya.


"Sepertimu, kamu pun demikian. Menghilang darinya bak di telan bumi"


Fahmi, sejak pertama kali menginjakkan kaki di di negeri ini selalu memintanya untuk cepat - cepat kembali dan mencari tahu apa yang terjadi.


"Dia bukan siapa - siapaku lagi"


Sambar Asha ketus.

__ADS_1


"Dia baru menjatuhkan 1 talaq padamu"


Sengatan kecil mengenai ulu hatinya, kalimat Fahmi barusan membuatnya limbung dan hilang arah.


"Kami tidak bersama lebih dari 6 bulan, dan kamu pasti tau artinya itu"


Fahmi kehabisan kata - kata, Asha memang benar.


"Tapi kamu harus pulang, Asha. Cepat atau lambat kamu harus kembali, sebab kehidupanmu ada di sana. Sementara aku di sini karena ada pekerjaan, tanggung jawab yang harus aku kerjakan karena ikatan kontrak. Tapi tidak dengan mu. Pulanglah, biar Mama menyusul kemudian. Kamu harus berdamai dengan masa lalumu"


Asha terdiam.


"Berdamai dengan masa lalu?"


"Berdamailah dengan kebencianmu pada Khairul Azam"


Asha seperti habis di tenggelamkan di kolam dasar.


"Kematian Papa sudah jauh tertinggal di belakang, menjadi masa lalu yang bisa kami kenang setiap detik. Boleh kamu simpan dimana saja. Yang manis atau pahit. Tetapi Asah, sesungguhnya tidak ada yang mengetahui persisnya kejadian itu, kecuali tiga saja. Syamsudin Bahar yang menebarkan kebencian, Azam yang senantiasa membebaskanmu dari kesulitan dan tentu saja, Allah 'azza wajalla. Tiga saksi kunci, mana yang kamu percaya?"


Bisik Asha lemah.


"Renungkanlah Asha, semua orang berhak mendapat remidial. Jangan lepaskan kesempatan itu. Surat Al-Baqarah ayat 216: Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Dan Allah senantiasa menunjukkan keadilannya pada salah satu pihak yang benar"


Itu adalah ayat yang pernah di pikirkannya untuk Azam.


Asha tertohok, menutup pintu dengan kencang saat kalimat Fahmi teredam di baliknya.


Bayangan itu ikut tersapu angin saat Asha menyikap sedikit jendelanya, menghantarkan sejuk kala menyentuh pipinya. Sedingin air yang menetes di pemandian santri putra Askhabul Kahfi.


Asha tentu saja mencoba menanyakan kabar Azam setahun yang lalu, dan beberapa bulan terakhir. Apa yang membuatnya tahanan lepas? Dan mengapa menghilang tanpa jejak?


Asha tak tahu, penjelasan Arkha yang singkat tak bisa di pahaminya. Semuanya terlalu rumit, saling memiliki keterkaitan.


Tapi sekali itu, Asha mengerti apa yang di namakan kerinduan dan penyesalan mendalam. Sebab rindu ialah kata lain dari cinta, dan cinta adalah bagian dari jiwa manusia.


Ketika Asha merasakan kerinduan dan penyesalan yang mendalam, maka sesungguhnya ia telah mencintai satu jiwa manusia lain yang mengusiknya. Tak peduli seberapa jauh jarak memisahkan, pada dasarnya perasaan yang tulus untuk seseorang akan selalu menang.

__ADS_1


Asha menyekah air matanya yang tiba - tiba luluh, merasa sangat bodoh dan sembrono. Buru - buru masuk kamar setelah mengaku bahwa satu - satunya yang ingin hatinya rasakan adalah keinginan kembali dan menemukannya segera. Dia yang jauh raganya, dia yang menghilang.


Asha ingin memeluk tubuh itu dan bertanya apakah selama ini ia hidup dengan baik? Juga seberapa besar pelikkah beban yang mesti ia tanggung?


Di raihnya bolpoin dan buku catatan, lantas ia duduk manis di atas kursi. Seolah sedang memandang wajah tegas itu, tersenyum tipis dalam lembaran kertas. Kalimat demi kalimat meluncur. Tanpa ragu Asha meliukkannya.


Bila janji telah terukir indah di atas jabbal rahmah


Pada masa lalu yang kelam, dan masa depan yang di selimuti misteri.


Aku tak akan lupa mengunjungi kesepianmu di ujung sana, agar bulan dan bintang belajar mencintai fajar yang selalu di harapkan malam.


Aku ingin mengajakmu mengamini sajak di bawah atap hujan yang menaungi awan, yang terus berkesiur melambaikan impian yang terbentang di tepi wajah. Namun matamu menyilaukanku pada memori tentang sebuah pagi tanpa gerimis.


Aku ingin membagimu atas nama Habb dan ishq yang di pendam sahara.


Aku hendak membisikimu asbabun nuzul kejora yang di lesakkan ke dalam jantung, agar denyutnya hinggap di sayapmu, mengikatnya.


Untuk itu, kutunggu kau di tepian samudra. Tempat dimana kelopak - kelopak bunga memandang rembulan menggantung cahaya.


Selamanya, kau ku impikan menuju sebuah keabadian.


Untuk, Khairul Azam


Suamiku, kembalilah...


Sebab aku telah menemukan kebenaran di antara riak air.


Catatan pena itu berhenti, tak bergerak lagi. Penanya tergeletak begitu saja di atas kertas. Bukan karena tintanya habis, tetapi agaknya tulisan itu memang cukup sampai di sana.


Sebab telah di putuskan, Asha ingin Azam mengisi bagiannya yang kosong. Asha ingin Azam melengkapi kisahnya yang tak utuh itu.


Entah esok, lusa, minggu, bulan dan tahun - tahun selanjutnya.


Asha ingin melanjutkan kisah itu suatu hari nanti...


Hayyy...Author boleh minta dukungan Vote ga ya?😙

__ADS_1


__ADS_2