MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#40


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahiim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad


Iqbal Dirgantara duduk bersedekap di ruang tamu rumahnya, di sampingnya duduk sang istri dengan raut kegelisahan akibat keangkuhan yang di tunjukkan pada tamu rumahnya. Semua orang tau betul kalau Iqbal Dirgantara bukan tuan rumah yang baik menyangkut laki - laki. Terlebih laki - laki yang berkunjung langsung untuk menemui putrinya. Dirga akan bertingkah menyebalkan seperti anggota SATPOL PP yang ingin menertipkan pasar.


"Aku melamar putri bapak, aku ingin menikahinya"


Ulang Azam lebih keras karena tak juga mendapat respon dari pernyataan pertamanya. Iqbal Dirgantara menaikkan alis, sengaja menperlambat tempo untuk memancing kemarahan pemuda itu agar segera enyah dari kediamannya.


"Apa yang bisa kamu berikan untuknya?"


Azam tak pernah segan menatap mata siapa pun, namun menaklukkan seorang anggota TNI angkatan udara macam Iqbal Dirgantara mungkin lain hal lagi.


"Hanya aku yang sanggup memberikan perlindungan padanya selain ayah dan kakaknya yang keras kepala!"


Jawaban berani Azam di hadiahi lirikan tajam oleh Iqbal dan Arkha Dirgantara.


"Kamu datang jauh - jauh dari Wonogiri hanya ingin mengatakan omong kosong ini padaku?"


Hanifa menghela nafas dalam, akan menjadi rumit jika Iqbal Dirgantara yang turun tangan. Ia tak ingin Dirga salah mengambil keputusan untuk putrinya.


"Aku mengatakan yang berasal dari niatku bukan sekedar omong kosong."


Azam menanggapinya berani, tak terpengaruh atas intimidasi Iqbal Dirgantara.


Dirga mendecih, mendadak teringat atas informasi yang baru saja ia terima. Mungkin saja itu alasan yang mendorong kepercayaan diri pemuda itu hingga berani melamar Asha ke rumahnya.


"Kamu pikir, dengan mengetahui fakta bahwa kamu putra KH. Abdurrahman Lathif bisa merubah sesuatu dari pandanganku?"


Mata Azam berkilat tegas.


Anda tidak perlu repot - repot melihat sosok ayahku dalam diriku, sebab aku dan dia jelas berbeda. Anda hanya perlu melihatku dalam diriku sendiri".


"Sayangnya kamu terlalu buruk di mataku, Khairul Azam".


Sambar Dirga dengan cepat.


"Akan kamu apakan putriku nanti? Umpan untuk tugas di kesatuanmu? Atau seseorang yang kamu jadikan pajangan dalam kehidupanmu yang suram?"

__ADS_1


Azam mengetatkan rahangnya sendiri, sebisa mungkin tak terkena provokasi Iqbal Dirgantara.


"Dia tak akan jadi apa pun seperti yang anda katakan, pak Letkol. Aku akan menjaganya lebih dari diriku sendiri. Dengan nyawaku ia akan hidup!"


"Kamu yakin betul kalau sakit jiwamu sudah sembuh?"


Seringai Azam yang paling berbahaya muncul, nampak tak bermurah hati.


"Yah, tentu saja. Wanita seperti putrimu adalah racun sekaligus penawar untuk mengobati kegilaanku bukan? Anda tentu tahu lebih banyak dari pada aku bukan?"


"Sudahlah, lebih baik kamu pulang saja. Atau aku antar kamu sampai garasi?"


Teh hangat yang di buat Hanifah sama sekali tak ada yang tersentuh, para laki - laki terlalu sibuk dengan arogansinya.


"Kamu harus bertanya pada Asha dan mendengarkan pendapatnya?"


Hanifa memperingatkan suaminya.


Dirga melirik tajam ke arah istrinya.


"Diam Hanifah! Aku tahu yang terbaik untuk putriku!"


Lalu di memandang lurus pada Azam.


Apa?


Azam membatu, Husain Fahmi melamar Asha? Hanifah bahkan Arkha yang tidak begitu menyukai Azam pun ikut tercengang, informasi itu begitu mengejutkan bagi mereka. Fahmi yang kebetulan ada di situ ikut berdiri hendak berbicara pada Azam, tetepi Dirga ikut berdiri dari sofa dan menarik tangan Fahmi agar lebih dekat.


"Aku telah menerima lamaranmu untuk putriku!"


Azam berdiri. Kalau benar apa yang di katakan Dirga, lantas apa maksud Asha dengan menyanggupi permintaannya? Lucu, aneh, semuanya seperti konyol! Atau gadis itu hanya ingin mempermainkannya.


Asha menuruni tangga dengan terburu untuk segera melerai kesalah pahaman itu.


"Aku telah menerima lamatannya, Pa! Dan Mimi tidak pernah mengajukan lamaran apa pun padaku. Tolong jangan memperumit keadaan, Papa jangan mengarang - ngarang sesuatu!"


Dirga nampak sudah tak bersabar hati melihat putrinya ikut membangkang.


"Naik, masuk kamarmu sekarang juga!"


Asha mengusap air matanya, menatap Azam tetapi pemuda itu bergeming. Asha berharap agar Azam tidak mudah percaya dengan apa yang di katakan Dirga.

__ADS_1


"Azam, itu semua tidak benar. Mimi tolong katakan padanya, semua itu tidak benar!"


"Diam! Fahmi, aku lebih tahu!"


"Pa, jangan menekan Mimi untuk kepentingan yang tak beralasan!"


"Asha!"


"Cukup! Kamu jangan pernah berbuat kebohongan apa pun di rumah ini!"


Hanifah menatap satu per satu wajah yang ada di rumah itu, kepada Iqbal Dirgantar yang sekeras batu, Arkha yang tak suka, Fahmi yang bersedih hati, terutama pada Azam dan putrinya sendiri yang berdiri gelisah.


"Kita semua tahu bahwa rentang perjalanan hidup manusia sangatlah panjang. Namun sesungguhnya singkat, pun dengan liku - likunya hanya sederhana. Kita di ciptakan Allah tidak lain untuo beribadah kepada-Nya. Maka jika kelak kita ingin berjumpa dengan-Nya dalam keadaan Dia ridho kepada kita, hendaklah kita berbuat semata - mata untuk menggapai ridlo-Nya dan menselaraskan diri kepada sunnah - sunnah Rasul-Nya".


Tatapan hangat Hanifah jatuh pada suaminya yang beridiri kaku.


"Begitu pula lamaran pernikahan pemuda ini yang di ajukan untuk putri kita, ijab qabulnya, adanya wali dan dua orang saksi, termasuk hadirnya kita dalam kesepakatan ini juga adalah ibadah. Yang tak luput dari keharusan sesuai syari'at Allah. Maka aku mohon, janganlah berkeras hati, biarkan ia bahagia sesuai pilihannya?"


"Tapi aku berhak menentukan yang terbaik baginya. Kamu jelas tidak tahu siapa sebenarnya pemuda ini Hanifah!"


Hanifah menarik nafas dalam.


"Siapa pemuda ini? aku tahu, orang yang sama yang telah membantumu mencari Asha dan Fahmi. Mengeluarkan mereka dari bahaya sementara dia rela terluka!"


Mendadak Dirga tertegun, terhuyung seperti terkena beliung.


"Kamu tidak akan mengerti!"


"Aa'...!"


Hanifah memegang lengan Dirga dengan lembut.


"Kamu memang berhak, namun Asha bukan sepenuhnya milikmu, bukan pula sepenuhnya milikku. Biarkan dengan ruang terbatas ia menggunakan kepemilikannya atas dirinya sendiri. Kamu tak bisa memaksa kehendakmu".


Iqbal Dirgantara berperang batin sebelum mengambil salah satu keputusan paling penting dalam sejarah hidupnya, melimpahkan kekuasaan atas diri Asha pada orang lain bukanlah perkara yang mudah. Sejak dalam kandungan sekalipun, Asha berkali - kali me dapat percobaan pembunuhan. Mata cekung berkat kerja keras itu memandang sosok Azam,


dan saat itu pula keraguannya semakin terkikis. Iqbal Dirgantara mengambil nafas dalam.


"Baiklah, demi Tuhanku dan putriku. Tapi ku ingatkan sekali lagi pada mu, wanita di nikahi karena 4 alasan: Harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Maka ambillah putriku nanti sebagai istri sekaligus amanah yang nanti kamu akan di tuntut bertanggung jawab atasnya. Dengan dan bersamanyalah kamu beribadah kepada Allah, di dalam suka juga di dalam duka".


Tapi cinta bertugas untuk menyempurnakan bukan menutupi kekurangan atau kelebihan. Azam mengangguk penuh janji keyakinan.

__ADS_1


Wowwww...subuh-subuh udah Up nih, akibat semalam begadang. Beri penghargaan Like atau coment ya...😙


__ADS_2