MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#63


__ADS_3

Bismillahirrahmaaniirraahiim


Allahumma Shalli 'ala Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad


Lapangan tembak selalu menjadi tempat favoritnya untuk menghilangkan kejenuhan, apalagi Azam butuh kesegaran setelah terkurung selama 5 bulan di dalam pengapnya penjara setahun yang lalu. Azam benar - benar mengalami transisi dalam hidupnya. Tekanan datang bertubi - tubi anehnya membuat dirinya semakin tegar menjalani hari demi hari di dalam sel dulu. Tetapi masa - masa itu untungnya sudah berlalu. Kini ia harus bangkit dari kematian jiwanya.


Ketika Azam butuh konsentrasi tinggi, suara yang terdengar kemudian justru membuatnya hampir melesatkan peluru salah sasaran.


"Bagaimana kabar mantan istrimu?"


Tanya Sam.


"Tidak tahu"


Jawab Azam tak acuh.


Azam sosok berjiwa kuat, namun Sam tahu betul sebesar apa cinta Azam pada seorang Asha Azzaliyah Zahrah. Sebesar apa kehancuran Azam saat berpisah dengan anak Kolonel itu. Hingga jika Sam terlambat mengeluarkan Azam dari penjara, ia tak yakin Azam bakal mampu menjalani hidupnya kembali.


"Kamu terbukti tidak membunuh Iqbal Dirgantara, lantas mengapa kamu biarkan dirimu menjadi kambing hitam? Kamu membiarkan kesalah pahaman menghancurkan rumah tanggamu"


Azam berbalik malas - malasan dan mengambil rompi anti peluru.


"Dia tidak mempercayaiku, aku menguji kepercayaannya dan dia menyerah atasku. Lalu apa yang membuatku melakukan hal yang sama?"


Sam memerhatikan bagaimana Azam menguasai medan tembak.


"Kamu terdengar agak kekanakan Khairul. Kamu tahu pernikahan bukan hal main - main atau sesuatu yang bisa kamu permainkan"


Tohok Sam tajam.


Azam gusar dengan teguran itu.


"Dengar, pondasi kekuatan pada rumah tangga adalah kepercayaan. Sementara dia tidak meyakini pondasi yang aku punya. Aku sanggup membunuh untuk sebuah tugas, dia harus tahu resiko itu selama bersama ku. Akan banyak hal yang terjadi ke depannya. Kalau di awal saja dia menyerah, bagaimana nanti? Tentu saja dia harus bersamaku sampai tua".


Sam tahu Azam kacau, kecamuk dalam kepalanya telah menguasai segala tindakanya.


"Tetapi kamu membuatnya memahami hal yang salah, Khairul! Kamu menutup - nutupi kebenaran yang berhak di ketahuinya sebagai istrimu, dulu!"


Senjata itu turun dari sisi tubuh, mengusap keringat yang meluncur dari rambutnya dengan kasar.


"Dia pergi entah kemana ketika kebenaran itu datang, dia tak kan pernah mempercayaiku lagi!"


Manik sehitam jelaga itu menerawang jauh, menerka dimana kira - kira wanita itu bersembunyi. Bagaimana kehidupannya sekarang? Apakah dia bahagia?


"Biarkan sajalah, toh dia sudah memilih jalannya sendiri"


"Kamu jelas - jelas mencintainya"


Sam tak mau menyerah.


"Aku tidak tahu apa pun tentang itu!"


Sam menaikkan alis.


"Aku tahu, Khairul. Tentang mimpi burukmu setiap malam, nama siapa yang kamu sebut setiap tidur, foto siapa yang selalu kamu bawa. Bukankah kamu masih mengalaminya?"


Tekan Sam membuat Azam bungkam seribu bahasa .

__ADS_1


Kelihatan jelas Azam ingin mengabaikan Sam dan menepis gulananya akibat percakapan mereka. Sam menyalakan rokok kretek untuk mengisi kekosongan.


"Bagaimana rasanya menikah itu?"


Dia tiba - tiba nyeletuk, membuat Azam mengernyitkan dahi.


Percayalah, Azam begitu penasaran mengapa Sam belum pernah menikah.


"Mengapa tak menikah saja dan rasakan sendiri?"


Azam memasang kaca mata pelindung, memasukkan butiran peluru dan melancarkan pada papan.


"Aku pikir aku tidak pernah bisa menikah"


Azam mendengus.


"Maka periksalah ke dokter, aku kawatir anda kehilangan orientasi seksual!"


Saran Azam pedas.


Alih - alih tersinggung, Sam malah tersenyum senang.


"terima kasih atas saran cerdasmu, Khairul Azam. Tapi sepertinya tidak perlu, aku sudah menemukan orientasi hidupku kembali"


Azam menurunkan pistol, menatap Sam dengan tertarik.


" Apa yang bapak temukan?"


Sam balas menatap Azam.


" Aku menemukan Seruni, cinta pertamaku!"


Setelah shalat dhuha Azam ingin turun ke lantai dua segera membuat makanan untuk Seruni. Namun nyatanya, saat mendekati dapur ada aroma sedap yang membuat perutnya keroncongan. Disana, Seruni sedang mengaduk sup jagung dengan cekatan. Azam tersenyum tipis, merasa hidup begitu adil karena telah mempertemukan mereka. Hari - hari lalu yang menyakitkan seolah hanya kabut tipis saja, nyatanya mudah saja tersingkir jika hatinya di penuhi ketulusan.


"Harusnya aku saja"


Azam menghampiri.


"Bunda ingin membuat makanan yang kamu suka, tidak enak membiarkanmu mengurus Bunda sementara kamu harus pergi bertugas siang nanti".


Azam mengangguk - angguk, iseng mencoba sup panas itu. Tak sengaja mengaduh, Seruni meletakkan sendoknya.


"Kamu tidak apa - apa? Ya Allah, kamu selalu saja seperti itu. Kamu jelas melihatnya mendidih"


Katanya sembari mengusap - usap lembut punggung Azam.


"Kenapa masaknya banyak sekali?"


Seruni menoleh.


"Loh, bukannya kamu tahu kalau Sam akan makan pagi bersama kita?"


Azam risih mendengar pendekatan yang di lakukan Sam setiap hari. Well, Azam tahu Sam adalah orang baik. Terlalu baik malah. Maka dari itu, ia ingin Sam menunjukkan keseriusannya jika ingin menikahi Seruni. Tak perlu pendekatan Ala ABG segala.


"O ya, aku lupa"


Azam memotong buah apel di meja.


"Azam?"

__ADS_1


"Hm"


Seruni mengupas semangka sembari melirik Azam ragu. Tetepi ia ingin bertanya pada Azam.


"Mengapa kamu tidak berusaha mencari atau setidaknya membicarakan pada Bunda?"


Azam mengehentikan gerakannya, kaku dan tersenyum miring tanpa di lihat Seruni.


"Sudah jelas bukan, kalau itu artinya dia sudah tidak mau bertemu denganku lagi. Dia tidak ingin di temukan!"


Sahut Azam, merasa topik seperti itu tidak baik di bicarakan sepagi ini. Sebab efeknya tak lain ia akan terjangkit rindu, rindu yang parah. Tetapi frustasi tahu bagaimana caranya melampiaskan perasanya yang terbelenggu.


"Sama seperti kamu, gadis manis itu kemana perginya? Padahal aku menyukainya sejak remaja"


Gumamnya, tapi terdengar jelas oleh Azam.


"Bunda suka sekali melihat foto pernikahan kalian, tak pernah bosan meski di pandang berkali - kali. Sebabnya mungkin pangling kamu pakai jas. Tapi ngomong - ngomong siapa yang membuat gaun secantik itu untuk Asha?"


"Dia membuatnya sendiri"


"Benarkah? Manis sekali"


Azam meletakkan buah di atas meja dan menyerah untuk menatanya.


"Aku ingin mengirim Fax sebentar"


Ia hampir melangkah keluar.


"Azam"


Azam menghentinkan langkah, memejamkan mata.


"Bunda menemukan sesuatu di mobilmua"


Seruni meraih jemari putranya, menyelipkan benda kecil yang familiar bagi Azam.


Azam membeku tanpa melihat genggamannya.


"Bunda ingin memiliki menantu seperti dia, Azam. Tolonglah, temukan dia dan berikan gelang ini. Bawa dia pulang ke rumah, rumah kalian sesungguhnya"


Azam menghembuskan napas lelah, jauh dalam hati kecilnya ia pun menginginkan hal demikian. Seruni meyakinkan dengan sebuah senyum milik seorang ibu, yang ingin melihat anaknya bahagia.


"Kamu bisa memulainya dari awal, sama seperti Bunda. Kamu tidak bisa mengubah takdir, maka belajarlah menerimanya. Namun kamu bisa mengubah nasib, maka berjuanglah untuk mendapatkannya"


Azam luluh, menghadap pada Seruni dan meraih tangannya.


"Yah, aku berjanji. Ketika semuanya sudah tepat, aku akan mendapatkannya. Sekali masuk dalam hidupku, dia tak akan bisa meninggalkannya"


Azam tersenyum mencium tangan Seruni dengan sayang.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku"


Seruni mengangguk.


"Kita seharusnya melempar kalimat yang sama, nak!"


*Hayyy...tunggu episode mendebarkan pertuan Azam dan Asha...


Tetep beri hadiah...😙*

__ADS_1


__ADS_2