
Bismillahirrah Maanirrahiim
Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidinaa Muhammad
Wa'alaa 'Alih Sayyidinaa Muhammad.
Azam tak menyangka, jika pertemuan singkatnya bersama Asha memberikan dampak yang begitu hebat. Bayang wajah manis itu terus menari di ingatannya. Jika Azam masih gusar dengan perasaannya, lain halnya dengan Sam yang tau betul jika anak buahnya yang satu itu sedang mengalami dilema, tapi dia tak cukup kuasa untuk mencampuri segala urusan Azam.
"Dia putri dari Letnal Kolonel Iqbal Dirgantara. Orang tuanya marah besar saat mengetahui putrinya menjadi salah satu tawanan para penjahat itu. Hari itu juga, gadis itu di bawa paksa oleh keluarganya kembali ke Ibukota."
Sam mematikan cerutunya dan mulai berbicara serius. Ia paham betul suasana hati Azam sedang tidak baik jika dilihat dari banyaknya keringat di dahinya karena bukan dari ruangan yang panas sebab ruangan steril itu di lengakapi AC.
Tak berselang waktu lama, 2 orang perawat datang dengan mendorong Emergency Troiler lengkap dengan seperangkat alat medis di atasnya. Menyapa Azam dengan senyum yang malu - malu. Menjijikkan, Azam malas berinteraksi pada setiap wanita yang menatapnya seperti jalang yang kegirangan.
"Sukur anda sudah siuman. Sekarang biarkan kami memeriksa luka bapak terlebih dahulu..."
Azam acuh, memutar bola matanya jengah. Tak ingin berurusan dengan perempuan - perempuan itu namun itu harus di lakukan.
"Stop...tidak usah...aku bisa melakukan sendiri....!?"
Azam menghentikan tangan perawat itu saat akan menyentuh pengait perban yang berada pada dadanya. Sesekali mencuri pandang pada wajah Azam dengan tersipu malu karena begitu mengagumi ketampannya membuat Azam semakin muak pada mereka dan tak akan sudi jika harus bersentuhan dengannya.
Wanita yang tidak bisa menjaga harga diri sepertinya harus di musnahkan saja dari dasar bumi ini. Tapi lihatlah Asha? Berbalik seratus delapan puluh derajat dengan wanita di hadapannya. Bahkan sekedar mendapat sebuah pujian kotor pun Asha tak akan sudi mendengarkannya.
"Jangan keras kepala. Cepat turuti saja agar lukamu lekas sembuh...!?"
__ADS_1
Azam tak akan mengindahkan seruan Sam, ia malah duduk tegak lalu melucuti segala kabel dan selang yang menancap pada tubuhnya.
"Aku tidak butuh mereka!!! Aku bisa melakukan sendiri...?!"
"Ya tuhan...ada apa denganmu? Setidaknya jangan lepas peralatan itu. Lihatlah dirimu, beberapa jam yang lalu kamu bertarung dengan nyawamu sendiri yang hampir melayang. Lalu sekarang kamu mau bertindak bodoh seperti itu. Apa yang ada dalam otakmu? Dan juga, jangan mempersulit pekerjaan mereka...!!"
Tentu saja mereka para wanita jalang sedang mendapat pembelaan yang luar biasa menurutnya, kemenangan hampir mereka raih. Namun, siapa yang bisa menghentikan manusia berhati kutub itu. Mata hitam jelaganya langsung menghadang tajam kegiatan mereka, tanpa komando lagi mereka akhirnya mundur teratur tak jadi melakukan tugasnya. Sedikit memberi jarak kontak fisiknya, takut - takut Azam akan berbuat lebih nekat. Gurat kekewaan tak bisa mereka sembunyikan lagi. Sedang Sam, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Azam mencoba bangkit dari pembaringannya dan menyibak selimut. Bibirnya sesekali mengeluarkan rintihan dan berdesis menahan sakit, lalu berjalan tertatih meninggalkan tempat tidurnya.
"Heeii...kamu mau kemana....? Bisakah kali ini kamu tidak melakukan hal bodoh lagi...?!!"
Sam hampir kehabisan kesabarannya, kalau menghadapi Azam dan kepala batunya.
"Aku mau ke kamar mandi...!"
"Tidak perlu, aku hanya mengambil air wudlu...!"
Sam bergeming, tak bisa mencegahnya lagi. Air mukanya begitu terkejut, dalam hatinya terus bertanya - tanya.
Oh...Asha, mantra apa yang sudah kamu sematkan pada lelaki batu itu?
"Dramatis sekali..."
Ujung bibirnya tersenyum meledek dan sedikit mengangkat bahunya. Ia benar - benar terkesan dengan perubahan Azam.
__ADS_1
...****************...
Badai tajam memang sudah pergi meninggalkan bumi Talihan namun awan hitamnya masih bernaung disitu. Beberapa rumah sudah kembali berdiri dan kehidupan berangsur normal. Hanya saja yang membedakan mungkin penduduk Talihan yang dulu ramai menjadi sedikit berkurang. Beberapa keluarga ada yang kehilangan anggotanya dan sebagian lagi masih utuh namun tak mendapatkan tempat tinggalnya seperti semula. Kehidupan tak hanya berhenti di tahap ini, penduduk tidak bisa meratapi atau bahkan bersorak akan muribah yang menimpah mereka. Para penjahat itu mungkin sudah meninggalkan Talihan dengan mudah dan menghadapi kehidupan barunya. Tapi bagaimana dengan warga yang masih ada? Apa bisa mereka hidup normal seperti semula seperti tak pernah terjadi apa - apa? Bagaimana kalau suatu saat trauma menghampiri mereka?
Azam, dengan segenggam hatinya yang tak berbentuk mencoba menguatkan diri untuk memberi penghormatan terakhir pada mendiang pak Sodikin. Laki - laki tua yang seratus persen mendukung pemberontakan Azam. Laki - laki lapuk yang sudah berkorban jiwa dan raganya untuk melindungi kesatuan Azam. Laki - laki tua yang mungkin kelak akan selalu menjadi inspirator bagi jiwa Azam yang lemah. Entahlah, dunia ini memang penuh cerita. Manusia berhati mulia harus rela tersingkir dari perannya dan manusia jahat lainnya masih bebas berlenggak lenggok menunjukkan aksinya di atas panggung.
Dengan menaburkan kelopak mawar pada pusara pak Sodikin, Azam berjongkok dan mengusap serta memandang pilu nisan batu yang berukir nama pak Sodikin. Pria itu amat menyesalkan dengan apa yang sudah terjadi, lebih - lebih dengan terenggutnya nyawa laki - laki mulia yang ia hormati. Tapi entah kutukan atau kah anugrah, hatinya kini bergetar dan bersumpah tak akan pernah melepaskan para bandit - bandit itu.
"Sudah - sudah, kita tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi waktu kita penerbangan...."
Sam berdiri di belakang Azam dengan membawa tongkat pembantu serta kebanggannya.
"Beliau begitu banyak membantuku. Tak akan aku biarkan si brengsek itu hidup tenang..."
"Yah aku tahu...kini kita harus berkonsentrasi akan strategi selanjutnya. Ayo....!"
Azam meninggalkan taman pemakan pahlawan dengan berat. Tanpa sengaja ia teringat akan seseorang yang sama rentanya seperti pak Sodiki. Laki - laki yang begitu berjasa dalam hidupnya. Kiyai Lathif, tiba - tiba bayangannya menghampiri ingatan Azam dan membuatnya seketika ingin segera berjumpa dan memohon maaf atas segala kesalahan yang banyak ia torehkan. Abinya tak pernah menuntut apa - apa darinya, namun Azam seperti api yang sulit di padamkan jika harus mengingat masa lalunya. Lukanya kembali menganga saat teringat masa lalunya. Masa lalu yang berhasil memendam racun dalam hatinya selama bertahun - tahun. Bahkan Abinya, Kiyai Lathif tak sanggup untuk sekedar meredakan kobaran itu.
Azam dengan segala dendam hitam yang menyelimuti jiwanya seakan enggan untuk mengikisnya. Bahkan dengan susah bayah ia memupuk dendam itu tanpa ada penawarnya. Kematian pak Sodikin memberikan tamparan keras pada dirinya akan kedua orang tuanya.
Ia harus segera pulang, bertemu dan sungkem dibawah kaki Abi dan Uminya mungkin bisa menyamarkan kekhawatirannya akan kematian yang bisa saja suatu saat menghampiri mereka seperti pak Sodikin. Kiyai Latif dan Nyai Halimah bukan manusia yang anti mati, mereka manusia biasa yang bisa mati kapan saja. Dan akan meninggalankan penyesalan pada jiwa Azam di kemudian hari.
Alhamdulillah...Happy Ramadlan...
Kritik dan saran sangat aku butuhkan ya...
__ADS_1
Tinggalkan jejak juga berupa like...😚