MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#51


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahiim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad


Falcon 900EX itu akhirnya mendarat di sebuah tanah lapang berumput setelah berkejaran selama berjam - jam. Ada gudang seng raksasa yang berdiri di sana. Azam menyiapkan pendaratan darurat, tanpa menunggu persiapan Cristian, Azam keluar dan langsung mengejar kawanan itu tanpa memikirkan jumlahnya yang memang kalah telak.


Bertubi - tubi Azam melesatkan pelurunya seperti orang kesetanan dan berambisi untuk menghabisi Sahrir Tanjung dan orang - orangnya.


"Anjing kalian memang! Anjing!!! Berhenti Tanjung...selesaikan urusanmu dengan ku!!!"


Azam begitu emosial hingga Cris di buat kelimpungan untuk mengimbangi kecepatan berlari laki - laki itu.


"Azam! Berhenti dulu Khairul Azam! Khairul Azam!"


Cris berteriak kencang namun Azam tak peduli.


"Kita harus membuat rencana untuk menyerang sekaligus mempertahankan diri, kita hanya berdua Azam!"


Terang Cristian, Azam menyugar rambut yang berantakan berulang kali.


"Baiklah, apa yang kamu usulkan?"


"Aku akan menyisir bagian kiri gudang dan kamu pergi ke kanan, komunikasi harus tetap terjalin. Kita akan menggunakan kode untuk bertukar informasi!"


"Oke, kita laksanakan sekarang!"


Azam langsung menyusuri gudang seng raksasa itu di bagian kanan.


Ratusan tong bekas pengaspalan objek pertama yang terlihat, Azam menyusuri jalan dengan berjongkon mengikuti alur barisan tong untuk menyembunyikan diri. Gudang itu sangat besar hingga bunyi apa pun akan terdengar nyating disana. Tiba - tiba rentetan peluru menyerangnya, Azam berguling ke belakang karung - karung berisi beras. Azam menyumpah, tidak akan membiarkan seseorang yang melemparkan peluru itu selamat. Ia mengacungkan pistol Hackles dengan menyembunyikan diri di balik tumpukan kardus.


"Keluar kamu bajingan!!!"


Teriak Azam dengan melemparkan pelurunya tepat mengenai pundak laki - laki berbaju hitam.


Tanpa pikir panjang, Azam menyongsong lelaki itu dan memberikan tendangan bertubi - tubi pada tubuh kesakitan itu.


"Dimana kamu sembunyikan bajingan itu? Katakan, cepat!!!"


Leher Azam memutar ke segala arah.


"Tutup mulutmu anak pungut!!"


Tanjung menampakkan batang hidungnya, melempar pisau lipat ke arah Azak sebelum lelaki itu menyadari. Lengan Azam berdarah sebetan pisau itu.


"Bagaimana rasanya, sakit bukan? Sakit mana dengan saat kamu mengatahu kalau kamu hanya seseorang yang di pulung oleh Abdurrahman dari tempat sampah, Huh?"


Azam mengepalkan ke dua tangannya. K,alau begini caranya, buronan itu tak akan sampai masuk ke penjara tapi di habisi oelh tangannya satu per satu.


"Long time no see"


Kata lelaki itu tiba - tiba.


Kalimat itu terngiang - ngiang di pendengaran Azam, seperti lebah yang masuk dan berdengung. Ada apa dengan kalimat itu? Pandangan Azam sesaat mengabur.

__ADS_1


"kamu masih mengingatku bukan, Khairul Azam?"


Azam mencengkeram rambut, kepala sakit bukan main.


"Aku mencari informasi tentang mu, siapa kamu sebenarnya yang selalu nafsu ingin melemparku ke dalam penjara. Ternyata cuma intel bajingan!"


Berang, Azam menerjang tubung Sahrir bertubi - tubi. Adu jotos kepalan tangan Azam dengan wajah Sahrir Tanjung tak dapat tekendali. Lelaki itu sampai batuk - batuk darah akibat rahangnya di tinju Azam.


"Kamu kesetanan, Huh?"


Sahrir mencoba menahan hajaran Azam.


"Kamu tak suka melihatku?"


"Aku ingin menghancurkan wajahmu!"


Sahut Azam dingin, nafasnya yang berat menggantung di tenggorokan.


"Long time no see, my little brother"


Lelaki itu menepuk kaos Azam yang terkena darahnya.


"Kamu memang sinting Sahrir! Pantas menjadi pecundang!"


"Abang, begitu harusnya kamu memanggilku. Tidak peduli seberapa buruk sikap ku padamu sejak dulu, panggilan itu selalu kamu sebutkan padaku!"


Kepala Azam sakit di isi banyak suara aneh yang berseru - seru, kini di lengkapi visualisasi.


"Aku mencarimu selama bertahun - tahun, sampai aku menemukanmu di wonogiri. Bajingan tengik, kenapa kamu sampai jadi intel, Huh? Kamu tidak tahu, seberapa keras aku melindungi namamu dari Samsyudin Bahar!Kamu tidak tahu kan? Dia adalah ayah kandungmu yang selalu menginginkan nyawamu! Sekarang aku ingin membunuhmu!"


Azam melepaskan cekalan pada leher sahrir, kepalanya semakin keras untuk berpikir. Semua terasa seperti bom molotov yang siap meledak. Nama Syamsudin Bahar seperti tidak asing dalam pendengarannya. Tak asing, nama itu seperti sering terucap kala visual sepasang suami istri sering bertengkar hebat.


"Cukup, hentikan!"


Kini visual wanita merangkak di tepi jurang menangis dan memohon agar Azam segera pergi jauh.


"Aku tahu kamu mati, tetapi aku bersikeras mencari jejakmu. Aku tidak mengerti? Katakan kalau kamu tahu, mengapa aku peduli padamu!"


Sahrir terengah, lelah dengan semua yang terjadi.


"Karena aku adalah Abangmu"


Azam mengerung, kepalanya sakit. Namun Sahrir terus mengoceh.


"Kamu paham itu. Kamu bukan Khairul Azam. Kamu Gilang Panji Wiratama, berbeda ayah dengan ku namun ibu kita sama"


"Hentikan, kepalaku sakit! Bangsat!"


"Aku memang tidak setuju saat kamu menerima perjodohan yang seharusnya untukku. Aku juga selalu membecimu sejak dulu karena kamu adalah saudara tiriku, namun aku lebih membenci saat tahu nyawamu menjadi incaran Bahar. Tapi kalian malah mengira akulah penyebab matinya keluargaku ke dalam jurang itu! Kamu terkejut bukan? Aku lebih memilih bekerjasama dengan Bahar demi menghilangkan jejakmu. Bangsat, aku ingin membunuhmu sekarang juga!"


"Sudah cukup!!"


"AWAS!"


Azam teguling ke lantai, lengan Sahrir mendorongnya saat mendengar suara tembakan dari lorong itu. Seseorang menghadiahkan tembakan pada Azam, namun peluru itu malah menembus perut Sahrir sebab ia ingin melindunginya.

__ADS_1


Sahrir terlentang, memegangi perutnya yang bersimbah darah.


"Bangsat"


Azam meraih pisau Sahrir lantas melemparkan pada si penembak. Laki - laki itu tersungkur lantas di hujami Azam dengan ujung pisaunya. Azam kesetanan, ia terus mengulang tusukan itu lalu pisaunya jatuh ke lantai hingga berdenting.


Azam kacau seperti pemukiman yang habis di terjang banjir bandang. Tertatih ia menghampiri Sahrir, mendapat sambutan senyum kecil yang judes.


"Ingatanmu sudah kembali, dik?"


"Aku tidak ingin mengakuinya"


Sahrir tertawa cemooh, tawa riang setelah berpisah dengan adiknya selama bertahun - tahun.


"Aku bukan kakak yang baik, aku terlalu pengecut untuk melindungimu. Ibu kita!"


Azam memejam, mengambil napas untuk mengontrol emosinya.


"Tutup mulutmu, helikopeter akan segera datang dan membawamu ke rumah sakit!"


Wajah dan suaranya datar, namun Azam tak bisa membohongi dirinya atas cermin yang ada di hadapannya.


"Tetapi aku senang bisa bertemu denganmu lagi yang bisa menenangkanku dengan sisi yang berbeda!"


"Jangan bicara lagi, kamu kehilangan banyak darah"


Azam meraih kain apapun untuk menyumbat darahnya.


Tubuh Sahrir mengejang, lengannya mengepal menahan sakit.


"Sampaikan salamku untuk istrimu"


Bisiknya pelan, tipis seperti kabut yang menyelimuti ruangan itu. Lalu tubuhnya tak bergerak lagi.


Azam terduduk di sampingnya, tak punya tenaga untuk bergerak. Sahrir Tanjung merelakan nyawanya demi adiknya.


"Kamu menyedihkan Sahrir, lebih menyedihkan dariku. Apa yang kamu pikirkan sampai rela menukar nyawamu"


Azam menikmati setiap kekacauannya.


Suara helikopter di luar sana, tapak kaki - kaki mulai merasuki ruangan.


"Khairul!!!"


Sam berlari menghampirinya, tertegun melihat mayat Sahrir terbujur di sampingnya.


Azam mengangkat wajahnya, berdiri memandang Sam dengan wajah penuh tekad.


"Aku akan membunuh bajingan itu, ini semua salah meraka"


"Tenang dulu Khairul, kamu juga harus berpikir jernih. Khairul__?!"


Azam berlalu seperti singa pemburu, hilang dalam sekejap dari pandangan Sam.


Ayo..hadirkan Like dan Coment kalian...karena itu imun untuk author

__ADS_1


__ADS_2