
Bismillah Hirrahmaanirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa 'Alihii Sayyidina Muhammad
Bukan sekali atau dua kali peristiwa itu terjadi dalam satu minggu ini. Berkali - kali Asha harus menelan ludah beserta kepahitannya yang tiba - tiba menyerang. Asha tak menyangka, ternyata liburan semesternya kali ini sangat tidak menyenangkan.
Hari - harinya berjalan begitu lamban dan menyiksa kala setiap waktu mereka tak sengaja berpapasan di jalan, tak senyum apa lagi sapa. Mereka persis orang yang tak saling mengenal. Apakah pemuda itu mengalami gagar otak akibat peristiwa di Talihan? Lalu apa yang di harapakan dari putra seorang Kiyai besar Abdurrahman Lathif seperti Azam? Yang sifatnya kasar dan sekeras batu? Di tanya dengan lembut? Di sapa dengan manis? Asha, tolong berhentilah berharap akan sesuatu yang tidak mungkin.
Gadis itu menghela nafas panjang, jadi di kemanakan perasaanya untuk Azam? Asha tidak tahu...tapi ia ingin tahu.
Setelah seharian penuh Asha melakukan kegiatannya, mengajar sastra arab, Muroja'ah sedikit hafalannya. Hampir setiap malam Asha cuma menghabiskan waktunya untuk melamunkan Azam. Tujuannya ke pesantren ini seakan musnah seketika. Azam dengan sadar sudah mengambil porosnya, menjugkir - balikkan dunianya hingga berhamburan kemana - mana. Tak tahukah Azam kalau kehadirannya begitu membekas pada diri Asha?
Gadis itu mengetuk - ketukkan bolpoin di atas meja kayu dimana tempat ia menyusun soal - soal baru ulangan harian besok. Kelambu jendelanya di biarkan sedikit terbuka hingga menampilkan pemandangan pesantren yang alami itu. Sejenak Asha tergoda untuk menyusurinya seorang diri, mungkin dengan begitu kegundahannya sedikit terobati.
Setelah memakai sweter, ia mulai menyusuri jalan setapak. Tiang bambu dengan lampu bohlam warna kuning di bawah piringan menaungi sepanjang perjalanannya. Angin dingin yang berasal dari danau berhembus lembut membelai gaun serta kerudungnya.
Asha berjalan seperti orang bingung. Dengan jalan - jalan seperti itu pun ternyata tidak bisa mengalihkan pikirannya tentang pertemuannya dengan Azam yang begitu ia damba - dambakan namun berakhir kecewa. Asha malah teringat saat ia menyusuri hutan Talihan bersama. Apakah Azam masih menganggapnya gadis yang merepotkan hingga ia tak mau dekat - dekat atau berbicara dengannya?
Tiba - tiba gadis itu terkesiap.
"Siapa disana...?!"
Asha tegang sembari melangkah, bukannya mundur ia justru lebih mendekati danau mencari sosok bayangan hitam yang tadi melintas disana. Harusnya Asha tidak perlu penasaran atau bahkan menyelidiki. Tetapi apa sih yang bisa terjadi di dalam pendok pesantren Askhabul Kahfi? Penyusup, pencuri atau bahkan orang jahat lainnya? Asha bersumpah ia tak akan menemukan apa - apa disana kecuali Karma.
"Siapa disana?"
Ualngnya, namun tak ada pergerakan sekecil apapun sebagai balasannya.
"Astahfirulloh...?!"
Sandal tipisnya menyapu rumput licin yang beralaskan tanah yang lunak. Gadis itu memejamkan mata dan bersiap menerima benturan sekecil apa pun. Namun itu tak terjadi, sebab tubuhnya seperti tertahan di udara. Terlebih saat ia merasakan tangan kokoh sudah menarik lengannya, menyelamatkan Asha dari cedera ringan yang mungkin akan di terimanya.
Sialnya tangan itu terlalu kuat saat menariknya dan malah membuatnya jatuh kedalam pelukan penolongnya. Gadis itu terkesiap dan secara reflek mencari sesuatu untuk berpegangan. Kembali terkesiap saat ia menyadari punggung yang ia raih sedang bertelanjang dada, dari rambut menetes - netes air ke bahu Asha.
"Ceroboh..."
Bisikan kasar itu merasuki pendengaran Asha. Secara inplusif ia melebarkan kelopak matanya. Hanya mendengar suaranya saja sudah bisa membuat tubuh Asha mendadak membeku. Sesaat Asha merasakan tangan lelaki itu mencengkeram pinggulnya, bergetar.
Cepat - cepat Asha melepaskan pelukan itu saat menetapkan pijakan kakinya. Jantungnya berdegup berirama kala mereka bersitatap, Azam berdiri di hadapannya dengan rahang yang kaku. Secara kilat, laki- laki itu sudah memakai kaosnya yang sebelumnya di ikatkan di pinggangnya. Azam mengusap wajahnya yang masih basah, menyembunyikan sinar mata yang beberapa saat lalu dirasakan Asha sangat berbeda.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan disini?"
Tanyanya garang, tidak akan membiarkan Asha berpikir jernih akan tragedi barusan.Gadis itu gelagapan, belum bisa meredakan keterkejutannya.
" Ak-aku...aku sedang jalan - jalan..."
Ucapannya terbata - bata, mencoba jujur namun gagal.
"Di jam dua pagi?!"
"Ya".
Wajah Asha merona malu, bibirnya membuka menutup karena bingung.
"Di wilayah pemandian santri putra?!"
Azam memandangnya seperti gadis terbodoh sedunia.
Gadis itu terkejut bukan main, memandang sekeliling untuk meyakinkan dirinya lalu memejamkan matanya dengan resah. Apa - apaan ini, kenapa ia bisa berjalan sampai disini?
"Kamu berjalan - jalan di area pemandian santri putra nona, di jam dua pagi".
Katanya mengulang, pengucapannya seperti mencemooh. Menyilangkan kedua tangannya dan menatap Asha lamat - lamat. Gadis itu bergerak gelisa di tempatnya.
Azam mencondongkan tubuhnya menatap Asha dengan penuh selidik. Ia sengaja memperhatikan air mukanya dengan begitu dekat. Beberapa saat kemudian menjauhkan beberapa senti lalu seperti menemukan subuah kemenangan.
"Ah...aku tau. Pasti kamu sengaja ingin bertemu denganku kan, Asha?".
Asha membuka bibirnya namun tak ada satu pun kata yang mampu ia ucapkan.
"A-Aku...".
"Yah...katakan pembelaanmu!".
Azam semakin berani merangsek maju, matanya berkilat - kilat karena marah dan rindu. Bagaimana ia dengan mati - matian menjauhkan dari gadis itu. Tapi ia malah muncul di hadapannya dengan rupa secantik bidadari.
"Apa kamu berjalan sambil memimpikanku?"
"Apa?! Jangan berpikir macam - macam. Aku hanya...!"
Asha berpikir keras, tangannya mencoba mendorong tubuh Azam. Namun pemuda itu mendadak berubah menjadi sekeras batu.
__ADS_1
"Ak - aku tidak tahu kenapa sampai disini. Aku tidak tahu?!"
Serunya frustasi karena Azam mendesak - desak terus.
Azam diam memandang wajah merah Asha, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya.
"Baiklah, terserah alasanmu apa. Ayo aku antar kamu ke penginapan. Siapa tahu kamu akan tanpa sadar masuk ke bilik santri putra? Atau lebih parahnya malah masuk kolam ikan gurame!".
Asha tidak menjawab, wajahnya sudah sangat merah seperti tomat yang kelewat masak.
Mereka berjalan dalam diam,suasana canggung itu malah membuat Asha semakin tidak nyaman.
"Kenapa kamu bersikap seolah kamu tidak mengenaliku?"
Gerah kalau perjalanan ini hanya di isi dengan kekosongan. Lagi pula seorang gadis memang membutuhkan penjelasan, bukan?
"Tidak usah bertanya, itu urusanku...!".
Jawabnya ketus.
Asha menatap punggungnya dengan tidak suka. Ingin sekali ia berteriak bahwa jawaban Azam sangat penting baginya. Biar Asha tidak di musuhi pemuda itu, dan juga menjadi tolak ukur apakah ia harus mengubur dalam - dalam perasaannya atau tidak.
Asha terdiam 5 menit, mengamati keseluruhan pemuda itu. Bagaimana keadaannya setelah ia tertembak banyak peluru? Seberat apa penderitaan yang Azam tanggung demi melindungi dirinya?
"Apakah kamu terluka begitu parah...? Maksudku, kamu tertembak waktu itu. Sebenarnya aku ingin sekali menemuimu, tapi...!"
Asha benar - benar dibuat kelimpungan kalau berbicara serius dengan Azam.
"Aku tau, jangan bicara lagi!"
Tetap saja judes.
"Aku ingin mengucapkan terimah kasih..."
"Aku tau..."
Potongnya keras.
Tidak, Azam tidak akan tau seberapa dalam Asha merindukannya. Setiap jawaban Azam malah semakin menyakiti hati Asha. Sebegitu tidak sukanya kah Azam padanya? Asha ingin berhenti berjalan lalu menangis saja.
Heiii...masih penasaran gak sama cerita doble A (Asha & Azam)
__ADS_1
Like...like...like...