
Bismillahirrahmaanirrahiim
Allahumma Shalli'ala Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad
Tak ada yang lebih menyembuhkan selain waktu dan shalat. Azam merasakan khasiatnya betapa gabungan keduanya sukses menyulam luka - lukanya dan tak lagi compang camping. Kehadiran Seruni membuat jarum hidupnya kembali berfungsi. Kehadiran Seruni membuat orientasi Azam hidup kembali.
Azam memutuskan berdamai dengan masa lalunya, meninggalkan dukanya dan melempar kebenciannya ke dalam jurang. Dia ingin hidup berbahagia seperti orang - orang pada umumnya. Azam merelakan semuanya dan menukarnya dengan sesuatu yang lebih baik.
Dulu Azam tersiksa dan terkekang sebab ia tak ikhlas menerima takdir. Takdir dan nasib adalah dua hal yang berbeda. Takdir ialah putusan mutlak yang di kehendaki Allah, tetapi manusia tak pernah di nasibkan berada di tempat yang selalu sama. Mereka memiliki kaki untuk berlari, namun jika tak mampu merangkaklah. Demi hijrah.
Azam berdiri di depan cermin, dasi menjutai di sisi leher. Azam terlalu menikmati dimana angannya mengelana jauh, menjangkau bayang semu yang tak pernah sejengkal menyingkir dari benaknya. Ya, Asha satu - satunya rantai yang membelunggu. Sedang kuncinya di buang jauh ke pulau tak bernama. Membuatnya terkungkung tanpa ada jalan baginya melepaskan diri. Asha mencuri segalanya dan membawa separuh hatinya.
"Harusnya kamu yang melakukan tugas ini!"
Azam bergumam.
Tiga tahun tak cukupkah baginya waktu untuk mengakhiri? Azam tersenyum miris, betapa pun ia berteriak ke penjuru dunia, Asha tak kan pernah muncul. Wanita itu menghilang, mutiara yang jatuh ke dasar laut mustahil di temukan. Tetapi setidaknya Azam sudah pernah mencoba mencari, menyelam dan pada akhirnya kehabisan napas. Memilih kembali ke permukaan dan berniat melupakan mutiara itu.
Kemudian, suara lembut di balik punggungnya membuyarkan segala lamunannya.
"Bagaimana trikmu menghadapi ujian semester genap ini?"
Azam melihat sosok Seruni di balik pantulan kacanya, tersenyum indah dan berlesung pipi merupakan obat mujarab bagi Azam.
"Tidak ada trik khusus, semua berjalan seperti aku memulai. Sebab aku percaya, Allah menganugerahi mereka kemampuan bertindak dan mencerna. Aku hanya penyampaiannya saja"
Seruni mengangguk memakaikan dasi Azam seperti biasanya.
"Semoga Allah senantiasa melancarkan segala urusan - urusanmu"
Dan Azam percaya sebesar apa mustajabnya do'a seorang ibu.
Transformasi Khairul Azam yang sangat signifikan. Azam sekarang mengajar di sebuah Universitas ternama di Jakarta. Di fakultas Ushuludin, Azam di percaya mengajar ilmu Tafsir dan Hasdist. Sembari ia menempuh pendidikan S3 dengan mengambil jurusan ilmu Kalam di UIN Sunan Ampel, tak heran jika ia mengemudi jeep rute Jakarta - Surabaya seminggu 2 kali.
Azam memilih masa depannya. Seperti kata Seruni; hijrah, kepada yang kamu yakini sebagai jalan menuju keridloan Allah. Azam tak ingin lagi mendustakan waktu, semua harus berjalan sesuai fitrah di lahirkannya manusia ke bumi.
Sekarang Azam bukanlah anggota intelejen yang membawa pistol, kini ia selalu membawa tas ransel yang berisi Laptop dan buku - buku. Juga sebagai bahan ajar. Azam di kenal sebagai dosen muda yang fashioneble, terima diskusi terbuka dengan mahasiswa, jenius, dan sikap tegas judesnya itu tak bisa luntur sampai kapan pun. Dingin tetap menjadi bagian dalam dirinya, Azam hanya tak suka bagaimana orang - orang mencoba menarik perhatiannya. Meski namanya menjadi salah satu staff pengajar terfamous di kalangan mahasiswa wanita, tidak membuatnya senang sama sekali.
__ADS_1
Sebuah fakta bahwa Azam memiliki titel Magister Management dari United State membuat banyak orang geleng - geleng. Mereka menyayangkan pilihannya padahal dengan bekal itu Azam bisa menjadi seorang Direktur utama di perusahaan internasional, atau mampu mendirikan usahanya sendiri.
Azam melalui perang batin meninggalkan kesatuannya dan menerima tawaran Abi mengajar di sebuah Universitas. Tentu saja keputusan penting itu tak diambilnya begitu saja, Azam telah melalui shalat istikharah beberapa kali untuk meyakinkan keputusanya.
Pagi ini Azam menyetir sambil di temani Murattal Syeikh Mishary Alafasi Musshaf. Menyisiri surah demi surah dalam kitab suci, sesekali ia ikut mengalunkannya. Sembari menyetir, Azam menekan nomor Elhakim. Mengonfirmasikan sesuatu yang telah di pertimbangkan semalaman suntuk.
"Ya Bang?"
Suara Elhakim terdengar jelas.
Azam memakai headsetnya.
"Pulanglah Hakim, kamu tak perlu mencarinya di pelabuhan. Aku akan mengabari Hamzah untuk menghentikan pencariannya di setiap bandara dan stasiun kereta api"
Tak ada sahutan, hening selama beberapa detik.
"Hakim? kamu mendengarkanku?"
Suara Elhakim terdengar melemah.
"Bang aku sudah berjanji akan ikut membantu, aku akan menemukannya___!"
Tegas Azam, namun suaranya tetap bersahabat.
Helaan napas panjang terdengar, Elhakim tahu betul betapa inginnya seorang Khairul Azam menemukan istrinya kembali. Dia ingin membantu sebagaimana Azam telah banyak membantu kesulitan keluarganya.
"Betul Bang, ketika kamu memintaku untuk memilih pilihannmu maka aku melakukan dengan senang hati"
"Aku tak akan memilihkanmu, Hakim. Karena aku bukan petunjuk yang bisa mengarahkanmu dengan baik. Tapi aku yakin, kamu menjadi yang terbaik di kesatuan. Entah esok atau lusa kamu akan menggantikan posisi ayah tiriku".
Azam mendengar Elhakim tertawa kecil di seberang dan mengucapkan terima kasih banyak - banyak.
Hakim berdehem saat Azam memintanya pulang.
"Bang, ingatlah bahwa sesuatu yang hilang akan kembali pada saat yang tak di sangka - sangka oleh kita. Kamu mengatakannya padaku di antara reruntuhan rumahku yang terbakar. Aku hanya ingin Abang tak berhenti berharap"
"Yah, kamu berhasil membuatku nampak sentimentil Hakim. Sekarang cepat kemasi barangmu dan kembali ke kesatuan"
Lalu sambungan itu tertutup kala Hakim menyanggupinya, menyisakan hati Azam yang kosong karena permintaannya sendiri.
__ADS_1
Sanggupkah Azam berhenti? Berhenti, melupakan Asha. Azam mencoba tetap berkhusnudzon terhadap masa depan yang masih berupa bayang - bayang.
Setelah mengemudi hampir 2 jam, akhirnya Azam sampai di parkiran kampus. Sekilas pria itu melirik alroji lalu meloncat turun dari jeepnya.
"Mas Azam!"
Azam memicing dekat fakultas Tarbiyah karena sengatan matahari.
Alif, mahasiswa Tafsir Hadist semester 6 berlari menghampiri dirinya. Melambaikan beberapa kertas.
"Mas, ini loh lembaran seminar tempo hari yang anggota LDM diskusikan; Soal pentingnya hijab yang syar'i bagi wanita muslim. Seminar terbuka untuk semua kalangan, baik itu mahasiswa atau kalangan pelajar menengah. Kami sudah menyebar Pamfletnya"
Azam membaca lembaran itu, mengangguk.
"Lalu?"
"Kami ingin mengundang mas Azam dan pak Dekan lll sebagai pengisi acara dan penanggung jawab acara. Kebetulan mas Azam penyumbang pikiran dalam penyusunan ini. Besok hari selasa jam 8, bukan acara mas Azam traveling ke Surabaya kan?"
Azam mengizinkan beberapa mahasiswa terdekatnya memanggil demikian, bahkan beberapa yang paling dekat menyapanya dengan Bang.
"Tidak, tapi aku ada acara diskusi dengan prof. Yasin besok siang"
Azam memeriksa agendanya.
"Yah...padahal acaranya bakal sukses besar kalau mas Azam ikut berkontribusi"
Azam berpikir.
"Akan aku kabari keputusannya siang nanti"
Wajah Alif berseri.
"Baiklah pak Dosen, kami menunggu kabar baik dari anda. Semoga hari anda menyenangkan"
Azam tersenyum tipis saat Alif meninggalkannya.
Azam mengetahui cara menyenangkan orang lain, belajar mendengarkan apa yang mereka inginkan dengan sungguh - sungguh. Evolusi yang menajubkan betapa pun sulitnya ia memulai.
Tetap like dan coment😙
__ADS_1