
Bismillah Hirrahmaa Nirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa 'Aalihi Sayyidina Muhammad
Asha dan Alifah sedang memberi makan segerombol ikan gorame lapar yang menyebul - nyembul pada permukaan air kolam. Memandang air dingin dan ikan di dalam kolam memang bisa membuat pikiran menjadi tenang dan ceria.
"Mbak Asha adalah contoh wanita dengan kualitas yang sempurna. Pandai ilmu agama dan mudah bersosialisasi. Aku ingin belajar banyak dari mbak Asha. Namun sayangnya waktu kita sudah habis....?!"
"Subhanallah...tulus sekali ucapanmu Al dan terima kasih atas pujianmu, tapi kamu lupa bahwa aku juga manusia biasa yang dekat dengan khilaf dan kesalahan..."
Alifah pindah ke samping Asha dengan sedikit berhati - hati karena lumut yang mereka injak sangat licin.
"Iya sih manusia memang tidak bisa terlepas dari kesalahan dan dosa, tapi wanita adalah Ummul Ummah dan mbak Asha termasuk dalam golongannya sebab mbak rela berjuang memberikan kami pengetahuan di era krisis ilmu saat ini...!"
"Apa pun itu Shukron Alhamdulillah Al, semoga pujiannmu bisa menjadi do'a dan tidak akan membuatku melambung. Mbak akan selalu mendo'akanmu agar kamu menjadi wanita shalihah dan berbakti kepada orang tua...?!"
Ucapan itu di amini Alifah.
"Oh ya mbak, kapan mbak Asha wisuda...?"
"Insha Allah bulan depan Al..."
"Lalu...mbak sudah bisa buka praktek dong!"
"Tidak semudah itu Al, mbak masih ingin banyak belajar. Ada tawaran bekerja di sebuah Rumah Sakit, tawaran yang menggiurkan bagi mbak. Sebab selain aku bisa menyalurkan sedikit ilmuku ini, aku juga bisa menolong sesama manusia. Bukankah sebaik - baik manusia adalah manusia yang bisa bermanfaat untuk lainnya?"
Alifah semakin dibuat kagum oleh tutur kata lembut yang keluar dari mulut Asha.
"Kenapa mbak ingin jadi dokter?"
"Sejak kecil mbak selalu bercita - cita ingin menjadi dokter. Mengobati orang sakit atau orang yang sedang terluka. Keinginan itu muncul begitu saja, tanpa ada dorongan dari siapa pun. Lantas mbak tidak ingin kehilangan cita - cita, saat SMA mbak selalu menekuni ilmu yang menjurus pada kedokteran. Seperti pelajaran Biologi, Kimia, atau Matematika. Syukut Alhamdulillah, semua seperti dipermudah oleh Allah. Mbak tidak ingin menyia - nyiankan kesempatan yang sudah diberikan Allah, tentunya kekuatan do'a adalah yang paling utama...!"
Alifah memandang gadis cantik yang ada di sebelahnya itu tanpa menyembunyikan binar kekaguman.
"Kalau Alifah nanti sudah lulus dari pesanten, orang pertama yang Al cari adalah mbak Asha. Al ingin melanjutkan pendidikan, tentu atas bantuan teori - teori dari mbak Asha...!"
__ADS_1
Alifah selalu bisa membuat Asha tersenyum dengan energi positifnya.
"Tanpa Alifah minta pun, pintu rumah mbak akan selalu terbuka untukmu Al...!"
"Jazaakulullahu khoiron mbak...!"
Gadis itu mengangguk,Asha tersenyum sambil menyebar popen ke penjuru kolam setelah kepergian Alifah karena kewajibannya sabagai santri. Setelah membuat janji dengan Alifah kalau Asha tidak boleh pergi dulu sebelum bel pelajaran terakhir berbunyi. Lagi pula Fahmi masih berada di pejalanan menuju Pondok Pesantren Ashabul Kahfi, ia harus menikmati detik - detik terakhirnya.
"Kata Abi kamu akan pulang hari ini?"
Asha mengucap istigfar dengan suara Azam yang hampir menceburkannya ke dalam kolam ikan. Asha tak mau menengok, gadis itu tau Azam berada di belakang punggungnya. Takut jika keputusannya untuk pulang dua minggu lebih awal urung terlaksana, karena sesungguhnya Asha sudah pasrah dengan perasaan dan hubungan mereka ke depannya.
"Iya...aku sedang menunggu Fahmi...!"
"Kenapa kamu ingin pulang mendadak...?"
Suara Azam seperti datang dari dimensi lain, mana mungkin sampai hati Asha melupakannya.
"Kamu tak mungkin melanjutkan proyek yang di Telihan bukan?"
"Ada sehelai daun jatuh di atas kepalamu..."
Katanya sambil menunjukkan daun itu. bersama mereka mendongak menatap ke arah pohon yang sudah menggugurkan daun - daunnya. Seakan mereka memiliki ikatan tak kasat mata, keduanya saling berpandangan menyalurkan rasa yang jauh terpendam.
"Kamu mudah sekali tersenyum Asha, membuatku iri akan hal itu. Mengapa kamu mudah melakukannya?"
Asha membalas dengan menarik sehelai daun kering yang bertengger di ujung rambut Azam, lalu menggenggamnya seolah daun kuning itu adalah hati dan kebahagiaan Azam.
"Sebab aku memiliki cinta..."
Sekali lagi Azam seperti batu yang hancur karena pelapukan cuaca.
"Apakah menurutmu cinta itu penting...?"
"Ya...penting sekali seperti Bismillahirrahmaanirrahiim...!"
"Maksudmu diawali Basmalah dan di akhiri Shadaqallahul'azdim...?!"
__ADS_1
Asha tau bahwa pribadi Azam yang sulit tersentuh cinta, maka jelas saja mata madu gadis itu menyipit. Nada bicara Azam sungguh tak bisa di toleransi. Azam sebagai orang muslim tidak mengerti akan kemaslakhatan atas sesuatu yang ia benci. Seperti obat pahit yang di tetapkan oleh Allah mengandung kesembuhan. Tabiat Azam harus tetap di beri tahu dengan pelan - pelan. Baik dalam menyalurkan fakta maupun opini, pemuda itu harus tetap merasa di hargai.
"Saat kita akan makan, ucapkan Basmalah. Sebelum tidur, ucapkan Basmalah. Hendak berwudlu juga ucapkan Basmalah, bahkan saat seorang muslim meminang kekasihnya juga harus di awali Basmalah sebelum melafalkan ijabnya. Maka itulah wujud dari cinta kita kepadaNYA, dengan Basmalah. Basmalah mengiringi segala perbuatan baik Azam...!"
"Mama banyak menceritakan kisah dan pemikiran bijak kepadaku, salah satu yang ku ingat betul adalah kisah Muhammada Ibrahim Mubarrak menyimpulkan apa yang disebut dengan cinta ialah perasaan di luar kehendak karena daya tarik yang kuat terhadap seseorang..."
Asha menarik nafas dalam sejenak sambil mengangguk - angguk.
"Hmmm...mungkin itu definisi paling rasional akan perasaan cinta..."
Senyum Asha tiba - tiba memudar saat menyadari tatapan Azam yang begitu intens padanya.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?"
Azam mengedikkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya.
"Tidak...,tidak apa - apa!"
Azam yakin bahwa gadis itu tidak akan pernah tau jika sesungguhnya Asha sudah pelan - pelan menggiring jiwanya kembali kepada cahaya.
"Daun aspen juga termasuk salah satu hal baik yang Allah tanam di dunia ini. Cantik sekali kan?"
Asha mengulurkan telapak tangannya hingga daun aspen itu terjatuh, senyumnya merekah.
"Cantik..."
Azam sepakat Asha Azzaliyah Zahrah secantik lukisan alam.
Husain Fahmi ada disana, melihat dan mendengar langsung interaksi antara sepupu dan temannya. Cangkir di tangannya mendadak bergetar, namun hatinya lebih terguncang. Mata dibalik kacamata itu terpejam dan mencoba menenangkan hatinya. Mengapa terasa sakit sekali saat mendengar pembicaraan tentang cinta yang tulus itu mengalir diantara mereka?
Fahmi mencengkeram di mana jantungnya berdetak, jika ia tetap berdiri sebentar lagi maka ia tak yakin akan mampu untuk bertahan. Fahmi akhirnya merasakan bagaimana pahitnya patah hati. Cintanya harus kandas bahkan sebelum ia sempat memulai.
"Semua itu berasal dari hatiku dan aku tak bisa melawannya, Asha. Aku memilih mencintaimu beserta kekhawatirannya. Dan kini aku sudah berkeping - keping karenamu..."
Happy Ramadhon reader's...kalian ikut timnya siapa nih?Azam atau Fahmi?
Like...like...like...
__ADS_1