
*Bismillahirrahmaanirrahii**m*
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa'alihi Sayyidina Muhammad.
"Singkirkan tanganmu dari tubuhku!"
Bisikan Azam mengancam, pemuda itu tidak suka jika Asha sampai berpikir macam - macam tentang mereka. Rosalin benar - benar menyulut amarahnya.
Namun nampaknya Rosalin harus di seret ke rumah sakit jiwa, wanita itu dengan berani malah menciumi punggung Azam. Asha memalingkan wajah dengan tangis tanpa suara.
"Ku peringatkan kamu pelacur! Aku tidak akan segan - segan membunuh wanita seperti mu!!!"
Setan, semua persetan! Azam berbalik gesit untuk merebut pistol dari tangan Rosalin dan mengacungkan tepat di dahi wanita itu. Namun detik itu juga semua tertawa menyeringai padanya, tak luput wanita itu pun juga memberikan suguhan wajah mengejek. Azam kalah telak dalam permainan busuk ini, dia membanting pistol di tangannya dengan marah. Tak ada satu peluru pun yang mengisi slotnya untuk ditembakkan pada mereka semua.
"Kalian semua..."
Azam merasa terengah beberapa menit kemudian hingga ia kesulitan berbicara. Pemuda itu merasakan jarum suntik menancap di punggungnya dan ia hafal betul jenis cairan laknat apa yang di berikan padanya.
Detik kemudian ruangan itu menjadi berputar dan orang - orang itu menjadi blur pada pandangan Azam. Pemuda itu tak bisa menahan diri saat kakinya jatuh ke lantai, rasanya panas, tubuhnya seolah menyakiti dirinya sendiri. Semakin panas, keinginannya untuk meredakan panas semakin membumbung tinggi.
Di sudut sana, Fahmi seperti mayat yang tergeletak mengenaskan. Tak ada tanda - tanda dia masih memiliki nyawa. Entah berapa obat yang sudah Steven paksa menjejalkan pada mulutnya agar Fahmi berhenti berontak. Kenyataan bahwa ia tak bisa melindungi Asha membuatnya semakin menyerah atas perintah para bajingan itu. Namun keberadaan Fahmi sedikit terabaikan, karena Azam sudah menjadi poros bulan - bulanan mereka.
Asha mengamati perubahan air muka Azam dengan cemas, wajahnya memerah janggal dengan keringat dingin bercucuran.
"Azam...?"
Asha memanggilnya pelan. Tak di sangka suara lembut gadis itu membuatnya semakin tersiksa. Azam menjadi sangat sensitif hanya karena sebuah suara, panggilan Asha seolah memberi kejutan listrik pada seluruh aliran darahnya. Azam ingin menarik gadis itu lalu mencium dan mencumbunya sekarang juga sebelum dia meledak dan menghancurkan dirinya sendiri.
"Kamu wanita sundel sialan!!!"
Azam menyembur, Rosalin dengan santainya tersenyum dan melangkah mendekatinya.
Nampak puas melihat korbannya semakin tak berdaya, tanpa tahu malu ia membuka satu per satu kancing bajunya di hadapan semua orang.
"Well, kabar baiknya my love. Kita bisa lakukan apa yang tertunda di kamar hotel waktu itu, tapi kali ini harus di depan gadis itu!"
__ADS_1
Rosalin menyentuh rahang Azam dengan jari jemarinya untuk memaksa pemuda itu melirik ke arah Asha yang menangis menyaksikan mereka.
"Azam, ingatlah Allah dan mintalah pertolongan padaNYA. Kamu bisa melawannya!"
Azam tidak bisa mendengar karena tiba - tiba telinganya berubah menjadi kedap suara. Yang dapat di tangkapnya hanya samar - samar suara dari kejauhan yang mengingatnya untuk kembali. Sementara Rosalin hanya menyisakan dalaman baju dan rok saja, wanita itu di berondong siulan nakal dari para penjahat itu kala tangannya mulai mendorong tubuh Azam untuk berbaring di lantai kotor.
"Ya Allah,!"
Asha memejamkan matanya, hatinya sudah hancur berkeping - keping.
"Kamu sudah tidak bisa menolakku lagi sweety...!"
Suara ledakan bom molotov mengguncang bagunan itu. Rosalin jatuh berguling dari atas tubuh Azam hingga kepalanya terbentur tembom, detik kemudian darah mengucur dari pelipisnya. Asap abu - abu menghitam membumbung tinggi menutupi pandangan mata, lantas terjadi hiruk pikuk.
Baku hantam serta pukulan benda tumpul, ledakan di kaki tangga menguncang teriakan Elhakim dan kawan - kawan disana. Dan sosok Iqbal Dirgantara yang mengais tangannya berseliweran di depan hidungnya.
"Asha...dimana Asha?"
"Fahmi...cari Fahmi!"
Azam berusaha keras untuk duduk, di sela kesadarannya pemuda itu merangkak masuk ke dalam kamar sekap untuk memulihkan diri. Suara ribut semakin terdengar keras pasti situasi bertambah ricuh. Tapi Azam malah mendekam seperti orang tolol. Tubuhnya semakin terasa panas dan membakar.
Sialan, kenapa harus Asha yang pertama kali menemukannya? Gadis itu berdiri dengan gaun merah muda cantik yang robek - robek. Tubuhnya terlihat lemah dan Azam tinggal menariknya saja untuk menuntaskan segalanya. Kesakitannya pasti terhenti. Yah, Azam membutuhkan Asha saat ini.
"Azam! Apa kamu baik - baik saja?"
Gadis itu ingin menghampirinya yang sedang menyender tembok penuh kepanikan. Tidak! Asha akan menyesal seumur hidup.
"Stop, jangan mendekat padaku!"
Azam gelisah dan terlihat menderita luar biasa. Efek suntikan itu menyebar cepat ke seleuruh tubuh seperti racun. Nafasnya seperti pacuan kuda liar saat menatap Asha dengan pandangan berkabut.
"Ku bilang Stop ! Kamu tidak akan tau betapa berbahayanya aku bagimu saat ini, Asha...!"
Azam mati - matian menahan desakan dalam dirinya. Tangannya gemetar ketika merogoh sesuatu dari kantung celananya.
"Azam! Apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
Pisau lipat tajam mengkilat itu teracung di depan mata Azam, ujung yang lancip terayun pada lengan pemuda itu hingga spontan membuat Asha menjerit.
"Tidak! Ya Allah, Apa yang kamu lakukan Azam? Allah!"
Azam memandang gadis itu putus asa.
"Ku bilang jangan pernah mendekat!"
Tidak ada jalan lain, efeknya akan berhenti jika Azam melukai dirinya sendiri hingga ia tak sadarkan diri. Azam butuh pengalihan untuk meredam efek sampingnya. Azam mengiris lengan di bawah nadinya. Bahkan luka akan terasa lebih baik dari pada keinginan untuk mencumbu Asha.
"Asha! Asha! Dimana kamu nak?"
Suara Iqbal Dirgantara dan hentakan sepatu militernya bergaung di pendengaran Asha. Seperti mendapat angin segar, gadis itu berteriak - teriak histeris. Hamdalah berulang kali di ucapkan untuk Allah karena sudah mengulurkan pertolongan.
"Disini Pa! Di kamar tengah! Tolong Azam, dia sedang terluka parah!"
Kondisi Dirga yang berantakan, tak sempat berpelukan dengan putrinya. Ia langsung berlari menuju Azam yang berbaring dengan bersimbah darah dan membantu Azam duduk.
"Sex drops jenis apa ini? Siapa yang menyuntikkannya padamu Khairul Azam?"
Seru Dirga kala memeriksa Azam dengan sekali pandang.
Elhakim dan Gading berlari memasuki kamar dan melempar pistolnya.
"Bang Azam!"
Keduanya penuh luka mengerikan, namun tetap mencemaskan Azam.
"Asha, sapu tangan atau apa pun yang kamu punya cepat keluarkan. Ayo!"
Asha kelimpungan mendapat perintah Dirga tiba - tiba, dia tak bawa apa pun.
Azam menahan tangan Dirga, merogoh sesuatu di kantong celananya.
"Aku bawa sapu tangan!"
Asha terpaku, sapu tangan itu adalah sapu tangan yang ia berikan saat Azam terpatuk ular di talihan. Kain itu kaku dan penuh darah kering.
__ADS_1
Azam masih menyimpannya.
Hei..hei...hei..aku up lagi nih. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa Like atau Coment ya? Krisan kalian sangat aku butuhkan...