MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#66


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahiim


Allahumma Shalli'ala Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad


Seminar itu berakhir pukul 11.30 WIB, Azam dengan tergesah menyusuri gedung dakwah yang berupa lingkaran besar. Pada akhirnya Azam berhasil menemukan Asha yang tengah memberesi buku - buku, memunggungi.


"Sha"


Bisiknya menghentikan langkah. Sadar begitu dekatnya ia dengan Asha, betapa tipia jarak di antara ia dan mutiara yang dulu hilang. Sesekali wanita itu tersenyum saat di sapa oleh panitia lain, membalas salam dan berbicara ringan bersama beberapa mahasiswi.


"Asha!"


Azam memanggilnya, membuat wanita itu menoleh. Terkejut, air mukanya langsung berubah. Senyum manisnya mendadak pudar, Azam bisa melihatnya dengan jelas. Asha membuat sekat pemisah yang tak kasat mata agar Azam tak mendekat.


Allah, mengapa Asha bersikap demikian? Azam berjalan mendekati, tapi Asha melangkah mundur. Tergesah dan menyampirkan tas dan melenggang pergi dari hadapan Azam tanpa sepetah kata. Tak ada sapaan, Azam yang bingung dan kecewa berat berusaha mengejarnya.


"Asha! Asha!"


Azam berteriak.


Wanita itu bahkan tidak menggubrisnya, Asha jalan cepat seolah di kejar pembunuh yang ingin menghabisi nyawanya. Asha pergi meninggalkannya, lagi. Tanpa pesan membuatnya di landa bimbang dan gamang.


Alif muncul, menepuk punggung mencegahnya berlari menyusul.


"Aku dan Bang Hamzah hanya ingin membantu. Maaf kalau akhirnya akan jadi seperti ini!"


...****************...


Bumi memandangi matahari lewat kelopaknya yang teduh. Lantas berujar.


"Hanya kamu yang mampu membuatku hangat, matahari!"


Matahari menjawab sanjungan itu.


"Dan hanya kamu pula yang mampu memberiku ruang kosong untukku tetap hidup dan menyinari semesta"


"Lalu?"


Bumi balik bertanya.


Matahari tak buru - buru menjawab, membiarkan dirinya haru sejenak. Sebab ia tahu dengan menangis tersedu - sedu akan membuat bumi bersedih lebih dari ada awan kehilangan hujan.


Karena itu ia tetap tersenyum, menyebarkan kehangatan ke seluruh penjuru. Agar tak ada yang tahu bahwa ia sedang berkorban perasaan demi para pecinta bumi.


"Lalu, apa?"


Matahari balik bertanya.


"Mengapa kamu tidak memperbolehkanku mendekat?"


Matahari berpikir.


"Bumi, biarkanlah ini menjadi rahasia hanya di antara kita berdua. Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu. Sebab itulah aku tetap di sini, tidak berpindah sama sekali. Aku tahu kamu juga mencintaiku, sebab itulah kamu selalu mengelilingiku dan memastikan diriku baik - baik saja. Oh, dan jangan pikir aku tidak tahu bahwa awan yang menggumpal itu adalah suruhanmu agar menyumbat telinga para pecintamu. Supaya mereka tidak mendengar percakapan kita. Aku tahu bumi, aku tahu semuanya".


Koor matahari.


"Lalu?"

__ADS_1


Bumi mengulang pertanyaanya yang sama untuk kedua kalinya.


Matahari memandang berkeliling, mengecilkan suara. Takut bayangan bulan datang menguping.


"Kamu pantas di cintai, kamu memberi banyak ruang kebahagiaan bagi milyaran anak adam hingga mereka mencintaimu dan berterima kasih setiap hari. Aku pun tahu pasti, hangatku sewaktu - waktu akan menjadi kobaran api yang mendidihkan kulitmu. Aku tidak sanggup mendengar para pecintamu balik menghujat dirimu karena aku, aku tak sanggup. Karena itulah biarkan aku berkorban, aku akan membiarkan mereka tetap mencintaimu tanpa harus cemburu bahwa yang kamu cintai selain mereka dan Tuhan kita__adalah aku"


Setelah berkata demikian, matahari pun menutup matanya. Tanpa aba - aba, tanpa peringatan. Dan bumi mendadak gelap karena tak dapt lagi melihat sinarnya. Tetapi akhirnya bumi paham sesuatu.


"Matahari"


Bumi menyapa lembut.


"Bukalah matamu, aku terbiasa melihat sinarmu. Jika mendekat membuatmu di hujat, maka aku pun tak akan rela. Bahkan melihatmu seperti ini membuatku amat nelangsa. Kamu tak perlu khawatir, ternyata yang kubutuhkan bukanlah mendekat. Sekedar melihatmu menyinariku dan membuat kehangatan di tengah hujan salju saja sudah cukup bagiku. Setelah ini, aku akan minta awan - awan kelabu menyingkir agar sinarmu tidak terhalang dan hangatmu menyusupi celahku seperti biasa"


Matahari terenyuh.


"Bumi..."


Bumi tersenyum.


"Aku mengerti matahari, aku akan baik - baik saja kalau kamu pun demikian".


Tetapi ia tak baik, entah Azam. Entah, sebab Asha terlalu egois untuk sekedar tahu. untuk sekedar mencari tahu bagaimana Azam, hatinya dan juga perasaannya.


Asha menutup jurnal hariannya, menangis dengan terguguh. Air matanya jatuh membasahi sampul itu. Tak mampu lagi menulis, meski kepalanya di penuhi berbagai ungkapan atas pertemuannya dengan Azam.


Asha merasa teramat lelah, padahal ketika kesedihan itu menjatuhkan air mata sesungguhnya Allah meminta kita untuk tersenyum. Karena Allah telah menitipkan suka - cita dalam duka - cita.


Namun Asha tak bisa lagi menatap mata kumbang itu. Dulu ia telah memilih, dan pilihan apa pun akan mengubah masa depannya. Lagi pula kini Azam nampak bahagia dan baik - baik saja sepeninggalnya. Tentu ia bukan hal yang perlu di risaukan lelaki itu. Tidak, Asha mungkin sudah jauh terbuang dari kehidupannya. Seperti kabar yang ia dengar belum lama ini.


...****************...


Azam tak ingin memikirkan sedalam apa kebencian Asha terhadap dirinya, Azam hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup mereka yang rumit.


Kemelut yang di pendam jauh - jauh hari ini harus segera di bongkar. Azam tak akan mundur, Asha pendampingnya yang patut ia perjuangkan.


Jarak Jakarta - Madiun tak membuatnya menyerah untuk mengungkap gunda gulananya. Pos TNI Iswahyudi Madiun di jaga ketat oleh beberapa personel bersenjata pada setiap sudutnya. Azam tahu kedatangannya akan menimbulkan kegaduhan, satu dari mereka mengacungkan senjata laras panjang tepat di depan wajah Azam.


"Apa yang membawamu malam - malam datang kemari?"


Azam menunjukkan lisensi bebas aksesnya untuk kalangan militer.


"Aku ada keperluan dengan Arkha Dirgantara"


"Baiklah, tunggu di pos jaga!"


Azam menggeleng, berusaha tetap hormat.


"Aku menunggu disini"


Azam di tinggalkan bersama setengah lusinan tentara yang masih berjaga di setiap sisi mobilnya.


Tak berselang lama, kaca mobilnya di ketuk meski Azam sudah menurunkan. Arkha Dirgantara muncul dengan kaos putih dan celana training menatap penuh kejengkelan.


"Kamu tak punya jam ya, Khairul Azam? 12.10 malam, kamu memang benar - benar gila!"


Hardiknya seenak udel, Azam tak menggubris.


"Masuklah, kamu membuat mereka melotot segera menghancurkanku saja"

__ADS_1


Azam mengedik di luar sana anak buah Arkha berjejer.


"So, apa yang ingin kamu bicarakan tengah malam begini? Kamu tidak lihat mataku, Azam? Biru sehabis jelajah pulau?"


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu"


"Sudah ku bilang aku tidak tahu___"


"Aku melihatnya! Dia kembali, bukankah kamu juga tahu dia kembali!"


Azam menyela.


"Kenapa kamu tidak menghubungiku, Arkha? Aku membiarkanmu menyembunyikannya dan pura - pura tidak tahu. Dan sekarang tidak lagi!"


Arkha tidak membalas, terkesan menantang.


"Aku tahu kamu mengirimnya ke luar negeri!"


"Kamu jangan memancing emosiku, Khairul Azam! Dengar, aku tidak pernah menyembunyikannya. Kepergiannya murni karena keinginannya. Aku hanya memenuhi permintaannya untuk tidak berkata apa pun padamu!"


"Itu sama saja berkomplot. Kamu membiarkanku terus mencarinya seperti orang gila"


Ada nada putus asa yang terselip di kalimat Azam.


"Apa yang terjadi padanya selama 3 tahun terakhir?"


"Apa yang terjadi padamu selama 3 tahun terakhir?"


Arkha balik bertanya.


"Dimana kamu ketika adikku ingin melayangkan surat gugatan cerai? Dimana kamu saat kami mengetahui kamu bukanlah pembunuh Papa? Dimana kamu,Heh Khairul Azam?!"


Tanya Arkha beruntun.


"Kupikir kalian benar - benar putus, nyatanya kalian masih saling mencari. Tidakkah dengan kejadian itu kalian belajar untuk tidak saling meninggalkan?"


"Kamu benar, dan sekarang aku akan mengakhirinya"


Arkha membuka pintu mobil dan melompat keluar.


"Dan sekarang buktikan padaku! Akhiri apa yang kamu mulai dengan usahamu! Kesempatan terakhir, lain kali aku tidak akan membiarkan adikku pulang hanya untuk memahami hal yang salah"


Azam diam, menatap pungung Arkha yang akan melangkah pergi


"Aku yakin ikatan kalian tak akan putus, dapatkan dia kembali jika kamu ingin"


Azam masih terdiam meresapi kalimat Arkha.


"Ya setidaknya kamu bisa mengubah raut wajahmu itu KHAIRUL AZAM! Apa sepanjang hidup hanya itu yang kamu punya? Kamu tak mau bilang terima kasih padaku?"


Azam menatap Arkha tepat di matanya.


"Terima kasih telah membuatnya kembali"


Arkha melipat tangannya di dada.


"Anytime, aku tahu kamu berharga untuknya, begitu pula sebaliknya"


Alhamdulilah....like & coment

__ADS_1


__ADS_2