
BISMILLAHIRROHMAA NIRROHIIM
Sebuah benda sebesar bola pimpong menggelinding ke arah punggung orang - orang biadab itu. Tiga menit waktu yang dibutuhkan, granat itu meledak dengan sempurna. Suara dentuman yang begitu keras membuat pecahan kaca saling berhamburan. Asap hitam terbumbung tinggi di udara. Orang - orang itu jatuh terpental, tengkurap, telentang tak berdaya. Punggung dan tubuh mereka rusak parah dan beberapa yang lain sudah tergolek mati.
Azam tak menyia - nyiakan kekacauan yang sudah di ciptakan anggotanya. Dia berhasil melepaskan diri dengan goresan golok yang ada di bawahnya. Azam menendang laki - laki perut buncit dan segera menghancurka Guntur dengan menggunakan pentungan yang berada di bawah Asha.
Lalu Azam menarik Asha untuk bersamanya. Secepat bala pertolongan datang secepat itu pula bala bantuan musuh kembali memenuhi pandangan mata. Mereka membawa pistol dan menembakkan secara membabi buta ke arah anggota G02RM yang tengah bertempur.
"Lindungi kepala kalian...!!"
Petrus berteriak mengingatkan anggotanya.Peluru dari pistol yang mengarah ke Hamzah mental jatuh ke tanah. Hamzah memandang terakhir Asha dan Azam sebelum menyelinap di balik pohon.Ternyata mereka juga memakai rompi anti peluru.
"Tembak kepalanya...!!!"
Teriak Hamzah. Satu orang rubuh saat timah panas sudah melubangi pelipisnya.
Azam tidak bisa bergabung dengan kawan - kawannya karena dia mempunyai tugas dan wajib membawa Asha keluar dari medan pertempuran ini.Tapi sayangnya pergerakan mereka memancing perhatian.
"Tangkap dua orang itu,tawanan! Cepat tangkap mereka..."
Suara Topan membelah atap hutan. Topan menyingkir dari acara baku tembak dan fokus pada dua tawanannya.
Azam sempat memungut Heckler ketika Topan hendak menebas pergelangannya dengan golok.Namun Azam justru berhasil menendang kepala ular itu hingga tersungkur. Terpaksa Azam memindah Heckler pistolnya ke tangan kirinya dan melindungi kepala Asha dengan tangan kanannya dari bidikan bedebah - bedebah itu. Lima dari puluhan anak buah Topan ambruk setelah mendapat hadiah bidikan peluruh dari pistol Azam.
Topan bersiul memanggil kawan - kawannya.
"Kalian ikut denganku mengejar dua cecurut itu...!!"
Tangan kanan Azam menggenggam erat tangan Asha, menyalurkan energi untuk terus berlari walau tubuhnya terasa remuk. Azam mengangguk pada Asha untuk meyakinkannya mengusir ketakutannya.
"Ikuti jalur pohon besar itu...!"
__ADS_1
Bisik Azam memberi intruksi, sementara ia sendiri sibuk membalas tembakan - tembakan yang di arahkan pada mereka dari arah belakang. Sasaran bidikan utamanya adalah melumpuhkan Topan, tapi manusia sinting itu memanjat pohon seperti kera sampai habis pelurunya.Azam membanting pistolnya dengan marah. Cadangan pelurunya ada dalam kantung lorengnya,pistolnya sudah tidak berguna lagi.
Azam hendak berbelok, namun munculnya pergerakan dari semak - semak membuat Azam tetap waspada.
"Awas...di depanmu...!?"
Nyaris satu peluru bersarang di kepala Asha,Azam menariknya mundur satu langkah.
"Sial..! Kita harus masuk hutan,persetan dengan jalan keluar. Kita akan temukan nanti...!?"
Mereka hanya mendengar seperti sebuah langkah berlari.Azam membawa Asha menyelinap masuk ke antara dua pohon besar, sesekali terdengar hentak sepatu dan letusan geranat tidak sememekakkan sebelumnya.
"Ayo tidak apa - apa,teruslah berjalan...!"
Azam berbisik menguatkan, dia tau Asha kesakitan.Seluruh tubuhnya sudah bersentuhan kasar dengan duri - duri tajam itu.Tak ada yang bisa ia perbuat selain menjadikan kedua tangannya sebagai tameng pelindung bagi gadis itu.
"Kita akan cari obat di sana, aku tau tanaman yang bisa meringankan luka - luka mu..."
Azam bangga jika mendengar para musuhnya merintih kesakitan, tapi tidak untuk Asha. Suara lembutnya tak pantas merintih kesakitan. Azam ikut tersiksa, dan Azam tidak bisa berbuat apa - apa. Scalpel atau pistolnya telah dirampas.
Asha mengerang, Azam melihat ke bawah dan menatap mata kaki gadis itu terkelupas. Kuku - kukunya terbentur batu.Mendadak Azam disengat rasa sakit.
Merasa sudah cukup jauh berlari, Azam memutuskan berhenti untuk mengobati luka gadis itu. Tanpa berkata apa - apa ia pergi meninggalkan Asha untuk mencari sesuatu dan kembali setelah lima belas menit dengan membawa daun yang bentuknya mirip dengan ganja di tangannya.
"Duduk dan julurkan kaki mu..."
Asha patuh, kakinya terasa lemas.Segera Azam meneteskan getah batang daun ke atas luka Asha. Terasa dingin dan segera menghilangkan rasa perih.
"Lukamu akan cepat mengering...."
"Tapi bagaiman lukamu-Zam...?"
__ADS_1
Asha menatap sendu.
Belum sempat Asha mengucapkan terima kasih atau lainnya sudah terdengar baku tembak semakin mendekat di pendengaran. Keduanya serentak memandang kejauhan, Asha berdiri dan Azam kembali mengeluarkan sumpah serapahnya untuk orang - orang itu.
Perjalanan terpanjang dalam hidupnya adalah berlarian karena ancaman dengan seorang gadis, satu jam digunakan menerobos untuk menyembunyikan diri dari mereka hingga matahari mengeluarkan warna jingga dan tenggelam dalam kegelapan.
Azam merasa marah yang sangat luar biasa. Psikiaternya selalu mewanti - wanti dirinya agar bisa mengendalikan emosinya. Namun saat ini ia gagal, laki - laki itu memang mudah sekali marah. Ia seoalah di ciptakan dari api, dan kini kobaran itu sangat mengerikan. Amarah itu bisa di tunjukkan pada siapa saja. Pada dirinya, orang - orang sialan itu, atau bahkan Asha sendiri. Ia marah dengan segalanya dan ia bisa jadi sangat tidak terkendali.
Hutan semakin berkabut, mereka semakin terengah - engah. Seharian penuh di kejar oleh anak buah Topan. Komplotan penebang liar kayu dalam hutan itu berjumlah puluhan, membawa golok dan mengacung - ngacungkan clurit. Sebagian membawa senajata api laras panjang ingin perang.
Azam tak mungkin menyerang sekaligus melindungi, dia harus memeilih salah satunya. Mereka akhirnya berlindung di bawah pohon besar, dan Azam mulai menunjukkan ketidak ramahannya.
" Apa kamu membawa senjata...?"
"Tidak..."
Asha kesusahan mengatur nafasnya. Sedang Azam mengacak rambutnya frustasi, kompas otomatisnya sudah ia berikan pada Arya. Lalu ia melirik jam analognya yang sudah tidak bisa berfungsi lagi, layarnya retak sebab terkena hantaman golok Topan tadi.
"Pistol atau pisau lipat...?!"
Asha memandang Azam seolah itu adalah lelucon yang ia tanyakan padanya.
"Aku ke sini untuk kegiatan bakti sosial, bukan untuk berperang..."
Jawaban gadis itu semakin membuat Azam marah, matanya berkilat. Otakya benar - benar tersumbat.
"Persetan dengan kegiatannmu itu, kamu masuk hutan tanpa membawa senjata ! Tolol,Kamu taruh mana otakmu. Huhh...? Apa di dalam beaker bersama jarum suntikmu...?!"
Otot di sekitar pelipis mengencang, rahangnya mengeras. Asha kaget bukan kepalang, teriakannya berdengung - dengung keras dalam telinganya.
Azam marah, marah besar. Asha berbicara seoalah maut tidak sedang mengintai nyawanya. Gadis itu tak mempunyai pertahanan diri, matanya mulai berkaca - kaca. Ya, Asha mungkin tidak akan mengerti betapa pentingnya arti senjata untuk mempertahankan diri. Wajar saja karena dia bukan tentara nasional seperti Iqbal Dirgantara atau kakaknya Arkha. Juga bukan dari golongan tertentu seperti Azam. Entah pekerjaan apa yang sedang ia lakukan.
__ADS_1
Terlahir di tengah keluarga Militer bukan berarti ia memahami senjata - senjata itu. Ia tak pernah di perintah memegang benda - benda itu, apalagi melesakkan peluru pada tubuh manusia. Asha benar - benar kecewa padanya dan diri sendiri.
Yeee...selamat menjalankan ibadah puasa...