MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#24


__ADS_3

Bismillah Hirrohmaa Nirrohim...


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa 'aalihi Sayyidina Muhammad


Kubus itu berkabut sangat tebal, asap berhembus dari segala arah.Tak ada cela untuk menyekanya.


Pemuda itu tampak kabingungan, di sebuah ruangan yang penuh kabut ia mencoba mencari cela kehidupan. Di ambang pintu tampak bayangan keberadaan Asya, memakai gaun putih dan kerudung Phasmina senada. Tidak ada yang aneh, gadis itu tampak cantik seperti biasanya. Anggun dan manis seperti bidadari yang menjelma sebagai manusia. Hanya saja mengapa Asha menggendong seorang bayi...?! Bayi siapa itu, Asha?


Azam mulai mendekati, secerca sinar tersirat dari kedua manik matanya. Beribu tanya sudah memenuhi pikirannya. Asha...bayi siapa ini? Bayi siapa Sha...? Apa kamu sudah menikah? Kenapa bayi itu mirip sekali dengan ku...?


Asha mengabaikan Azam, menimang - nimang sang bayi dengan lembut dan penuh kasih sayang. Memberikan pertanyaan - pertanyaan pada bayinya seolah bayi itu bisa mengerti dan menjawab. Bayi laki - laki yang tampan, mencoba memasukkan ibu jarinya pada mulut mungilnya. Gadis itu seakan tak tembus saat Azam mulai menepuk pundaknya.


"Sabar ya sayang...sebentar lagi ayah datang. Coba kita lihat, mainan apa lagi yang akan di bawa ayahmu. Apakah pesawat lagi seperti kemarin...?"


Azam semakin tak berdaya, pertanyaanya tak satu pun terjawab. Mencari sudut agar keberadaannya di perhatikan Asha sangat lah sulit. Bayi itu tersenyum saat Asha kembali melantunkan Shalawat dengan merdu dan indah.


Siluet seorang laki - laki berjalan tergopoh mendatangi Asha dan bayinya. Tangan kanan membawa pesawat mainan serta merentangkan tangan kirinya agar Asha mudah menjangkaunya. Pertemuan mereka penuh suka cita, Asha di hadiahi beberapa ciuman pada ujung kepalanya oleh pria itu. Kabut terlalu tebal hingga Azam tak bisa mamandang wajah laki - laki itu dengan jelas.


Siapa laki - laki ini?


Tak dapat lagi terlukis kata yang dirasakan Azam, giginya bergelemutuk serta tulang rahangnya juga mulai mengeras, ada sengatan tajam dari sebuah aliran listrik berkekuatan besar yang bersarang dalam hatinya.


Azam tak mengerti apa yang ia rasakan, tubuhnya bergetar mendorongnya agar segera memberi tonjokan pada pria itu yang sudah lancang berani memeluk dan mencium Asha di hadapanya. Apa ia cemburu?


Siapa dia bagi Asha? Apakah ia berhak merasakan rasa itu?


Emosinya sudah hampir meledek melihat pemandangan itu, Azam tak kuasa menahannya saat mereka tertawa bersama dan canda tawanya terasa memekakkan kendang telinganya. Semakin mesrah mereka di hadapan Azam semakin ia tak kuasa mengendalikan emosinya.

__ADS_1


Sudah cukup - ini tidak bisa di biarkan. Azam ingin segera menyeret laki - laki itu agar tidak mendekati Asha lagi. Dan...


Dahinya berkerut, keringat sudah membanjiri sekujur tubuhnya. Nafasnya saling memburu saat kubus itu semakin pudar dari pandangan Azam. Hanya sebuah nama indah yang sanggup ia lafalkan dengan lirih untuk menghentikan kegilaan ini.


"Asha....Asha....Asha...."


Matanya telah terbuka sempurna, menarik nafas dalam - dalam untuk menetralisir pacuan jantungnya yang semakin tak beraturan. Mengedarkan pandangan seoalah ia baru bangun dari tidur panjangnya.


"Ckkk...mimpi siang bolong..."


Sam menyadarkan Azam akan sesuatu yang mustahil jika ia hentikan, sebuah mimpi. Memberi teguran keras bahwa mimpinya itu terasa nyata yang hampir membuatnya gila. Laki - laki itu dengan kurang ajar menyedot cerutunya di ruang steril tempat Azam di rawat. Selang infus tertancap pada tangan kirinya, beberapa kabel pelacak detak jantungnya terpasang tepat di dada sisi kanan dan kiri. Terhitung sejak dua hari yang lalu Azam tak sadarkan diri. Beberapa lubang dalam tubuhnya akibat tembusan timah panas sudah membuatnya kehilangan darah terlalu banyak.


"Bisa - bisanya kamu berada di ambang kematian malah malah asik mengarungi mimpi..."


Terlepas dari itu Sam memang sangatlah khawatir saat Azam tergeletak koma selama dua hari. Tak sesuai dengan raut wajah yang ia tampilkan, laki - laki tua itu hampir frusatasi setiap saat dan uring - uringan pada tim dokter sebab anak buahnya itu tak juga membuka mata. Dua hari itu pula ia tak pernah meninggalkan Azam dari rumah sakit.


"Bagaimana Talihan...?"


Azam mencoba duduk dari pembaringannya walau tubuhnya masih di balut dengan perban dimana - mana. Sudah lama ia tak merasakan sakit seperti ini, lama sekali. Sepuluh tahun lalu saat ia mengalami kecelakaan hebat, awal ia bertemu keluarganya. Akhir dari pertemuannya dengan keluarganya yang lain.


Sam jengkel di buatnya, kondisi Azam sangat mengkhawatirkan dengan selang infus yang tertancap di beberapa bagian tubuhnya tapi ia malah mengabaikan itu semua.


"Jangan membuat semua orang menjadi susah, tetap berbaring....!!!"


" Bagaimana pak Sodikin...?"


Kali ini Sam harus mengalah, Azam sangat keras kepala. Perbannya di bagian punggungnya sudah mulai berganti warna merah karena darah merembes dari cela itu.


"Talihan sudah hancur...semua orang kehilangan segala harta benda. Bukan hanya materi, banyak warga juga kehilangan keluarganya. Beruntung tim kita cepat datang, kalau saja kita terlambat sedetik saja mungkin Talihan hanya akan tinggal nama. Entah siapa yang memberi informasi pada anggota TNI itu, mereka juga secepat tim kita untuk menanganinya...."

__ADS_1


"Lalu...?!"


"Evakuasi cepat dilakukan, sebagian warga sudah mulai menempati rumah masing - masing. Sebagian lagi masih menunggu renovasi karena rumah mereka rusak parah...."


"Penjahat itu bagaimana...?"


"Kamu berhasil melenyapkan Guntur dan kawan - kawannya, dan untuk itu kita tak bisa memiliki bukti lagi. Namun kita juga berhasil menangkap Steven hidup - hidup. Hanya itu yang bisa membekali kita menuju mengadilan..."


"Aku yakin, Steven bukan bos mereka. Rosalin pernah mengatakan jika panglima berbintang itu lah pemeran utamanya..."


"Yah...kamu tak perlu khawatir, polisi memastikan Steven akan membuka mulutnya..."


"Bagaimana pak Sodikin..."


"Beliau gugur...namun pemerintah menetapkan bahwa beliau sebagai pahlawan. Mereka memakamkan pak Sodikin di taman pemakanman pahalawan..."


Seketika awan hitam menaungi Azam, kesedihannya hampir tak tertahan. Pak Sodikin orang terdepan yang selalu melindungi Azam dan anggotanya saat berada di Talihan. Belum sempat ia menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar - besarnya karena pak Sodikin yang sudah memberi akses seluas - luasnya untuk pekerjaannya. Orang pertama yang mendukung pekerjaan Azam selain anggota kesatuannya.


Entahlah, dunia memang panggung sandiwara. Seseorang dengan peran jahat masih bebas berlenggak lenggok menunjukkan kepiawaiannya tanpa batas, sedang seorang pahlawan harus rela perlahan menyingkir dan turun panggung karena tak memiliki kuasa. Pemuda itu kecewa, kecewa akan dirinya dan dunia.


Matanya kembali menatap Sam dengan beribu tanya tapi cukup riskan jika harus diunggapkan saat ini. Jangan katakan ia bernama Sam jika ia tak mampu memahami isi dalam otak anak buahnya itu.


"Gadis itu sudah kembali...itukah yang mau kamu tanyakan...?!"


Azam membuang muka, tak ingin Sam semakin dalam mengetahui isi kepalanya tentang betapa khawatirnya ia pada Asha si kerudung putih yang baru saja menyambanginya dalam mimpi buruknya.


Hai...hai...maaf sedikit telat up nya karena banyak kegiatan Ramadhan. Semoga Ramadhan kali ini tak akan terlewatkan tanpa keseruan. jangan lupa terus tingkatkan ibadah kita ya....


Terus dukung author , komen beri masukan agar author gak bimbang mau dibawa kemana cerita ini...😘

__ADS_1


__ADS_2