
Mereka duduk berdempetan seperti kembar siam sebelum tubuh sintal itu mulai merangkak naik ke atas pangkuan Azam yang masih menggunakan jubah mandinya. Ujung kukunya yang di beri warna merah menyala membelai garis rahang Azam yang sedikit ditumbuhi bulu halus membuat sang empuh menarik jari - jari itu dan mendaratkan ciuman halus pada ujung jari - jari.
Tentu saja sang wanita menjadi blingsatan karena kegirangan.
"Namamu terlalu suci ditempat ini bersamaku Azam...."
Wanita jalang itu ingin segera melampiaskan hasratnya saat tatapan mereka beradu dalam suasana kamar hotel yang dingin dan pencahayaan yang temaram.
"Rosaline...."
Suara Azam hampir menyerupai desahan.
Tentu saja sang wanita tak ingin menyia - nyiakan kesempatan bercinta dengan laki - laki yang maha sepurna dimatanya.
Azam dengan segala kesempurnaannya menyadari akan tindakan wanita itu semakin agresif. Bibir yang bergincu merah pekat itu sudah mendarat dan mengecup lembut leher yang tersedia dihadapnnya. Azam mencekal pergelangan wanita itu agar ia bisa menghalangi tindakan wanita yang ada di pangkuannya semakin liar. Ia meraih gelas berukuran besar yang ada di sampingnya lalu mengisinya dengan cairan bening Vodca. Tentu minuman itu ia persembahkan untuk wanita itu yang sudah menghabiskan 1 botol lebih minuman yang di sajikan Azam.
"Minumlah dulu Baby...,kulihat bibirmu semakin mengering...."
"Aku selalu basah bila bersamamu sayang..."
"Humm...benarkah...?"
"Sudah lama aku memperhatikanmu jika kamu berada di Club itu,namun tampaknya aku kurang menarik bagimu..."
Wanita itu bergelayut manja dengan menautkan kedua tangannya pada leher Azam setelah meneguk Vodca yang di sajikan Azam sebelum ia membenamkan wajahnya pada ceruk leher Azam.
"Apa tidak salah dengar...?Kamu wanita yang memiliki berjuta laki - laki pemuja.Mana mungkin aku tidak tertarik padamu...!"
"Kalau begitu ayo cepat puaskan aku malam ini sayang..."
Wanita itu sudah mulai tak sadar karena sudah terlalu banyak meneguk minuman beralkohol tinggi itu.
Ia sudah mulai melucuti pakaian ketatnya dihadapan Azam walau itu semakin membuat Azam muak.Ia meraih kain pengait yang menutup jubah Azam.Azam menarik tubuh wanita itu agar turun dari pangkuannya, namun sayangnya wanita itu belum menyadari penolakan dari sang pengendali.
__ADS_1
"Mungkin malam ini malam terakhir pertemuan kita. Lusa aku harus melaksakan tugas dari atasanku pergi ke Kalimantan. Kalau saja laki - laki tua itu tidak membuat masalah, mungkin kamu bisa menemaniku setiap malam...."
Rosaline sedikit terkejut, otaknya mulai berfikir keras siapakah laki - laki tua yang di maksud oleh Azam.
"Sayang...aku bisa menemanimu setiap malam setelah kamu selesaikan tugasmu itu..."
"Itu kemungkinan sangat kecil...aku bisa saja berdomisili disana jika tugasku tidak berhasil..."
Dalam kesadaran yang semakin menipis, membuat pendengaran wanita itu menjadi samar - samar saat mendengarkan umpatan Azam dan membuat sang wanita menjadi semakin penasaran.
"Siapa sebenarnya laki - laki tua yang kamu maksud Baby..."
Suaranya semakin meracau tak jelas.
"Kamu tau sayang...dia adalah kekasihmu,Aziz...Aku belum mengetahui si tua bangka itu bekerja untuk siapa. Dan itu semakin menyulitkan tugas kami..."
Rosalin menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan kaki yang masih menginjak lantai. Tawa kegilaan mulai muncul dari bibirnya.
Azam kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Rosalin yang semakin tak sadar diri.
"Aku mengetahuinya sayang...Aziz bekerja untuk siapa..."
Rosalin mengucapkan dengan mata yang terpajam dan mulut yang berbau Alkohol.
"Bisakah kamu membantuku sayang...agar tugasku tak terlalu berat. Sepertinya aku mulai tak sanggup jika harus berjauhan denganmu..."
"Aku tau...aku tau....aku tau...."
Wanita itu merancau tidak jelas dengan jari yang mengacung seperti anak SD yang menemuka jawaban atas soal disekolahnya.
"Iya...siapa...katakan..."
"Tapi kamu harus janji akan selalu menemaniku..."
__ADS_1
"Tentu saja...cepat katakan siapa atasan Aziz..."
Azam seolah sudah mulai kehabisan kesabaran, namun wanita sundel itu malah asik meracau tak jelas. Dan belum sempat Rosalin berkata ia benar - benar sudah tak sadarkan diri dan tertidur pulas.
Azam frustasi, silemparkannya gelas kosong yang ada dihadapnnya hingga membuat gelas itu pecah dan menyebabkan bunyi nyaring.
Shiiittt...
Azam meraih celana panjang dan memakai kemejanya kembali. Meraih ponsel canggihnya yang berada di atas nakas lalu segera menekan panggilan kepada Elhakim yang bertugas sebagai pemandu GPS beserta CCTV yang sudah diletakkan pada bingkai lukisan indah yang berada di dalam kamar hotel.
"Walau kamu tampak frustasi, setidaknya sudah terhidang pemandangan indah dihadapanmu..."
Suara bariton Elhakim sama sekali tidak membuat Azam memandang wanita yang setengah telanjang yang sudah tertidur di atas sofa.
"Sudahlah...jangan memancing emosiku..."
"Hahaaa...bersukur sekali kamu Azam memiliki paras seindah dewa yang bisa membuat wanita jalang sekelas Rosalin bertekuk lutut padamu. jangan sia - siakan malam indah ini...."
"Tutup mulutmu...cepat katakan kenapa ponsel Fahmi tak bisa dihubungi..."
"Aku kurang tau...mungkin dia marah padamu karena tak mendapat tugas senikmat tugasmu..Hahahaaaa..."
"Suruh dia jemput aku sekarang...!!"
...****************...
Gadis cantik itu sudah mulai membereskan perlengkapannya setelah ia mengadakan seminar kesehatan di kampusnya. Ya...walau Asha masih terbilang sangat muda, namun prestasinya dalam dunia medis sudah tidak di ragukan lagi. Ia juga sering menjadi motifator bagi mahasiswa jurusan kedokteran pada seminar - seminar tertentu. Bahkan ia sering mendapat undangan resmi dari bebagai lembaga hanya memberi penyuluhan pentingnya sebuah kesehatan.
Tentu anugrah kecerdasan itu tak serta merta ia dapatkan,di dukung dari kerja kerasnya ia juga mendapat ID itu dari sang ibu. Hanifa bisa disebut ibu terhebat karena bisa mencetak putra dan putri yang membanggakan.
Arkha dengan gelar perwira TNI yang sudah menyandangnya membuat sang ayah menjadi sangat bangga akan anak laki - lakinya itu yang mengikuti jejak bertugasnya. Sedang Asha sang putri walau ia baru menginjak usia 22 namun karirnya dalam pendidikan dunia medis bisa di katakan sangan cemerlang. Kepiawaiannnya dalam menyalurkan bakat medisnya bukan hanya isapan jempol saja. Ia bahkan sering menerima tawaran magang dari rumah sakit terbesar yang ada di Jakarta. Namun dengan berat hati Asha menolak tawaran itu sebab ia dan kawan - kawannya sudah berencana pergi ke Bontang - Kaltim untuk mengadakan perjalanan penyaluran medis di wilayah pedalaman itu dengan cuma - cuma. Bukan tanpa alasan Bontang di jadikan target penyaluran medisnya, terdapat kabar daerah itu mendapat penjajahan dari negaranya sendiri. Tempat yang subur tak menjanjikan penduduk wilayah itu menjadi makmur. Nyatanya penduduk disana banyak yang masih di bawah garis kemiskian sebab pimpinan disana melakukan kerakusan. Penduduk di peras habis - habisan tenaganya untuk bertani sawit namun upah yang mereka dapat tak sebanding dengan tenaga yang mereka keluarkan. Tak heran peduduk di sana banyak yang mangalami kelaparan dan tentunya di bidang kesehatan Bontang menjadi kaum yang primitif akan kesehatan mereka.
Asha dan sekelompok mahasiswa yang biasa disebut "Mahasiswa Anti Mainstream" tergerak hatinya menolong dengan sesama.
__ADS_1