MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#45


__ADS_3

*B**ismillahirrahmaanirrahiim*


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad


"Sumpah pocong...jijik kali aku melihat mukanya. Masih teringat jelas bagaimana bajingan itu menyebetkan parangnya ke mukaku. Untung saja granatnya Petrus sudah habis peluru, kalau tidak sudah aku lemparkan saja ke kepalanya biar semburat otaknya. Harusnya jaksa tidak usah mengadakan persidangan, mereka pantas mendapat hukuman seumur hidup sampai membusuk di penjara!"


Elhakim terbahak - bahak di tempat duduknya.


"Bicaramu seakaan kamu adalah pahlawan saja. Coba kita tunggu si daeng Fahmi, bang Azam mengajaknya kesini"


Seketika Hamzah melempar kaleng minuman bersoda yang sudah kosong ke arah wajah Elhakim. Azam membuka pintu, mengalihkan semua perhatian para penghuni Laboratorium G30RM. Hamzah bersiul kurang kerjaan.


"Amboi...lihatlah muka abang kamu ini Gading! Pepatah bilang, habis gelap terbitlah terang. Matahari seakan selalu mengikutinya, memang luar biasa kalau orang setelah kami.Ckckck...!"


Azam melongos langsung duduk di samping kursi Gading, tahu jika kedatangannya pasti jadi olok - olokan Hamzah dan Elhakim.


"So, jadi bagaimana rasanya kawin itu, sobat?"


Azam tetap mengabaikannya. Tak lama kemudian Daeng Fahmi datang melongokkan kepala meminta izin. Sebenarnya tak perlu repot - repot meminta izin masuk, toh keberadaannya memang sangat dibutuhkan dalam persidangan dan kerja samanya.


"Wah, kalau Fahmi sih tetap kelihatan ganteng. Sebab mukanya selalu di rawat dengan air wudlu!"


"Oh great...kamu memang jenius Hamzah. Akan aku buatkan pistol semi otomatis nanti untukmu!"


Fahmi menepuk pundak Hamzah, kangen berat setelah beberapa bulan tidak berjumpa.


"Ok, semua sudah berkumpul"


Azam menyalakan proyektor setelah menyambungkan dengan komputer. Logo besar G40RM terpampang di sana lalu berganti dengan slide - slide banyak nomer pasal disana.


"Mereka terkena pasal berlapis, kasus di Talihan seperti mata rantai yang saling sambung - menyambung tanpa ada yang jelas. Meski aku tak menyangka, satu dari sekian konflik ada yang menyangkut dendam pribadi. Bukan begitu Fahmi?"


Azam bertanya tapi matanya tetap focus menatap layar. Fahmi botol air mineral, meneguknya dengan getir, keceriaan seketika menguap begitu saja. Entah harus bahagia atU malah kecewa dengan peristiwa ini, seperti dia sisi koin yang tidak bisa terlepas. Bahagia karena Fahmi bertemu ayahanda yang sudah berpisah selama puluhan tahun, namun amat kecewa karena semua tragedi dan kasus yang menjerat para bajingan itu atas kendali ayahnya.


" Tidak usah menyertakannya dalam surat tuntutan, aku ingin semua menjadi terang dan jelas. Sebab aku rasa bukan Steve Yan saja yang harus bertanggung jawab atas kegialaan ini, ada seseorang di baliknya. Lebih berkuasa, kejam dan tak punya hati


Azam menyugar rambutnya yang sudah terpangkas lebat. Kedua sisinya kini terpangkas rapi.


Dia lalu bersender dan menengadahkan kepalanya ke arah langit - langit ruangan yang terbuat dari besi. Ayah mertuanya memintanya untuk mengambil alih kasus ini. Penawaran yang mugkin tidak bisa di abaikan begitu saja, namun Iqbal Dirgantara tetap memberi hak keputusan sepenuhnya pada Azam. Dan pembicaraannya dengan Iqbal Dirgantar sepagian tadi membahas masalah ini lebih jauh dan dalam. Azam butuh waktu sendirian untuk merenungkannya.


...****************...

__ADS_1


Azam memelankan laju mobilnya, sosok istrinya sudah berdiri di trotoar jalan dengan banyak bungkusan belanjaannya. Lantas Azam turun untuk membantu mengangkut belanjaannya ke dalam mobil. Putri masih setia berdiri disamping Asha.


Ada seulas senyum di bibir Putri atas keberadaa Azam.


"Ayo Put, kamu sudah sepakat mau ikut..."


Asha menarik lengan sahabatnya, namun Putri seakan enggan mengikuti kata Asha.


Entah apa yang ada dala pikirannya, Azam seperti tidak begitu respon dengan sahabat istrinya itu.


"Hm...Sha, lain kali saja. Aku rasa hari ini aku kurang enak badan!"


Asha terkejut dan sedikit bingung. Bagaimana tidak, baru saja mereka tertawa bersama di dalam minimarket dan sekarang tiba - tiba ia mengatakan kurang enak badan.


"Apa kamu yakin?"


"Hum. Aku ingin segera pulang dan beristirahat!"


Gadis bertubuh agak gemuk itu mengangkat sedikit bahunya dengan ragu.


"Baiklah, kamu harus istirahat. Apa perlu kami antar?"


Asha mengelus pundak sahabatnya dengan segala penawarannya.


"Ok, aku tunggu"


Azam sudah berada dalam mobil, tak ingin terlalu mendengar banyak obrolan mereka. Kecurigaannya harus terbukti, Azam seperti menemukan sekeping Puzzle diantara ribuan keping yang hilang dari kasus ini. Putri, gadis itu penuh emosional, matanya berkaca - kaca dan bertubuh lemah kala memandang sahabatnya. Dan itu semakin meyakinkan kecurigaanya terhadap putri.


Setelah kepergian Putri, kini giliran Asha yang memasuki mobil dan mengecek daftar barang belanjaannya di dalam mobil. Sayuran hijau dan buah - buahan mendominasi di dalamnya. Ada dua buah kotak daging yang sudah di fillet dan beberapa kemasan roti gandum.


"Abang mau aku masak apa untuk makan malam?"


Azam hanya melirik istrinya dari ekor matanya.


"Apa pun yang kamu masak, aku akan menikmati"


Asha menghela nafas, susah sekali sih mengorek makanan kesukaan Azam. Asha juga ingin tahu apa saja yang spesial untuk suaminya, meski Azam selalu berkata bahwa pilihan Asha adalah yang terbaik bagi dirinya.


"Abang lebih banyak makan sayur?"


"No problem"


"Kalau dagingnya aku masak dengan bumbu berbeda?"

__ADS_1


"Ok"


"Abang mau makan sop buah?"


"Atau kamu saja yang aku makan"


Azam benar - benar memutar kepalanya untuk menjangkau wajah istrinya. Asha tanpa sengaja menjatuhkan buah apel dari tangannya. Azam menyadari kegugupan istrinya, membuatnya tersenyum geli.


...****************...


"Terdakwa bernama lengkap Steven Yan berusia 46 tahun berkewarganegaraan Indonesia. Terbukti bersalah atas persekongkolan dengan saudara Topan Manggalang beserta komplotannya. Terdakwa di kenai pasal berlapis, pembalakan liar di hutan Talihan, bisnis ilegal, penculikan, penganiayaan dan penggunaan obat bius"


Semua penjelasan itu terasa tak penting ketika hakim mengetokkan palu menggelegar di ruang persidangan sebanyak tiga kali. Hukuman penjara seumur hidup secara resmi di jatuhkan, meski Asha pikir mereka pantas mendapat hukuman mati. Tetapi biarlah sisanya Allah, sang maha Adl seadil - adilnya hakim yang akan memberikan mereka pengadilan nanti.


Steven Yan duduk terpengkur seperti orang mati, lantas bergumam dan mendengus - dengus seperti orang kesurupan. Asha meraih lengan Azam ketika Steven Yan melopat nekat dari mimbar persidangan, melotot seperti orang gila dengan mata merah keseluruh orang disana. Menunjuk Asha dengan jarinya yang tajam.


"Kamu!!! Gadis cantik, kamu ingin tahu siapa yang membocorkan segala aktivitasmu? Agenda kegiatanmu? Siapa orang yang telah memberi informasi penting keberadan dirimu!"


Asha gemetar ketakutan, Azam melindunginya over protektif. Selangkah saja Steven Yang berani mendekat, Azam tak akan segan bermain kasar padanya.


"Dia!! Dialah biangnya!!! Ular berkepala dua yang ada di sampingmu adalah dalangnya!!!"


Steven tertawa terbahak, beberapa petugas berlari untuk mengamankannya. tubuh lelaki itu meronta - ronta lantas merosot ke lantai. Teriakannya membahana ke penjuru ruang persidangan.


"Tangkap di juga!!!! Oi...hakim sialan!!! Wanita jalang itu ikut merencanakan penculikan dengan kami!!!"


Semua orang mulai menyingkir, putri Isabelle seolah berdiri sendiri dalam ruangan itu. Kaku seperti patung dan wajahnya berubah sangat pucat.


Fahmi menjadi sosok pertama yang menyadarkan bahwa persidangan menjadi perang antar saudara.


"Apa benar apa yang dikatakan bajingan itu?"


Putri bergeming, pandangan matanya kosong. Fahmi mengulang.


"Apa benar kamu yang melakukannya? Kamu menghianati kepercayaan sahabatmu? Asha dan aku?"


Putri menggeleng lemah.


"Fahmi....aku...!"


Fahmi berpaling.


Hei...hei...hei...maaf nih up nya agak telat. Tetep beri dukungan ya...😙

__ADS_1


__ADS_2