
Bismillahirrahmaanirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Aalihi Sayyidina Muhammad
Tunaikan sumpah dan tugas kewajiban sebagai prajurit Negara Republik Indonesia, yang sanggup menjaga keamanan dan keselamatan nusa dan bangsa...
Panglima besar Jendral Sudirman pernah berkata demikian...
Dan kini kalimat itu menghiasi karangan bunga aster kuning yang berdiri di samping kediaman Iqbal Dirgantara. Seolah menjelma menjadi dua penjaga yang membentangkan pedang tajam yang mengiringi kepergian sang Letnal Kolonel.
Tetapi rumah itu kini lengah, hanya meninggalkan beberapa orang yang membereskan kursi - kursi.
Upacara pemakan Iqbal Dirgantara di pimpin oleh komandan pangkalan udara AU Halim Perdana Kusuma Marsekal Amuni Hapitudin. Dengan seragam lengkapnya ia berjalan di depan peti kayu yang menyimpan jenazah Iqbal Dirgantara. Terukir kalimat syahadad di setiap sisinya, dengan kalungan bunga di atasnya. Benda itu nampak begitu mengguncang batin setiap anggota keluarganya.
Arkha terutama, berdiri di samping liang lahat menggunakan seragam terbaik kesatuannya dengan baret merah bertengger di atas kepala. Berusaha terus untuk tetap kuat dan tegar, tetapi kedua matanya menangis. Air matanya meluncur satu - satu ketika memberi hormat.
Arkha melepas sepatu setelah Marsekal Amuni selesai berpidato. Melompat ke dalam liang lahat dengan beberapa sahabat karib Iqbal Dirgantara. Tudung peti mati telah di buka, dan jenazah Dirga yang sudah di kafani di serahkan pada pengubur. Empat orang anggota TNI sudah siap memegang setiap sudut bendera merah putih untuk menaungi. Bersamaan dengan regu tembak yang melepaskan tiga peluru ke angkasa. Penghormatan terakhir untuk Iqbal Dirgantara yang piguranya di peluk erat - erat oleh Asha.
Azam ada di sana, menyusun satu per satu bambu yang telah di potong seukuran untuk melindungi tubuh Iqbal Dirgantara saat di miringkan. Gejolak dalam dirinya begitu kentara, Azam ingin duduk diam alih - alih membantu pemakaman Dirga. Menunggu lelaki itu bangkit dari kematiannya dan sujud di kedua kakinya. Minta ampun atas segala kesalahan yang tak pernah ia sengaja. Azam tidak mengerti bahwa hanya dengan memegang senjata bisa menyebabkan kematian seseorang.
Ayah dari istrinya...
Suara serak Arkha kala mengumandangkan Adzan begitu menohok. Azam memejamkan mata, naik ke atas liang lahat saat pekerjaannya telah selesai. Bersama Arka, mereka sama - sama meraih cangkul.
"Biar aku yang melakukannya"
Azam menepuk pundak Arkha, namun kakak iparnya itu tak mau melepaskan cangkulnya dan kembali melempar tanah ke liang lahatnya.
Lettu Pandjaitan membantu Arkha berjalan setelah tugasnya selesai. Berbisik penuh simpati.
"Tak perlu memaksakan diri Arkha, aku tahu Papamu pasti bangga padamu. Kamu sudah memberikan yang terbaik semasa hidupnya".
Arkha menurut dan berdiri di sampimg Asha dan Mamanya. sementara Fahmi menjaga dengan memegang lengan Hanifa.
"Apa tadi Aa' sudah tanyakan pada Papa? Kenapa dia tega sekali meninggalkan kita?"
Asha bertanya lirih, air matanya membasahi seragam biru langit kakaknya.
Arkha tersenyum sedih sembari mengecup kepala Asha.
"Hm"
Gumamnya sebagai jawaban.
"Lalu apa katanya?"
__ADS_1
Arkha ikut mengusap bingkai foto Dirga dengan lembut.
"Letnal Kolonel kita sudah bosan naik pesawat, bilang ingin istirahat di tempat lebih baik dari pada dunia, lebih kekal kebahagiannya, lebih indah dan ramah penghuninya. Yang jauh lebih penting, Asha. Bahwa Allah telah menggariskan, Papa kembali tepat pada hari ini. Allah telah menyelesaikan bakti tugas Papa, mengakhiri perjalannya untuk mengarungi perjalanan baru".
Asha makin terisak mendengar kalimat demi kalimat kakaknya.
"Kita akan bertemu Papa lagi kan A'?"
Arkha mengangguk.
"Insya Allah, Asha. Kepergian papa ibarat menumpang kapal layar sendirian. Suatu saat nanti, entah kapan. Aku, kamu dan Mama akan menaiki kapal masing - masing, dan bersama kita akan bertemu di pelabuhan. Menjadi keluarga yang utuh kembali. Sekarang yang harus kita lakukan adalah membantu Papa dengan do'a agar mengarungi dengan selamat. Dimana surga kekekalan menanti dengan pintu terbuka"
"Aammiiinnn"
"Hapus air matamu Asha, bersikaplah tegas di hadapan pusara Papa"
Kata Arkah, menarik pundak Asha untuk mendekat pada ke makam Iqbal Dirgantara.
Setelah pembacaan do'a dari Kiyai Lathif selesai, ia meletakkan pigura Dirga di atas kuburannya bersama sebuket bunga mawar putih. Wajah tampan dan gagah Dirga saat muda tergambar jelas di sana, tegas tanpa senyum.
Fahmi bersisian dengan Arkha, sama hancurnya dengan sepupunya itu. Untuk kedua kalinya ia kehilangan sosok ayah. Kecamuk dalam hatinya tak bisa menguap begitu saja, Walau ia hanya anak angkat dari Bahar namun jasa - jasa Bahar tak bisa di pungkiri. Bangkitnya kejahatan Syamsudin Bahar membuat hatinya semakin terkoyak kala mendapatkan kenyataan bahwa Bahar adalah musuh bebuyutan Igbal Dirgantara.
"Bagaimana kondisi hatimu, Cousin? Punyaku hancur berantakan"
Sikut Fahmi pada sepupu laki - lakinya yang terdiam memandang Asha menabur bunga.
Arkha tersenyum getir.
Di tengah kekhusyukan anggota keluarga berdo'a, suara orang - orang bercakap di belakang mendadak hilang. Semua terganti dengan keheningan yang tercipta, lantas kasak kusuk muncul.
Azam penasaran, ingin memeriksa keadaan di sana yang mungkin membutuhkan pihak keluarga untuk mengurusnya. Namun niatnya urung kala melihat lima orang petugas kepolisian memasuki areal pemakaman.
Arkha yang pertama menghampiri mereka, para petugas itu memberi hormat pada putra sulung sang Kolonel. Saling berjabat tangan sembari mengucapkan kalimat belasungkawa. Tak lama mengucapkan tujuannya di tengah upacara pemakaman itu.
"Kami mencari keberadaan saudara Khairul Azam"
Azam berdiri dan melangkah luwes ke samping Arkha.
"Saya Khairul Azam"
Katanya tegas, ketegarannya seperti batu karang. Azam jelas tak ingin menimbulkan keributan sekecil apa pun.
Sang komandan menunjukkan sebuah berkas.
"Surat perintah penangkapan kepada saudara Khairul Azam atas tuduhan penembakan terhadap Letnal Kolonel Iqbal Dirgantara dengan menggunakan senjata api SS1-M1. Dengan hormat kami akan membawa anda untuk di introgasi"
Asha tertegun, berdiri sempurna. Meninggalkan buku yasin di samping pigura Dirga sekaligus meninggalkan Hanifah. Matanya merah serta bengkak sejak pagi tagi.
__ADS_1
Azam diam, tidak melawan. Lelaki itu membiarkan petugas memborgol kedua tangannya. Asha berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya.
"Tunggu dulu! Ada apa ini pak? Maaf pak, tapi Khairul Azam adalah suami saya! Dia tidak mungkin__menembak Papa saya. Rekan Papa memang sudah memasukkan laporan pencarian pelaku, tapi itu tidak mungkin suami saya. Tidak masuk akal!"
Azam melepaskan Asha, mendorong bahu Asha agar sedikit menyingkir.
"Biarkan mereka membawaku"
Arkha memandang Azam dengan perasaan campur aduk. Menahan heran, marah lalu mengacak rambut.
"Apa - apaan kamu bangsat! Bilang padaku kalau kamu tidak melakukannya!!!"
Maki iparnya lemah, kematian Iqbal Dirgantara sudah cukup membuatnya kacau jangan sampai kejadian ini membuatnya lepas kendali.
Azam tidak menjawab, memandang Arkha dengan datar. Arkha mengusap wajahnya sebelum usapan itu berubah menjadi kepalan tangan yang menghujami wajah Azam.
"Ya Allah Aa'..."
Asha menjerit, menghalau Arkha yang akan menghajar Azam kembali.
"Arkha! Tenang...tenang..."
Fahmi berlari melerai.
"Bajingan kamu Khairul Azam! Apa yang kamu cari di keluargaku? Kamu ingin menghabisi keluargaku karena kamu anak Syamsudin Bahar?"
Kelopak mata Asha melebar, berpikir mungkin Arkha mendadak gila karena emosi.
"Kamu ingin tetap berdiri di sana dan melindungi dia, Asha? Oh, aku tahu kamu begitu girang karena kamu bisa menikah dengan dia jodoh waktu kecilmu? Selamat, kamu berhasil mengundang masuk mesin pembunuh keluarga kita".
Asha menatap bergantian, Azam dan Arkha. Gilang Panji Wiratama? Begitu kaget. Bukankah memang seperti khayalan belaka.
"Mana mungkin?"
Asha mundur.
"Aa' pasti bercanda?"
"Kamu pikir aku berani becanda di depan makam Papa?"
Komandan polisi maju menenangkan Arkha.
"Kami akan mengurus sesuai prosedur, mohon tetap tenang"
Sementara keempat anggota polisi lainnya menggiring Azam melewati orang - orang yang menyaksikan. Tak ada yang menyangka, Iqbal Dirgantara di bunuh oleh menantunya sendiri.
Asha merasa tulang - tulangnya telah di lolosi, tak punya tenaga. Kepalanya berat dan berkunang - kunang hebat, lantas taman makam pahlawan itu berubah gelap.
__ADS_1
Dukung Azam apa Asha ya....?😚