MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#26


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahiim...


Allahumma Shalli'alaa Sayyidinaa Muhammad


Wa'alaa 'Aalihi Sayyidina Muhammad


"Makan dulu sayang....kamu teh dari pagi belum makan...!"


Genap 2 bulan Asha di kurung oleh Dirga. Kegiatannya sangat di batasi, menjaga putrinya habis - habisan agar tidak sampai terlepas dari pengawasannya. Membuat Asha menjadi kewalahan sendiri dengan kegialaan ayahnya. Tak ada yang salah saat seorang ayah ingin melindungi putrinya, hanya saja Dirga kelewat protektif hingga Asha jengah dengan sikap ayahnya ini.


"Nanti dulu Ma, Asha menyelesaikan pekerjaan Asha dulu...!"


"Menyelesaikan tugas atau memang sengaja menghindar dari nikmat - nikmat Allah...?!"


"Maaa...??"


"Sayang....hatimu di ciptakan bukan untuk berfikir. Namun gunakan akalmu untuk mengontrol hatimu...!"


Asha tak kuasa, air matanya kembali mengalir. Perpisahannya dengan seorang Khoirul Azam ternyata memberi dampak yang begitu besar dalam hatinya. Ia belum sempat mengetahui kabar laki - laki itu, atau bahkan hanya mengucapkan terima kasih karena dia sudah rela mengorbankan nyawanya demi melindungi dirinya. Tidak sama sekali, kesempatan itu di renggut paksa oleh Dirga sang ayah. Bergelut dengan segala prasangka buruk atas tragedi naas itu membuat Asha semakin terkubur akan kesedihannya.


"Mama teh tau apa yang kamu rasakan, bersabarlah. Papa hanya sedikit mengambil haknya atas dirimu nak. Tak perlu khawatir, Papa tak akan setega seperti yang kamu pikirkan...?"


Asha mulai menghambur dalam pelukan Hanifa, seolah itu adalah satu - satunya sandaran ternyamannya saat ini.


"Tapi Papa sudah keterlaluan Maa...?!"


"Dengarkan Mama sayang...Papa adalah imam keluarga ini, pemimpin kita. Kamu sangat mengenalnya, Mama yakin itu. Papa tidak akan membuat keputusan yang akan memberatkan kita. Sedikit bersabar dan tawaqqal, maka Allah tak akan meninggalkan hambanya..."

__ADS_1


Usapan halus jemari Hanifa pada kepala Asha yang masih tertutup mukena seperti memberikan energi positif pada Asha.


Hanifa, seorang ibu teladan yang tak pernah salah saat membaca situasi apa pun yang menimpah keluarganya. Memahami situasi yang di hadapi sang putri, mungkin baru kali ini ia merasa begitu pelik.


"Mama memang tidak mengenal pemuda itu sayang, tapi mendengar dari cerita - ceritamu Mama yakin dia laki - laki sejati. Rela mengorbankan nyawa demi melindungi seorang wanita. Tegas dan ahli strategi, persis seperti papamu..."


"Apa Papa juga seperti itu?"


"Tentu saja sayang, Papa memang selalu terlihat dingin dan kaku tapi apa kamu meragukan kasih sayangnya...?"


Hanifa merangkum wajah Asha yang mulai di hinggapi rasa penasaran. Meneliti netra putrinya yang memancarkan binar - binar kebanggaan.


"Sikap Papamu mengingatku pada sahabat nabi Ummar Bin Khattab Radliyallahu Anha.- Beliau salah satu sahabat Rosullullah yang memiliki kecerdasan yang luar biasa, bahkan di katakan mampu memperkirakan masa depan. Karenanya Umar terpilih menjadi duta dari kabilahnya pada masa Jahiliyyah. Jika terjadi perselisihan diantara kabilahnya, maka sahabat Umar lah yang diutus untuk melerai dan mendamaikan. Beliau juga menentang habis - habisan keberadaan agama Islam, dan sepenuhnya sangat membenci Rasulullah. Namun siapa sangka, selain keberaniannya ada hal lain yang sering diulas dari sahabat Umar. Beliau adalah seorang yang mudah menerima kalam - kalam Allah untuk menentramkan jiwanya. Hanya dengan mendengarkan satu lembar dari surat At-Taha sudah mampu menenangkan hatinya. Menerima agama Islam dengan sepenuh hatinya. Dan Mama melihat Azam ada pada diri Papamu..."


Asha menjawab dengan seulas senyum tipis yang menggemaskan.


"Apa itu artinya kita memiliki selera yang sama Maa...?"


"Sepertinya begitu...!!! Hei, apa putriku ini sudah mulai jatuh cinta...??!"


"Entahlah Maa...aku masih bingung dengan perasaanku..."


Seketika senyum Asha memudar, kegelisahan menguasainya kembali. Hanifa tak akan rela membiarkan senyum putri menghilang begitu saja. Di genggamnya kedua tangan Asha dalam jemarinya, sekuat tenaga memberikan energi positif pada putrinya agar ia dapat berfikir jernih.


"Dan tugas kamu sekarang adalah meyakinkan perasaanmu sendiri. Sholat dan mintalah petunjuk kepadaNYA...Papa akan menjadi tanggung jawab Mama..."


Pelukan hangat Hanifa sangat di butuhkan Asha saat ini. Gadis itu sangat mempercayai ibunya. Selalu, Hanifa dengan mudah berhasil membuka pikiran Asha akan hal - hal rumit lainnya. Tuhan menjadi poros hidupnya, yang senantiasa menggantungkan setiap persoalan yang menghampiri hidupnya. Sungguh mudah hidup ini jika itu di jadikan pedomannya.

__ADS_1


...****************...


Di balik jeruji besi itu Steven menyambut sinis kedatangan Azam. Tak ada kontak fisik namun sorot mata keduanya seolah saling mengobarkan genderang peperangan di antara keduanya. Secara bersamaan kedua laki - laki itu saling mendekat pada jeruji pembatas itu lalu mengeratkan cengkraman pada benda keras itu. Dari kejauhan, tampak dua orang Polisi dengan tegas mengawasi pergerakan mereka.


"Ckkk...Pemuda kemaren sore...! Jangan dulu kamu berpuas diri, karena di luar sana orang - orangku akan selalu mengawasimu...!"


Laki - laki itu jelas sedang mencibir kemampuan Azam. Tak ingin berbasa - basi, senyuman miringnya terus mengolok - olok Azam.


Steven bukan satu - satunya penjahat yang lolos dari tragedi berdarah itu. Ada banyak kawanannya yang masih berkeliaran bebas diluar sana. Bahkan mugkin, bos besar yang sering mereka ucapkan sedang menari indah untuk mempertontonkan kepiawaiannya. Sedikit lagi, Steven berhasil memancing emosi Azam.


"Tutup mulut mu...bersiaplah membusuk disini jika mulut sampah mu tak kamu gunakan dengan dengan baik..."


"Tak ada yang bisa mempengaruhiku atau bahkan menakutiku...Kerajaan Bos besarku terlalu kuat untuk kamu runtuhkan. Hanya membuang - buang masa mudamu saja...! Berhenti menakut - nakuti kami dan pergilah pada atasanmu untuk mengundurkan diri. Biarkan kami bekerja dan kamu tak akan pernah kami ingat lagi..."


Steven berhasil memancing emosi Azam. Pemuda itu langsung menarik baju seragam tahananya dari balik jeruji. Tentu saja tindakan implusif Azam langsung menarik perhatian para Polisi yang sedang berjaga. Memberi kode agar Azam menghentikan tindakannya.


"Bangsat...kamu memang pantas membusuk disini. Jangan pernah mencoba mengajariku tentang pekerjaanku, aku yakin kamu pasti paham sampai mana kemampuanku. Lihat saja, tak lama lagi kawananmu akan segera menemanimu membusuk disini..."


Cibiran Steven mendapat hadiah kesombongan dari Azam. Matanya terus berkilat - kilat penuh kemarahan atas ucapan Azam. Namun sepertinya Azam tak ingin melanjutkan perdebatannya. Membalikkan badan dan segera melangkah meninggalkan Steven dengan amarah yang masih menguasainya.


Pria keturunan China itu seperti mendapatkan memori yang mungkin bisa melumpuhkan langkah Azam.


"Hei...! Aku tahu siapa gadis itu. Jangan khawatir, orang - orang ku 24 jam selalu mengawasinya. Mungkin kematiannya akan menjadi kabar terindah untukmu. Tunggulah...!!!"


Benar saja, langkah kaki Azam terhenti seketika tanpa menoleh kembali pada Steven. Kedua tangannya sudah mengepal keras, keringat pada dahinya sudah basah sempurna. Serta tulang rahangnya sudah sangat keras. Tak ada gunanya Azam meladeni ucapan Steven. Mereka tidak hanya berdua, beruntung ada banyak mata Polisi yang mengawasin hingga Azam mampu mengendalikan emosinya.


Segera pergi meninggalkan tempat itu bukan ide yang buruk.

__ADS_1


"Huh...mengapa begitu jelas...??? Dasar bocah ingusan...?!!"


Alhamdulillah....tetap tinggalkan jejak dengan menekan like dan beri komen sebanyak-banyaknya ya...sukur-sukur bisa jadi ide..😘


__ADS_2