MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#20


__ADS_3

Terlahir di tengah keluarga Militer bukan berarti ia memahami senjata - senjata itu. Ia tak pernah di perintah memegang benda - benda itu, apalagi melesakkan peluru pada tubuh manusia. Asha benar - benar kecewa padanya dan diri sendiri.


Asha berdiri kecewa mensejajari tubuh Azam yang masih berkacak pinggang angkuh, seumur hidupnya tidak ada yang tega membentaknya. Tubuh Asha bergetar karena tersulut emosi. Beberapa jam lalu ia membantu mengobati luka Asha, hanya delusi. Terbukti sampai sekarang laki - laki masih arogan seperti saat pertama kali bertemu.


"Kamu tidak perlu marah dan berteriak padaku seperti itu, telingaku sakit mendengarkannya....?!"


"Tidak usah marah kata mu..-? Aku berhak marah! Kamu ceroboh dan bodoh...Aku harus menjagamu sedangkan tidak ada ruang atau waktu untukku menyerang balik mereka. Kamu ini hanya benaluh, menambah beban orang lain saja. Asal kamu tau...!?"


"Sudah...cukup jangan di teruskan..."!


Asha menutup telinganya, air matanya meluncur lembut membasahi pipinya dari pelupuknya. Memalukan memang tidak mau berhenti walau ia sudah menyekanya beberapa kali.


"Tidak ada yang memaksamu untuk melindungiku. Biarkan saja orang - orang itu menghabisiku, apa pedulimu...?! Dan kamu tidak perlu menghinaku untuk membuatku pergi. Ok, aku akan pergi sekarang. Kamu bebas, bunuh mereka semua dengan tangamu dan benalu ini tak akan membebanimu lagi..."


Tanpa bisa di cegah lagi Asha berlari meninggalkan Azam dengan puncak kemarahanya. Mengabaikan rasa sakit pada tungkai kakinya. Gadis itu masuk hutan yang lebih gelap. Makian Azam membuatnya sangat sakit hati. Ternyata laki - laki itu memang sejahat ucapannya, pantas dengan mudahnya dia membunuh orang.


Azam membeku, beberapa saat berlalu dengan keheningan. Dahan - dahan kering menjadi sasaran tendangan atas kemarahannya. Biarlah gadis itu pergi sesuai keinginannya, jika terjadi apa - apa itu resikonya. Setelah memperjuangkan keselamatan gadis itu, Azam merasa miris bahwa ia telah melepaskan Asha menjemput bahayanya kembali.


Berbaring di tanah layang, memandang pepohonan di tengah hutan, langit bertabur bintang. Azam meraskan kesunyian di pejara. Tubuhnya memberontak kesakitan, ia ingin mencari tanaman lain untuk mengobati luka - lukanya. Tapi hutan begitu gelap seolah ia sudah berada dapa dimensi tanpa warna, hanya hitam.


Azam tidak bisa tidur, ia hanya berbaring di atas tumpukan dedaunan kering yang di kumpulkannya. Lelaki itu mengulurkan jemari pada jaketnya dan menarik pistol hitam Glock-17, ia masih sempat meraih benda itu saat tangannya di telikung oleh bandit - bandit itu. Satu benda lain yang masih bisa ia selamatkan adalah korek api gas biasa, bisa dinyalakan. Api kecilnya bergerak - gerak tertiup angin.


Tanpa kompromi, pikirannya kembali tertuju pada Asha. Bagaimana caranya gadis itu bisa melewati jalanan gelap ini..? Bodoh, dimana gadis itu sekarang berada...? Sejauh mana ia meninggalkan Azam? Asha, wajah ketakutannya terbayang di pelupuk mata.


Tujuh jam dibiarkan berkeliaran di hutan tanpa bekal apa pun, apa saja bisa terjadi padanya. Azam memejamkan matanya frustasi. Banyak hal yang bisa saja terjadi pada gadis itu. Gadis ceroboh itu bahkan tidak bisa membedakan mana lubang semut dan mana lubang landak. Bagaimana kalau ada binatang buas memangsanya...? Atau seekor ular berbisa mematuknya...? Ini hutan rimba Kalimantan dan betapa bajingannya Azam melepaskan perempuan itu seorang diri. Secara tidak langsung ia sudah mengirim Asha pada mautnya.

__ADS_1


Ada sesuatu yang menyakitinya saat membiarkan Asha pergi dari sisinya. Waktu Azam dihabiskan hanya dengan menggerutu. Azam sering marah jika berhadapan dengan gadis itu, namun kepergian Asha malah membuat tempramennya kacau sekali. Pria yang masih dengan segala keangkuhannya itu masih menyangkal rasa khawatir dan kepeduliannya. Namun semakin lama ia memerangi maka semakin terbuka jawaban itu.


Azam harus segera menemukan Asha kembali.


Azam memang harus menyusun rencana untuk menyerang balik Guntur dengan menemukan sambungan komunikasi dengan rekan - rekannya. Tapi sebelum itu yang paling penting adalah harus menemukan Asha terlebih dahulu dan memastikan gadis itu dalam keadaan baik - baik saja. Azam berdiri, bermodalkan sebuah korek api ia mulai menyusuri jalan sempit yang di lewati Asha saat gadis itu pergi. Nafasnya memburuh penuh antisipasi, Azam menyibak apa pun yang menghalanginya tanpa peduli hal itu bisa melukainya.


Asha tak mungkin ke arah utara karena disana di penuhi tanaman rambat yang banyak duri, gadis itu pasti berputar balik arah begitu ia mendapat jalan baru. Tapi siapa tahu..? Hutan begitu gelap, pasti gadis itu tidak dapat melihat apa - apa.


"Asha, dimana kamu ?"


Gerutu Azam dengan menyibak semak - semak dihadapannyan.


"Asha, kamu harus mendengarkan ku...kembalilah..."


Azam seperti memegang obor yang berkedap kedip menimpa pepohonan. Tiga jam mencari tanpa ada hasil, dan mungkin sekarang sudah jam tiga subuh. Azam marah dan berteriak di sepanjang jalan, menumpahkan segala kekesalannya dalam hati. Tidak peduli jika teriakannya akan menggema ke penjuru hutan.


"Hei..."


Azam menyentuh bahunya, gadis itu berdiri. Melotot pada Azam dengan mata yang bengkak sempurna. Ya tuhan, apakah gadis itu tidak bisa berhenti menangis?


Asha melongos acuh, namun Azam menghentikan dengan menahan pergelangannya.


"Kamu ingin pergi lagi setelah aku mencarimu kemana - mana..? Jika kamu bersikeras maka aku tak akan menahan, tapi jangan salahkan aku jika kamu bertemu hantu kuyang di tengah jalan, atau bertemu penjahat yang mengejar kita...?!"


Terlihat pergerakan gadis itu melemah, matanya bingung dan mulai menimbang.

__ADS_1


"Ada banyak binatang liar di dalam sini, apa kamu berani menghadapi seekor ular...?!"


Hidung Asha merah, wajahnya berantakan. Azam mengikuti hasrat yang mendorongnya, mengulurkan jemarinya untuk menghapus air mata di sana. Azam merangsek lebih dekat, meneliti parasnya yang cantik seperti dewi malam yang diusir dari kerajaan langit ke dalam hutan. Kulit perempuan itu halus, sehalus kulit bayi. Azam jadi ketagihan menyentuhnya.


Asha yang hanya sebatas bahu terpaksa mendongak untuk menatap Azam, membuat bibirnya sedikit terbuka dengan nafas yang terputus - putus. Gadis itu menguji pertahanan dirinya, dia tidak yakin akan bertahan jika selalu berdekatan dengan makhluk yang paling manis satu ini.


Azam mengangkat dagu Asha, luka goresan pisau lipatnya memerah dengan bekas darah kering.


"Apa sakit...?"


Azam mengusapnya pelan. Senjatanya sudah melukai kulit sehalus bayi itu, Azam merasakan marahnya menggelegak. Luka di pelipis gadis itu bahkan belum sempat ia obati.


"Luka yang ini, apakah sakit...?"


Azam mengulang pertanyaannya namun Asha tak menjawab. Nafas hangat gadis itu menerpa wajahnya.


Manik mata Asha melebar ketika Azam merangkum wajahnya, bibir mereka nyaris bersentuhan tepat ketika gadis itu mendorong dadanya. Azam mundur, berulang kali mengerjapkan mata untuk mengusir pandangannya yang berkabut.


"Maaf..."


Bisiknya linglung, suaranya kalah di telan gemerisik daun - daun.


"Maafkan aku Asha...!"


Gadis itu merasa lidahnya keluh, kira - kira apa yang akan di lakukan Azam jika ia tidak mendorongnya...?

__ADS_1


Alhamdulillah....


like...like...like...


__ADS_2