
Bismillahirrahmaanirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Alihi Sayyidina Muhammad
"Baiklah, demi Tuhanku dan putriku. Tapi ku ingatkan sekali lagi pada mu, wanita di nikahi karena 4 alasan: Harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Maka ambillah putriku nanti sebagai istri sekaligus amanah yang nanti kamu akan di tuntut bertanggung jawab atasnya. Dengan dan bersamanyalah kamu beribadah kepada Allah, di dalam suka juga di dalam duka".
Tapi cinta bertugas untuk menyempurnakan bukan menutupi kekurangan atau kelebihan. Azam mengangguk penuh janji keyakinan.
"Akan aku penuhi semua permintaan anda, tapi bukan semata - mata aku takut kepada bapak. Sebab aku takut hidupku akan lebih buruk dari saat ini, karena putri bapak adalah hidayah dan aku takut jika tidak medapatkannya."
Tanpa di sadari Dirga selalu menghargai keberanian pemuda ini. Tidakkah pembuktian dalam pencarian Asha dan Fahmi minggu lalu menjadi bukti kuat bahwa Azam bisa di percaya.
Bel di luar pintu berbunyi memecahkan atmosfer sakral, Azam menuntaskan pertanyaan Asha lewat pandangannya penuh makna.
"Abi dan Umi ku sengaja datang dari pesantren untuk menemuhi calon menantunya".
...****************...
Ketika nabi Muhammad SAW menikahkan Fatimah dengan Ali, beliau mengundang Abu Bakar dan Khula'ur Rasyidin untuk membawakan persiapan Fatimah. Mereka bertanya, apakah yang sudah di persiapkan oleh beliau untuk putri tercinta dan keponakan tersayangnya itu? Ternyata bekalnya hanya penggilingan gandum, kulit binatang yang di samak, kendi dan sebuah piring. Melihat hal itu Abu Bakar menangis sedih. Beliau bertanya.
"Ya Rasulallah, inikah persiapan untuk pernikahan Fatimah?"
Rasulallah menenangkan dengan berkata.
"Wahai Abu Bakar, ini sudah cukup bagi orang yang ada di dunia"
Dari kisah itulah, telah menggambarkan betapa kesederhanaan sudah mendarah daging pada kehidupan Nabi yang mulia. Bahkan bagi beliau, membuat pesta meriah bukanlah hal yang sulit. Tetapi, bagi manusia yang agung dan suci kemegahan pesta pernikahan putrinya tidak harus di tunjukkan oleh hal - hal yang berhubungan dengan duniawi.
Maka seperti itulah permintaan calon istri yang di kabulkan Azam.
"Ya Khairul Azam, Uzawwijuka 'ala ma amarallahu bi ihsanin".
"Na'am"
Iqbal Dirgantara semakin mengeratkan jabatan tangan mereka.
"Ya Khairul Azam, Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubathaka Asha Azzaliyah Zahra binti Iqbal Dirgantara bi mahri mushaf Al-qur'an wa alatil 'ibadah halaan".
"Qobiltun nikahaha wa tazwijaha bi mahril madzkuur halaan".
Asha mengerjapkan matanya kala Azam berhasil melaksakan tugasnya dalam sekali tarikan nafas. Seolah menyaksikan guncangan dahsat Arsy Allah dengan mata kepalanya sendiri, hingga menusuk ke dalam jiwa. Setitik air mata jatuh di atas pipinya yang di beri perona. Asha menatap lekat pada cermin, perempuan dalam pantulannya bukan lagi seorang gadis.
Setelahnya, runtunan doa di kumandangkan KH. Abdurrahman Lathif dengan syahdu. Ketenangan mengisi ke seluruh penjuru keluarga Iqbal Dirgantara dengan Khidmat.
__ADS_1
"Aamiinn...ya Rabbal' alamin"
Hanifah tersenyum padanya, bangga dan penuh haru. Asha langsung menghambur ke dalam pelukannya saat ia merentangkan kedua tangannya.
"Putri ku...luruskan niatmu dalam berumah tangga. Jadikanlah pernikahan ini menjadi ladang pahalamu, terima dan sambutlah suamimu penuh cinta dan ketaatan. Layani dia dengan kehangatanmu. Bantulah dia dengan kesabaran dan do'a mu. Bangkitkan dia dengan keceriaan dan kelembutanmu. Tutuplah kekurangan dia dengan mulianya akhlakmu. Saat kamu sudah melaksanakan semuanya, maka tidak ada gelar terindah yang pantas kamu sandang melainkan gelar Mas'atus shalihah".
Lantas Hanifah mengecup kening Asha.
"Nasehat Mama adalah kewajiban untukku, terima kasih karena Mama sudah ikhlas melepasku untuk hidup dengan orang lain. Semoga aku bisa menjadi penganting yang mendampinginya selalu dalam kesabaran seperti Mama!"
Hanifa mengusap air mata putrinya yang menggantung pada bulu matanya yang lentik dan indah.
"Kamu pasti mampu melakukan dengan baik".
KH. Abdurrahman Lathif beserta istrinya mendatangi Asha.
"Ketahuilah anakku, bahwa pernikahan ini menyebabkan kalian harus lebih berbagi. Orang tua, saudara bahkan sahabat - sahabat kalian akan bertambah. Tentu semua itu akan memperpanjang tali silaturrahmi, memperlebar tempat berpijak, serta memperluas pandangan. Kami sangat beruntung memiliki menantu sepertimu".
Asha memeluk Nyai Halimah namun matanya memandang Kiyai Lathif.
"Terima kasih...!"
"Abi...!"
Azam tak mampu berkedip ketika Asha di sandingkan duduk dengannya. Pemuda itu terpanah dengan penampilan Asha yang menggunakan gaun pengantin berwarna putih di hiasi payet bunga - bunga. Menampilkan kesan yang manis pada wajahnya yang selalu tampak cantik. Asha bak bidadari dan wanginya surga saat Azam mencium keningnya.
"Kamu adalah wanita yang akan aku jaga nyawa dan kehormatannya dengan hidupku. Tetapi ingatlah Asha, kamu menikah dengan manusia biasa"
Bisikannya menyerupai peringatan, Asha menatap mata sehitam jelaga itu. Masih setajam kali pertama mereka bertabrakan di kantin kampus.
"Yah, aku tahu!"
Balas Asha berbisik sambil menyodorkan pena untuk menandatangani buku nikah mereka.
Azam memeluk erat tubuh Iqbal Dirgantara, mengucapkan ribuan terima kasih yang tersirat sebab tanpa restunya ia tak akan merasakan sebahagia ini dalam hidupnya.
"Apa ada petuah yang ingin Anda sampaikan, ayah mertua?"
Iqbal membalas dengan menepuk pundak Azam.
"Selalu ingatlah, lelaki memang sebagai pemimpin bagi wanita. Tunjukkan kemampuanmu dalam menafkahi, mengajari dan mengayomi. Raihlah kewibawaan agar istrimu patuh di bawah pimpinanmu. Jadilah suami yang bertanggung jawab, arif, lemah lembut sehingga istrimu merasa hangat dan tentram di sisimu. Berusahalah menjadi teladan yang baik baginya sehingga dia bangga bersuamikan dirimu. Inilah saatnya untuk membuktikan bahwa kamu adalah laki - laki sejati yang bukan hanya kuat di luar saja, Khairul Azam. Tak ada toleransi kalau kamu sampai menyakitinya!"
"Tidak ada yang berani menyakiti dirinya, aku telah berjanji di hadapan Rabbku. Jadi pak Letnal Kolonel, anda tidak perlu khawatir tentang itu. Sebab aku rela tenggelam ke neraka lewat pintu mana saja jika berani menelantarkan putrimu".
Arkha mulai mendekati mereka dengan membawa sepotong kue dengan kancing kemeja yang sengaja di buka bagian atasnya.
__ADS_1
"Sayangnya aku tak punya pesan apa - apa untuk, hanya saja kalau kamu sampai berani menyakitinya akan aku pastikan nasibku akan sama seperti kue ini!"
Kue itu langsung masuk ke dalam mulut kakak laki - laki Asha itu.
Azam menaikkan alisnya melihat Arkha menjadi kesulitan berbicara karena menahan batuk sebab kue itu terlalu penuh dalam mulutnya.
"Sebaiknya kamu ambil air minum dulu, dan aku akan selalu mengingat kata - katamu"
Bagaimana pun Azam harus berterima kasih pada lelaki itu karena sudah bersedia di langkahi adiknya menuju pelaminan.
"Semoga pernikahanmu menjadi Sakinah, Mawaddah dan Warahmah..."
Fahmi tersenyum kepada Asha sambil menyalami Azam. Sinar matanya meredup.
"Terima kasih Mimi, semoga kamu juga lekas sembuh"
Otomatis tangan Fahmi meraba bagian wajahnya yang di balut perban.
"Tentu saja, lukaku akan segera mengering!"
Tanpa di sadari tangan kanan Fahmi terjatuh di dadanya. Tempat dimana organnya berdenyut lemah kala melihat Asha di rengkuh Azam dengan posesif.
"Aku permisi ke toilet, kurasa plesternya hampir copot"
Fahmi undur diri, Asha hanya tersenyum dan memandang punggung pemuda itu yang semakin menjauh.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Asha mendongak menatap mata Azam yang menyipit. Jari manisnya yang di hiasi cicin kawin mengulas lembut alis Azam yang membentuk galak karena curiga.
"Aku sedang meresapi ucapan Mimi"
Kata Asha misterius, sementara Azam tak bisa menahan diri lagi untuk tidak menarik pinggangnya kian mendekat.
"Kamu berani mengatakannya padaku?"
Suaranya lebih menarik saat sedang cemburu.
"Ucapan Mimi harusnya bisa aku revisi...!"
Asha berbisik halus sambil berjinjit agar lebih dekat.
"Sebab menurutku, Mawaddah itu ketika cinaku dan cintamu tumbuh bersemi setelah akad!"
Menuju episode Romantic kok susahnya minta ampun...
__ADS_1