
Bismillahirrahmaanirrahim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad
Sejaka awal, kehamilannya memang di klaim beresiko tinggi. Kehamilan pertama penuh ujian. Asha tahu tumbuh kembang si bayi membuat tubuh inangnya melemah, menyedot seluruh energi. Tekanan stress yang di alaminya adalah pemicu utama buruknya daya tahan Asha, sehingga ia harus rela keluar masuk rumah sakit menanggung penderitaanya.
Hingga usia kandungannya berusia 6 bulan, mimpi buruk itu menerjang Asha. Ketika gerakannya melambat karena perut membuncit, di sertai metabolisme yang semakin menurun.
Setelah makan, tubuhnya merosot ke lantai. Mengerang merasakn putaran di perutnya seperti gelombang tak tertahankan.
Asha sepenuhnya tersungkur ketika Hanifah datang dengan tergopoh - gopoh menghampiri. Cemas bukan main, menjerit Hanifah membantunya berdiri.
"Ya Allah, Asha. Istigfar nak, sebut nama Allah!"
Asha merasa kebasahan di bagian bawah, sejenak berpikir kalau ia mengalami pendarahan hebat lagi. Tapi dugaan Asha salah, ketubannya pecah. Rasanya seperti seseorang menarik ikat pinggang kita dengan sangat kuat selama 20 detik, sakit sekali.
Sepanjang hari itu Asha merasakan sakit terus menerus, meski ada jeda di setiap kontraksinya. akhirnya Asha di larikan ke rumah sakit agar mendapat penanganan berkala.
Tangisannya berderai karena ketakutannya akan kondisi bayinya. Asha berusaha keras merasakan tendangan kaki agar ia tahu bahwa anaknya masih bertahan.
6 bulan, demi Allah bayinya masih berumur 24 minggu lebih 3 hari. Bagaimana mungkin anaknya harus di paksa keluar secepat itu?
Asha menyusuri jemarinya yang terpasang infus.
"Bergeraklah, tolong. Lakukan apa saja yang meyakinkan Mama bahwa kamu masih bertahan nak".
"Kalian akan selamat. Kamu dan cucu Mama baik - baik saja. Kalian yang akan mendampingi Mama di masa tua ini"
Tegar Hanifah, mengelus perutnya hingga ia merasa nyaman.
Asha menganguk, tak menyangka detik - detik perjuangannya akan di lalui sendiri. Segala kesakitan yang tak tertahankan itu, hanya dengan kehadiran Hanifahlah dia kuat mengahadapi. Tanpa Azam, nama itu terlintas. Semakin ingat, maka Asha semakin tahu ia merindukannya setengah mati.
...****************...
Asha sempat mengalami koma selama beberapa jam karena pendarahan hebat, betul - betul keajaiban ibu dan anaķnya selamat. Asha sudah di pindahkan ke ruang steril, sedang bayinya buru - buru di masukkan ke dalam inkubator. Di bantu dengan alat pernapasan, sebab jantung dan paru - parunya mengalami gangguan. Mungkin karena usia bayi prematur, namun secara keseluruhan organ - organnya sudah sempurna.
Tertera papan nama Arsenio Ashfahaniy Wiratama, sejumput nama yang di hadiahkan untuk putra pertamanya. Bayi laki - laki itu lahir dengan berat 1,3 kg, begitu kecil namun luar biasa tampan dengan hidung mancung yang meruncing. Asha tidak tega karena di situ di pasang beberapa selang alat bantu pernapasan.
"Tegarlah putraku, kamu sudah sampai sejauh ini. Maka bertahanlah untuk Mama. Kamu harus hidup, satu - satunya milik Mama".
__ADS_1
Seolah mendengar, bayi itu balas bersuara. Ya Allah, bahkan suaranya saja sudah bisa menggetarkan relung jiwa.
Si perawat hendak membuka kotak kaca saat layar pendeteksi jantung menyala merah. Asha ikut panik, melihat gerakan bayinya kian melemah. Di sela Asha menggedor kaca dengan pelan, perawat itu berlari meninggalkan Asha dan kembali bersama seorang dokter.
Tampang Dokter dan perawat itu mendadak pucat. Asha tak begitu fasih berbahasa Belanda. Tapi ia tau apa yang di katakan dokter itu, bahwa bayinya telah tiada. Diambil kembali oleh pemiliknya sesungguhnya.
Sejenak Asha merasakan hembusan juba malaikat yang membawa Arsen nya terbang ke langit. Sebelum semuanya berubah bak kota yang di terjang tsunami.
...****************...
Jakarta, 2021
Dering telephon itu memecah lamunannya, Azam melirik ponselnya dan tertera nama prof. Yasin di sana.
"Asaalamualaikum, Wa Haji"
Azam bersuara sambil memasang Headset, menyetir mobil.
Balasan salam terdengar kemudian, suara tua itu lantas menegur Azam atas absennya menghadiri diskusi jum'at. Terlebih Azam membatalkan pertemuan mereka sebanyak 2 kali.
Azam mencari alibi.
Helaan napas panjang terdengar.
"Baiklah aku maafkan, tetapi untuk itu kamu harus datang ke rumah keluarga besarku, Khairul Azam. Ajak ke dua orang tuamu untuk mengikuti acara makan malam ini. Abinya Yasmin, adik kandungku ingin bertemu dengan salah satu dosen muda yang berprestasi ini"
Giliran Azam yang menghela napas panjang. Baru beberapa saat lalu ia di hadapkan pada masalah, sekarang apalagi ini?
"Aku punya dokumen dari Fakultas yang___!"
"Urusan kampus bisa kamu kerjakan usai pulang dari rumahku bukan? Tolonglah, nak. Jangan menolak permintaan seorang ayah yang telah datang jauh - jauh dari Abu Dabhi?"
Apa? Azam jelas tak pernah menyuruh adiknya Prof. Yasin pulang ke tanah air. Dan kalau ini soal mengkhitbah, maka Azam sudah sepatutnya mewanti - wanti. Tapi sekali lagi, betapa tidak enaknya Azam menolak permohonan Prof. Yasin.
"Baiklah, aku akan datang"
"Bersama kedua orang tuamu?"
"Aku tidak berjanji"
Azam tahu jawabannya mengecewakan, tapi Prof. Yasin mengerti dan berkata lain kali Sam beserta Seruni harus mampir ke kediamannya untuk santap makan malam bersama. Azam mengiyakan saja.
__ADS_1
Lantas Azam pulang ke rumah saat hari sudah gelap, datang dengan muka payah yang keterlaluan. Azam merasa hari ini sangat mengenaskan. Diantara kecamuk pikirannya, Seruni datang tepat setelah deru mesin mobil Jeepnya berhenti meraung. Menyambut di bibir pintu dan cemas melihat kekusutan pada putranya.
"Apa yang terjadi? Kamu tidak pulang seharian, tidak bisa di hubungi, membuat bunda khawatir. Ayahmu bahkan mengirim sub-unit kesatuannya untuk mencarimu di setiap kota".
Azam ingin melepas tawa melihat ibunya merajuk namun tak pernah bisa melakukan dengan baik.
"Sayangnya mereka tak berhasil menemukanku. So, pencarian itu bisa di hentikan sekarang"
Sahutnya, menekan pada tindakan Sam yang sedikit berlebihan. Sontak saja Seruni memukul lengan Azam, untungnya pelan.
"Anak nakal, masih bisa kamu ya mencadai bunda seperti itu?"
Azam mencium tangan Seruni setelah memberinya hukuman.
"Maaf membuat semua cemas, aku pergi menemuai Arkha Dirgantara di Madiun".
Seruni mensejajari langkah Azam, mengikuti jejak kaki putranya hingga memasuki dapur.
"Kakaknya Asha kan? yang bertugas di Batalyon Kediri itu?"
Azam mengangguk.
"Apa yang kamu bicarakan, nak?"
Azam membuang kaleng minuman bersoda.
"Bicara banyak hal, soal Asha"
Azam bergumam.
"Hm, siapa lagi yang mampu mengusik hidupku selain perempuan itu"
Seruni secara inplusif berjalan mendekati Azam, menyender kaku dan kecewa.
Azam tak tahan, ada seseorang yang menawarkan pundak padanya dan ia tak sanggup menolak hangatnya kasih sayang.
Azam menyungkurkan diri ke dalam pelukan ibunya, memejamkan mata, menahan gejolak yang seolah memerintahkan dia untuk menghancurkan dirinya sendiri. Lari.
"Aku punya seorang putra, tapi dia meninggal".
Bisik Azam, dan bisikannya menghilang di telan angin lewat lubang udara.
__ADS_1