MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#7


__ADS_3

Matahari siang di bulan Desember ini sangat cerah, berkawan angin sepoi yang seakan meniup gerombolan benda menyerupai kapas putih yang membentuk replika biri - biri yang tengah merumput. Satu dua membuat siluet layang - layang yang tinggi bersama gradasi jingga dari sinar mentari. Langit, seperti apa pun warnamu atau cuacamu semesta tetap membutuhkanmu.Di bawah lukisan indah itu orang - orang tenggelam dalam aktivitasnya.


Sebuah mobil terdapat dua orang anak adam yang sedang melaju kencang seolah sedang diburu waktu, walaupun sebenarnya tak ada yang memburu mereka. Mengendalikan mesin yang berlapiskan baja dengan kecepatan diatas rata - rata mungkim dianggap hal yang wajar bagi mereka.


Azam ingin segera sampai di Apartemen dan membersihkan diri setelah seharian berada di Laboratorium kesatuaanya. Menyiapkan beberapa keperluan yang mereka bawa ke Kalimantan sebelum mereka libur 3 hari.


"Libur tiga hari yang bos berikan akan aku manfaatkan sebaik mungkin..."


Fahmi seorang pengemudi di balik kencangnya laju mobil dengan santai mengajak ngobrol orang yang berada di sampingnya.


"kamu tak akan menemukan dunia terindah selain dunia Cartoon terbodoh mu itu...!"


"Tentu saja Memaid Man...bagiku tak ada yang lebih menarik dari Cartoon Sponge Bob ku...!"


Azam mebuang muka pada kaca yang berada sebelah kirinya.


Penggemar berat Cartoon Sponge Bob itu membuat Azam jengah dengan tingkahnya yang terkadang kekanak - kanakan dengan seharian penuh mengahadap layar LCD besar hanya untuk menikmati Cartoon bodoh menurut Azam.


"Apa salahnya jika aku sedikit memanjakan diriku sendiri sebelum nantinya aku juga harus bergelut antara hidup dan mati dalam tugas kita nanti..."


"Entahlah...aku kira otak mu memang sedikit bergeser. Di usiamu yang hampir genap 26 tahun namun kelakuanmu layaknya bocah balita..."


"Ayolah...nikmati hidup ini, jangan anggap semua butuh keseriusan..."


"Ckkkk...."


Azam sama sekali tak menggubris ucapan terakhir Fahmi.


"Oh God...kaku sekali saudaraku ini..."


Fahmi menjadi sedikit terkekeh setelah mendapatkan tatapan elang dari Azam sebelum ia melanjutkan ucapannya.


"Mampir sebentar Azam,aku sedikit ada keperluan..."


"Aku tidak punya waktu banyak...lebih baik kamu antar aku pulang terlebih dahulu..."


"Hanya sebentar...kita juga harus berhemat BBM kan..."

__ADS_1


"Persetan dengan urusanmu itu...antar aku pulang dulu atau terpaksa kamu harus memesan kendaraan Online saja..."


"Well....dua ratus ribu terlalu mahal untuk ku berlagak jadi orang kaya. Ayolah kawan, tidak lebih dari satu jam...?"


Fahmi terus memaksa sang kapten untuk mengantar kepentingannya.


"Seberapa penting urusanmu itu sampai kamu berani memaksaku. Sedang kamu sudah tahu aku tidak suka di paksa...!"


"Hari ini sepupuku memenangkan kejuaraan Indonesia Medical Olympiad, aku ingin memberikan dia sedikit kejutan. Hanya sebuah rangkain bunga. Kita mampir sebentar membeli dan pergi ke Universitas Ibnu Hamka, Ok...!"


"Fahmi...turunkan aku disini,Aku saja yang menggunakan kendaraan Online dan kamu bisa pergi dengan sesukamu..."


"Ayolah Khoirul Azam...buang pikiranmu untuk menghambur - hamburkan uangmu. Lebih baik kamu bisa berikan itu kepada fakir miskin selagi ada kesempatan..."


Azam benar - benar jengah jika harus berdebat dengan anak buahnya yang satu itu. Walau sampai matahari terbit dari barat, argument Fahmi tak akan pernah ada yang dapat mengalahkan. Dan itu sudah diakui dalam kesatuannya.


...****************...


Gadis manis berkerudung pasmina motif bunga - bunga itu sedang sibuk merapikan beberapa peralatan yang ia bawa pada acara Olympiade kali ini. Mahasiswa dengan segudang prestasi itu sesekali terlihat masih sibuk menerima berbagai ucapan selamat dari para petinggi Universitas Ibnu Hamka karena rasa bangga mereka kepada anak didiknya.


Namun dengan segala kecerdasan Asha ia bisa mengungguli skor dengan menjawab tiga pertanyaan terakhir dengan nilai masing - masing 150 poin setiap jawaban yang benar.


Asha unggul dengan 1150,5 poin dari Universitas Erlangga dan Universitas Indonesia. Kendati banyaknya izin dari perkuliahan membuat Asha semakin bersyukur atas keberhasilan yang ia dapat.


"Ya salam..betapa encernya otak sepupuku ini Tuhan...!"


"Fahmiii....sejak kapan kamu disini..."


"Jangan katakan aku tidak tau keberadaanmu,karena GPS sang khalik sudah aku gantungkan dalam otakmu untuk mengintai setiap jengkal langkahmu..."


Binar - binar kebahagian terpancar jelas pada netra Asha.


Selain juara yang baru saja ia raih, dia juga sangat bahagia karena bisa bertemu dengan sepupu kesayangannya yang sudah hampir 2 bulan ini tak pernah menampakkan batang hidungnya.


Fahmi sudah seperti kakak kandung bagi Asha,mengingat ayah Fahmi sudah meninggal sejak Fahmi berusia 15 tahun di susul ibunya juga meninggal satu tahun kemudian membuat orang tua Asha merawatnya selayaknya anak sendiri.


Setidaknya dalam satu minggu Fahmi selalu menyempatkan bermalam satu hari di rumah Asha.

__ADS_1


Tapi entah kenapa Akhir - akhir ini Fahmi jarang menampakkan dirinya yang selalu beralasan jika pekerjaannya tidak memberikan libur padanya.


"Terima kasih Mimi...kenapa harus repot - repot...aku bukan menang dalam menyandang gelar Dokter. Hanya saja aku baru memenangkan sebuah perlombaan...!"


Asha menerima Bucket bunga dari Fahmi dengan suka cita.


Jangan lupakan panggilan kesayangan Asha untuk Fahmi adalah Mimi yang menurut Asha itu adalah nama yang sangat lucu. Mengingat saat kecil Fahmi tidak pernah mau menumbuhkan rambutnya, ia selalu mencukur habis rambutnya agar kelihatan gagah layaknya perwira negara dan itu sangat lucu bagi Asha.Tentu saja spoiler itu diambil dari sang paman yang tak lain adalah ayah Asha,Dirga.


Sedari kecil ia tak pernah lolos saat memulai pendidikan di dunia militer. Terhitung sudah empat kali lebih Fahmi mendaftarkan diri juga dorongan dan semangat dari kedua orang tua Asha membuatnya semakin termotifasi menjadi bagian dari kesatuan Anggkatan Darat.


Namun faktanya ia memiliki riwayat penyakit Minopia yang mengharuskan Fahmi tak bisa lepas dari kaca mata tebalnya maka fahmi tak pernah lolos dalam ujiannya.


Namun berkat otak encernya ia bisa diterima dalam kesatuan G02RM dalam bidang mengoprasionalkan bahkan bisa disebut sebagai Hakcher yang terbiasa berkutat dengan benda - benda electromaknetik yang mungkin bagi sebagian kaum awam itu bukanlah hal yang biasa.


"Bagaimana kabar mu Mimi....kamu sekarang jarang sekali ke rumah...?"


Asha mulai membelai bunga yang baru saja ia terima.


"Maafkan aku Sha...aku benar - benar sedang sibuk..."


"Mama selalu menanyakan keberadaanmu, beliau bahkan tak percaya dengan segala alasan yang kamu berikan padanya. Apa yang sebenarnya yang sedang kamu kerjakan Mi..."


Fahmi tercekat,suaranya tak selancar sebelumnya.Pekerjaaan yang ia dalami benar - benar penuh rahasia.


"Sampaikan salamku untuk mamamu...Insha Alloh besok aku akan pulang..."


"Awas saja kalau kamu sampai mengingkari janjimu..."


Asha dengan bibir sedikit mengerucut menampakkan keseriusannya saat kata terakhir yang ia ucapkan.


"Alloh...aku sampai lupa...aku datang bersama kawanku..."


Fahmi melupakan Azam yang sedari tadi berdiri di ambang pintu,ia tak menyukai tempat itu.


"Akan aku perkenalkan kamu dengan sahabat baikku, dan aku pastikan ia pasti memahami dunia medismu..."


Asha hanya tersenyum manis saat Fahmi mulai memanggil dengan melambaikan tangannya ke arah Azam.

__ADS_1


__ADS_2