
"Maaf..."
Bisiknya linglung, suaranya kalah di telan gemerisik daun - daun.
"Maafkan aku Asha...!"
Gadis itu merasa lidahnya keluh, kira - kira apa yang akan di lakukan Azam jika ia tidak mendorongnya...?
"Apa yang ingin kamu lakukan padaku...?"
Lelaki itu menyugar rambutnya yang hitam untuk mengusir kegugupannya.
"Tidak ada. Tapi kamu harus tetap bersamaku Asha. Aku berjanji akan menjagamu...!"
Kata - kata itu bagai sihir pelindung Asha. Dia merasa tubuhnya di aliri perasaan hangat. Terlunta - lunta dalam hutan yang gelap membuatnya sangat ketakutan, dan kehadirannya telah membuatnya lebih baik.
"Baiklah, sekarang dengarkan aku. Apa kamu mempunyai sesuatu yang bisa membantu kita untuk bertahan disini...?"
Asha mengeluarkan ponsel dari saku gaunnya yang kotor. Ternyata benda itu yang sanggup menemani Asha dalam hutan yang gelap ini.
Azam mengambil ponsel dari tangan Asha.
"Aku mungkin bisa melakukan sesuatu pada benda ini untuk keuntungan bersama. Akan aku simpan baik - baik. Tunggu matahari terbit aku akan membongkarnya..."
Asha mengangguk.
"Tidurlah, aku yang berjaga..."
Asha menyetujui, tubuhnya terasa remuk. Jaket Azam dijadikan selimut. Hangat dan wangi Musk. Seketika matanya terasa berat, Asha mencoba menutup mata dan tidur. Gadis itu lantas tertidur setelah merasa terjaga selama bertahun - tahun.
Azam menatap wajah damai Asha saat terlelap seperti di khahyangan bukan di hutan belantara. Phasminanya terjatuh di atas dedaunan. Sosok feminim itu sudah membuat Azam ingin menjaganya selalu.
Azam sadar bahwa gadis itu pucat dan bibirnya pecah - pecah, ia berniat mencari sumber air atau tanaman apa saja yang bisa menghasilkan air.
"Mau kemana...?"
Azam membalikkan tubuhnya dan Asha sudah duduk tegap.
"Mau mencari air, kamu tunggu disini...!"
Azam memberikan perintah yang tak tersirat agar Asha tetap melanjutkan istirahatnya. Namun gadis itu menggeleng dengan keras kepala.
"Aku juga harus mencari air untuk berwudlu..."
__ADS_1
...****************...
Sepanjang hari ia sudah melakukannya, namun Azam tidak menemukan apa - apa, membongkar ponsel Asha tidak membuahkan hasil yang berarti. Meminta Asha agar tidak menggangunya tapi tidak ada alat apa pun yang dapat membantunya. Lebih baik waktunya di pergunakan untuk mencari makanan saja, beruntung ia menemukan buah asing yang jatuh di atas tanah.
Asha sendiri tidak pernah mengeluh dan tetap mengikuti cara bertahan hidupnya. Setiap satu jam sekali mereka berpindah tepat baru, meski mereka tak mendengar suara pengejaran atau tanda - tanda manusia sekecil apa pun.
Setidaknya itu sudah membuat Azam lega karena tak perlu lagi memaksa gadis itu untuk tetap berlari dengan luka kaki yang sangat menyakitkan itu.
Sesekali ia memergoki gadis itu sedang memerhatikan dirinya walau tak ada pertanyaan yang ia ajukan jika bukan Azam yang menegurnya.
"Kenapa...? Jangan mencoba memancing di air keruh...?!"
"Aku bahkan tidak bisa memancing...!"
Ya salam...bahkan kelakarnya pun dianggap serius.
"Apa bisa, kamu melakukannya...?"
Azam memotong batang sebuah pohon dan diambil airnya untuk di konsumsi bersama Asha jika rasa dahaga menyerang. Terasa hambar, tapi aman untuk diminum.
"Oh ya, jangan - jangan kamu seorang cenayang...?"
Azam bergerak mendekat dan membuat gadis itu gelagapan atas aksinya. Namun wajah Azam datar tanpa ekspresi. Keras dan dingin.
"Sayangnya aku bukan cenayang..."
"Tapi aku seorang intel, Asha. Mata - mata..."
Bisikan lembut dan penuh peringatan.
"Dan salah satu tugas yang biasa aku kerjakan adalah membunuh orang..."
...****************...
Malam ini menjadi malam kedua mereka berada di dalam hutan. Asha masih berusaha mencari sinyal ponsel, tapi sia - sia. Azam sudah memperingatkan hal bodoh itu, tapi Asha tetap cuek. Anak buah Guntur mungkin akan sulit menemukan mereka, namun taring harimau lapar siap memangsa.
Azam duduk dengan kaos hitam yang dijadikan santapan bagi nyamuk - nyamuk hutan yang ganas. Berkali - kali Asha memaksa Azam untuk memakai jaketnya, tapi ia berkeras kalau Asha lebih membutuhkan. Asha akhirnya menyerah membujuk setelah pemuda itu melototi dengan mata garang dan tajam.
Di depan perapian yang membakar kayu mereka menghangatkan tubuh. Murattal Al-Qur'an karim dengan lantunan irama bayati terdengar dari ponsel Asha, terasa menenangkan.
Asha memperhatikan pemuda itu, yang terpengkur dalam diam dan merunduk. Azam terlihat berbeda seolah menyingkap dirinya yang sebenarnya. Bibir Asha mengulas senyum mengingat sebuah kisah yang sering Hanifa bicarakan.
"Kamu seperti Hajjah bin Yusuf, Azam..."
__ADS_1
Azam mengerutkan keningnya, matanya sayup - sayup terbelai angin malam. Kelembutan mulai membelai hatinya.
" Hajjah bin Yusuf adalah gubenur Irak di zaman pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwah"
"Lalu apa yang ingin kamu samakan...? Aku tidak bekerja di pemerintahan Arab...!"
Lama kelamaan Asha mulai terbiasa dengan nada suara Azam yang kaku dan ketus bukan main itu.
"Imam adz - Dzahabi mengatakan bahwa Hajjah adalah pemimpin yang sangat Dzalim, ambisius, perfeksionis dan kejam. Ada yang mengatakan, Hajjah telah membunuh kurang lebih 3000 nyawa...!"
Azam sedikit mengangkat wajahnya, agaknya ia tahu arah pembicaraan Asha. Bahkan jika seluruh dunia tahu pekerjaan Azam, tak akan merubah banyak.Azam akan tetap menyandang predikat zalim, kejam, ambisius dan sifat - sifat buruk yang disebutkan Asha.
"Karena rekam jejak yang buruk itu, sangat jarang kita mendengar kisah baik dari perjalanan hidup Hajjah. Namun siapa sangka jika sosoknya adalah orang yang mudah tersentuh dengan bacaan - bacaan Al-Qu'an..."
Asha membalas senyum tatapan Azam.
"Hajjah memiliki sifat lain yang mempesona. Dia pemberani, ahli strategi, dan rekayasa. Fasih dan pandai bernegosiasi, serta sangat menghormati Al-Qur'an. Abu Sa'id meriwayatkan bahwa Hajjah pernah berkhutbah,
" Hai anak adam, sekarang kamu masih bisa makan. Esok kalian yang akan di makan..."
Lalu Hajjah membaca surat Ali Imron ayat seratus delapan puluh lima, dia mengangis hingga membasahi surbannya. Aku rasa, ini lah yang dinamakan bahasa Al-Qur'an, ini kalamullah, yang dapat menghancurkan gunung batu karena takut dan tunduk pada Alloh...!"
Asha menutup mata, tanpa di duga gadis itu melantunkan ayat Al-Qur'an QS.Al - Hasyr.
"Seandainya Al-Qur'an ini kami turunkan kepada gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah..."
Azam terhenyak, mata mereka bertemu pada satu poros yang mendebarkan.
"Hatiku bahkan lebih keras dari gunung, Asha...!"
Azam membuang pandang ke segala arah. Kenapa sulit sekali mempertahankan kontak mata dengan gadis itu? Setelah Asha membacakan makna dari ayat yang menyentil sudut hatinya.
" Tidak, kamu membohongi dirimu sendiri. Aku bisa melihat betapa mudahnya kamu mentadzabburi ayat - ayat Allah..."
Asha paham, Azam tak akan mungkin mengetahui maknanya jika dia adalah seorang awam.
"Kapan terakhir kali kamu shalat...?"
Azam, merasa topengnya telah tebuka, suara bergetar saat menjawab.
"Aku tidak tahu....!"
Cahaya itu masih tertinggal di mata Azam, sebab bekas - bekasnya masih singgah meski diselimuti awan hitam. Sebagai ganti awan itu, maka turunlah hujan.
__ADS_1
Asha ingin mengembalikan cahaya itu untuk mengusir pengaruh buruk yang membungkusnya.
" Kalau begitu, apakah kamu bersedia shalat isya' berjama'ah denganku...?"