
Bismillahirrahmaanirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Muhammad
Wa'ala Alihii Sayyidina Muhammad
Laptop itu kini di gunakan sebagai sumber informasi. Azam meneliti setiap opoini publik tentang kasus Steven Yan. Tidak sengaja melihat salah satu komentar dari seorang netizen. Disitu di jelaskan bahwa Steven Yan pernah menjalin bisnis kotor dengan seorang anggota TNI berpangkat prestisius.
Azam menengadah ke langit - langit ruang kerjanya, sesekali menoleh ke etalase kaca yang di penuhi koleksi miniatur pesawat terbangnya. Miniatur - miniatur gagah yang sering di bersihkan Asha.
"Angota TNI? Anggota TNI dan Steven Yan juga Sahrir Tanjung?"
Kata itu terus di ulang - ulang, seperti menemukan jalur yang tepat. Kalau benar apa yang pernah di katakan Iqbal Dirgantara.
Tak sia - sia pencariannya untuk menemukan titik terang, sebuah buku angkatan militer milik Dirga membantunya dalam menguak berbagai kemungkinan. Satu nama yang pernah tersandung kasus perjudian bersama Steven Yan di Club malamnya, hanya satu nama itu yang akhirnya mendapat pembersihan nama baik kembali. Lantas kasusnya menguap begitu saja.
Azam menjangkau ponselnya, cekatan menemukam nomer mertuanya. Semoga saja laki - laki itu tidak marah karena waktu istirahatnya terganggu.
"Ya?"
Tersambung di dering ke tiga.
Azam langsung menyambar.
"Setuju, aku akan ikut rencana kesatuan Papa. Aku akan ikut mengintai Sahrir Tanjung"
Azam mengernyit, mengapa menyebut namanya saja lidahnya tidak nyaman.
Suara malam Iqbal Dirgantara di awal sambungan langsung berubah. Kesediaan menantunya akan menjadi kesempatan luar biasa.
"Bagus, aku menunggumu di kantor Batalyon"
"My Hubby, sudah terlalu malam waktu untuk bekerja. Lihat jam dinding tuh? Abang juga butuh istirahat!"
Asha sudah lewat dua kali di depan pintu ruang kerjanya yang di biarkan terbuka, membawa setumpuk pakaian sudah di setrika. Libur di Rumah Sakit, seharian sibuk dengan pekerjaan rumah.
Konsentrasi Azam jadi terpecah dua, antara meneliti informasi dan mencuri pandang pada bayangan gaun tidur Asha yang memantul ke tembok. Sialan benar, kenapa istrinya yang cantik itu harus pakai kain sependek itu? Selain mengganggu pada pekerjaannya yang menumpuk, hal itu juga bisa berakibat fatal dengan menimbulkan fantasi di kepalanya. Hanya bibir Asha dan tubuhnya yang bisa di peluk menghantui sepanjang jam Azam berkutat dengan ratusan kertas - kertas.
Azam menutup sedikit speaker ponselnya.
"Aku akan datang jam 8 pagi, dengan Hamzah"
Azam memukul pelan pundaknya, membaca dan meresapi kasus ini memdadak membuat kepalanya berdentam hebat. Agaknya ia membutuhkan sebutir pil aspirin seperti biasa.
"My Hubby, take a rest..."
Asha berteriak, langkahnya yang kecil - kecil semakin mendekat.
__ADS_1
"Sampaikan salamku padanya"
Suara dan intonasi Iqbal Dirgantara tiba - tiba berubah lunak dan penuh rindu untuk putri semata wayangnya.
"Akan aku sampaikan"
Sahut Azam hormat, memutus sambungan percakapan mereka tak lama kemudian.
"Apa perlu aku matikan Laptopnya?"
Wajah cemberut Asha muncul di samping pintu, lucunya saat istrinya merajuk seperti itu.
"Tidak perlu, aku bisa melakukan sendiri"
Azam mengulum senyum, lelah dan pusingnya hilang seketika karena Asha. Di bereskannya Laptop dan buku - buku penting.
Namun Asha malah melongos pergi.
"Baiklah, kalau tuan besar tidak butuh bantuanku!"
Azam mengangkat alis, Asha pergi begitu saja. Namun Azam tak habis akal, di bukanya aplikasi Line. Emoticon cium itu biasanya selalu membuat Asha luluh. Azam rela receh demi istrinya.
...****************...
Lettu Pandjaitan menggenggam erat ketika mereka berjabat tangan, menatapnya sambil mengingat - ingat sesuatu. Untung suasana canggung itu segera mencair saat sosok Iqbal Dirgantara memasuki ruangan dengan pakaian militer biru langitnya. Sang Lettu kemudian angkat bicara.
"Aku telah berteman puluhan tahun dengan ayah mertuamu, Khairul Azam. Tak ada rahasia lagi diantara kami, termasuk soal penguntitan kami terhadap Marsekal Sahrir Tanjung"
"Kamu tahu betul layaknya Presiden yang punya kabinet kerja, dan hasil kerjanya pun di awasi negara. Maka kami pun demikian, kami punya kendali untuk mengontrol perwira tinggi. Sejauh mana prestasi dan baktinya terhadap nusa dan bangsa"
Tutur Lettu, terlihah kukuh dan kuat. Cocok jika di sandingkan dengan Iqbal Dirgantara, pantas saja mereka berteman lama.
"Aku dan Dirga menjadi satu tim rahasia, menilai poros kerja Marsekal kami. Dan kamu bisa menebaknya, dan kamu bis menebaknya. Kami menemukan kejanggalan pada Marseka Sahrir Tanjung selama 12 tahun terakhir. Tak asa yang mengetahuinya selain kami"
"Lantas mengapa anda tidak coba ajukan ke pengadilan tinggi Militer?"
"Dan mulai perang ke dua dengan ku?"
Sambar Dirga.
"Kamu tahu jika berbuat itu sebenarnya sama dengan menyantumkanku sebagai penggugat utama. Sebab sedit banyak aku yang mengorek kebenaran tentangnya"
Azam menarik nafas dalam - dalam.
"Kalau begitu hancurnya moral lelaki itu, mengapa dia terpilih menjadi seorang marsekal"
Iqbal Dirgantara dam Lettu Pandjaitan saling melirik.
__ADS_1
"Kamu benar - benar tidak tahu kasus yang menggegerkan Angatan Udara bertahun - tahun lalu di Kota Cianjur?"
Azam angkat bahu.
"Aku tidak punya kepentingan apa pun untuk tahu masalah orang"
"Kampanye publik, dia berhasil mengambil hati pimpinan kami. Sahrir Tanjung saat itu hanya menjabat sebagai perwira biasa. Seakan menolak perjodohan yang di lakukan keluarganya dengan alasan kepentingan kesatuan militer, dan akhirnya di gantikan oleh adinya laki - lakinya. Naas, seluruh keluarganya termasuk kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan dalam perjalan perjodohan dan adik laki - lakinya sampai saat ini tidak di temukan jasadnya. Dia menangis meraung - raung seperti orang gila meski sebenarnya dialah yang menghabisi keluargnya"
Dirga memaparkan.
"Lalu dia diangkat begitu saja menjadi Perwira tinggi karena rasa empati"
Sambungnya tajam, bersitatap dengan manik Azam. Hitam yang khas, hitam punggung kumbang yang mengkilat.
Menghabisi keluarganya sendiri?
"Anda bisa memberikan alasan yang manusiawi?"
Lettu panjaitan melipat kedua tangannya di dada, senyum miris terukir di bibirnya yang tajam.
"Semua kerusuhan yang terjadi Azam, kejadian di dalam hutan Talihan maupun penculikan istrimu dialah yang memegang kendali. Bukan Steven Yan atau Aziz meski mereka juga ikut terlibat. Dalang sesungguhnya pun bukanlah Sahrir Tanjung, seseorang sudah mengendalikan mereka. Seperti teori yang kamu temukan semalam, Sahrir Tanjung tersangka utama namun kamu melewatkan beberapa poin penting"
"Apa misalnya?"
Azam berbisik lirih, terlalu muak mendengar nama Sahrir Tanjung. Marsekal itu harus berhati - hati jika yang di katakan sang Lettu semua benar. Sebab dia tak akan membiarkan bagian hidupnya terluka.
Iqbal Dirgantara memejamkan mata senjanya, baru kali ini Azam melihat sang Letkol sangat letih.
"Banyak sekali motif yang di gunakan seseorang untuk berbuat jahat, dan salah satunya ialah dendam masa lalu"
Terangnya, melepas topi tugasnya, lantas memerhatikan benda itu dengan seksama.
"Betapa banyak pengujian yang harus aku lewati demi mempertahankan benda ini, apa kamu paham sekarang? Sahrir Tanjung belum aku ketahui identitasnya. Namun aku menaruh curiga, dia akan mengambil putriku jika kami semua di lenyapkan"
Azam terhenyak di kursinya, sesaat pening menghantamnya dengan sangat luar biasa. Beberapa detik saja kepalanya di penuhi kegelapan. Hamzah yang ada di sampingnya tak sempat mencatat apa - apa, ia tersadar betapa peliknya konflik ini.
"Kalau begitu hentikan dia!"
Suaranya terdengar kasar dan pendek.
Dirga tertawa sedih, hambar.
"Kamu yang akan menyingkirkannya!"
"Aku akan membunuhnya!"
Dirga menepuk punggung Lettu Pandjaitan dan berkelakar.
__ADS_1
"Kamu lihat itu Dja? Itulah mengapa aku izinkan dia menikahi putriku. Kamu berani dan tangguh Azam, aku akui itu. Tetapi tidak semua hal yang kamu benci harus kamu bunuh. Percayalah, aku bisa melakukannya sejak jauh - jauh hari itu"
Masih ada yang penasaran gak apa konfliknya....tetap tinggalkan jejak ya