MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#49


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahiim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad


Mantan Marsekal itu melepas kaca matanya. Raden Tirto pamungkas menepuk bahu Raihan Kusuma. Layar monitor raksasa menampilkan ber grid -grid tengah menampilankan pembongkaran rumah rahasia di bawah tanah.


"Aku tak habis bikir, Sahrir Tanjung yang selalu aku hormati tega berbuat sekeji ini. Astaga, jadi berton - ton sabu berasal dari gudangnya?"


Raihan di sampingnya tersenyum miris.


"Lihatlah, kamu menemukan lebih banyak barang selain sabu bukan?"


Telunjuknya terarah pada lokasi yang di perbesar Azam, sebuah kamar gelap rak - rak terdapat obat bius. Koleksi mengerikan lelaki itu bertambah dengan di temuka puluhan peti berisi peluru, pistol, senjata laras panjang, bandik, clurit, taring harimau dengan kulit - kulit binatang yang belum di bersihkan dan benda - benda antik lainnyan.


"Padahal baru kemarin sore aku melihat ia di lantik menjadi seorang Marsekal"


Raden menghela nafas panjang


Azam yang anteng mengoprasikan layar terlihat sangat serius.


"Kita lihat saja nanti, bagaiman opini masyarakat jika kita bisa membongkar perangainya"


"Setip orang akan tahu pada waktu yang tepat"


Raihan mengedipkan salah satu matanya kepada Azam di balas dengusan dari lelaki itu.


"Oh yah, bagaimana kabar istrimu, Azam?"


Raihan membawa baki berisi kopi setelah kembali dari dapur umum sepuluh menit yang lalu.


"Lebih banyak diam ketika aku hendak berangkat"


Raihan tertawa.


"Oh...jadi kamu ingin mengatakan bahwa putri Iqbal Dirgantara itu tidak rela jika kamu pergi, begitu?"


Azam mengangakat bahu, menerima secangkir kopi dari Raihan.


"Tak ku duka kamu akan menjadi anggota pertama angkatan keponakanku yang melepas masa lajang. Sikapmu banyak berubah setelah itu"


Ternyata ucapan Raden membuat Azam tertawa.


"Namun sifat - sifat jelek yang lain masih banyak yang menumpuk!"


Candanya di sertai tawa.


Azam sama sekali tidak tersinggung.


"Sedikit banyak ia banyak membantuku"


"Seperti mengurangi katakutanmu akan gelap? Atau mengubur mimpi - mimpi burukmu selama ini?"


Azam tertegun sebentar.


"Aku rasa dua - duanya"

__ADS_1


"Jadi dia sangat berharga untukmu?"


"Nyawaku adalah sumpahnya"


...****************...


Senjata semi otomatis itu bersembunyi di balik sarung tangannya, bakal di gunakan dalam keadaan siaga jika peluru QSZ-92 tengah habis. Ah, pistol dengan sistem penguncian terbalik serta barel berputar, memiliki kapasitas jangkau 50 meter dan kecepatan moncong 1148 ft perdetik tentu akan bersorak girang jika pelurunya berhasil melesak pada bagian tubuh Sahrir Tanjung. Azam terkekeh, pemikiran itu membuat saraf - saraf di tubuhnya menggelora.


Azam berjalan mengendap - endap menyusuri basemant yang sepi, menyembunyikan diri dari pilar beton penyangga. Tubuh dan pendengaran bergerak waspada, suara yang terdengar membuat telunjuk Azam merangkum posesif QSZ-92 buatan China miliknya.


Azam menyentuh tombol yang ada di telinganya, menarik sebuah recorder dari balik jaket dan mendekatkan pada bibirnya.


"Khairul Azam__masuk, ear nomor 5!"


Krasak - krusuk disana masuk ke dalam pendengarannya.


"Hamzah, Basemant kanan lantai 3 mohon instruksi"


"Tetap waspada dan perketat pengintaian pada sayap kanan pintu masuk lantai 2. Instruksi untuk Lukman Elhakim tetap pada posisi. Cek dan penuhi pistol kalian dengan peluru, siagakan selalu"


Azam melirik lewat ekor mata, menemukan sosok manusia yang berdiri kaku dekat penyangga beton tepat di belakangnya.


"Tembak di tempat siapa pun yang coba menyerang"


"Siap, laksanakan!"


Sahut Hamzah, lantas sambungan terputus.


"Kamu naik ke lantai 3, kawal Hamzah dan Elhakim..."


"Simanjuntak Dimas dan Raden Tirta belum datang ke lokasi"


Kode tersirat bahwa Azam tidak ingin meninggalkan mertuanya itu. Tapi ia malah mendapat lirikan tajam.


"Kamu pikir aku anak ingusan yang butuh pengawalanmu. Naiklah Khairul Azam, jangan abaikan perintahku. Atau Hackler ini akan menembus kepalamu yang keras itu!"


"Area ini juga butuh penjagaan"


Keukeuh Azam.


"Apa kamu benar - benar ingin mendengar berita ayah mertua meledakkan kepala menantunya?"


Azam mendengus, meninggalkan Iqbal Dirgantara tanpa sepatah kata lagi. Tak mau repot untuk menoleh lagi. Lantas pacuan langkahnya menaiki undakan demi undakan semakin gelap. Beberapa lampu neon yang menempel pada atap dan dinding malah tidak berfungsi.


Hamzah terkejut saat Azam menepuk bahunya dan mengarahkan pistolnya ke wajah Azam.


"Oh sorry...Bang"


"Aku akan naik jalan pintas, Raihan menemukan lorong yang langsung menuju lantai 9"


Lantas langkahnya meluncur mulus, sepatu kulitnya tak menimbulkan suara sedikit pun. Azam begitu cekatan mencari celah di antara kegelapan. Azam memusatkan ke segala arah, mencari kode yang di buat Raihan "Silver X" kata laki - laki itu barusan.


Azam berlari - lari kecil ke arah yang dituju.


"Ayo naik, apa kamu ingin melihatku mati karena kehabisan napas?"


Gading terengah.

__ADS_1


Azam dengan sigap meraih pegangan besi dan mencoba masuk ke dalam, agak sulit. Namun tetap berhasil.


"Aku menulusuri terowongan ini selama 20 menit, pajangnya sekitar 15 kilo meter. Sialan!"


Gerutu Gading.


"Kalau semudah itu, pasti kita sudah meringkus bajingan itu sejak subuh tadi. Sudahlah, anggap kamu sedang joging!"


Sungut Azam sambil mengibaskan tangan.


Gading bisa lebih cepat berlarinya karena Azam di belakangnya, tak mau tahu kalau orang sedang capek.


Azam menyingkirkan tubuh Gading lalu menempelkan telinganya dekat dengan gariz - garis yang terbuka.


"Kita akan keluar dalam beberapa detik. Lantai 9, kamar mandi umum wanita nomer 4"


Gading menjentikkan jari.


"Aha, tentu saja kamu hapal. Kamu pernah berkunjung dengan seorang wanita seksi. Bukan?"


Azam menarik napas dalam - dalam, antara ingin membenturkan kepala Gading dengan tembok besi.


"Tutup mulutmu, Raihan memberikan semua informasi itu!"


"Oke deh..."


Sambil memeragakam gerakan mulut di kunci.


Azam berusaha membuka penutup yang berukuran besar berbentuk persegi empat. Tetapi areanya terkunci rapat. Mereka harus menunggu. Selama 10 menit menunggu sebelum akhirnya Raihan datang dengan menjebol pintunya. Laki - laki keturunan Arab yang super tinggi itu berpakaian pelayan dengan nasi kupu - kupu yang bertengger di lehernya.


"Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok, tapi aku tidak melihat laki - laki si Sahrir Tanjung itu?"


Bisik Raihan


"Aku tahu dimana Sahrir, aku yang akan menanganinya!"


Raihan mengangguk.


"Come on, kita harus segera keluar dari sini. Bodyguard di sepanjang lorong akan selalu memeriksa setiap satu jam sekali.


"Shit...apakah kita akan baku tembak lagi?"


Gading mencicit.


"Terlalu berbahaya, aku mempunyai sesuatu yang lebih aman"


"OH MY GOD"


Pekik Gading semakin melemah saat melihat Azam mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.


"Hanya obat bius biasa, wajahmu jangan sok begok seperti itu! Yang meraka lakukan padaku


jauh lebih jahat.


Punten temen - temen, up nya telat...


Tetapi tetep beri dukungan ya..😚

__ADS_1


__ADS_2