
Bismillah hirrohmaanirrokhim...
Alloh Humma Shalli 'ala Muhammad Wa'alaa 'Alihi Muhammad...
Azam menatap gusar bayangan yang tercetak pada kaca tepat di atas wastafle kamar mandinya, menyugar kasar rambut yang sedikit basah akibat guyuran air dingin berharap mimpi itu tidak datang lagi pada tidur malamnya. Bayang kedua orang tuanya tiba - tiba datang menghampiri.
Tepat 5 tahun lalu ia meninggalkan kedua orang tuanya tanpa kabar berita.Menghilangkan segala kenangan tentang pondok pesantren KH. Abdurrahman Lathif dan ibu Hj.Halimah. Dua orang yang begitu berharga dalam hidupnya namun terpaksa ia tinggalkan sebab keinginan sang ayah untuk melanjutkan perjuangan beliau berjihad di jalan Rabb-nya. Itu bukan tujuan hidup Azam,menjadi seorang Ustadz, Kiyai, Ulama' atau sejenisnya bukanlah Opsi kehidupan yang harus ia pilih. Ia memang berjiwa pejuang, namun pejuang dalam arti yang sebenarnya, bukan pejuang di balik kitab -kitab agama yang di bekali oleh kedua orang tuanya.
Berkali - kali Kh. Lathif memberi kabar jika kesehatan Umi semakin menurun mengingat keduanya sudah cukup renta dan meminta pada putra bungsunya itu kembali ke Pondok pesantren Askhabul Kahfi untuk meneruskan perjuangan mereka. Namun apa yang di lakukan Azam,ia malah bersembunyi seperti pengecut tak ubahnya tikus got yang sudah nyaman di bawah kolong tanah.Ia bahkan lupa kapan terakhir ia melaksakan Shalat dan mentadzabburi segala kalam - kalam illahi. Karena apa pun yang terjadi Azam tak akan pernah kembali.Betapa pun rindunya Azam kepada kedua orang tuanya dan suasana pondok pesantren ketika mengkaji kitab Bulughul Maram dan hadist - hadistnya.Dia pernah melakukan semua itu.Belajar agama dan mendalaminya Azam pernah melakukan itu sebelum ia memutuskan memilih jalan hidupnya.
Azam beraga namun ia tak berjiwa bahkan hatinya pun sudah tak bertuan. Mimpi itu selalu mengingatkan Azam akan kerasnya watak serta karakter yang ia miliki berbanding berbalik dengan kedua orang tuanya.
Tanpa sadar telapak tangannya terulur meraba bekas tamparan dari Asha yang terasa nyata saat ia memimpikannya. Gadis Sialan itu sudah berhasil membuat malam - malam Azam tidak tenang, terhitung sudah satu minggu Azam memimpikan kejadian yang sama dimana gadis bodoh itu dengan suka relanya mendaratkan tamparannya pada pipi Azam. Namun bersamaan itu juga, tamparan gadis itu menyadarkan ia akan berbagai kesalahan yang yang sering ia lakukan di bawah kesadarannya.
Ia butuh pelampiasan di raihnya ponsel yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya dan segera menghubungi sang Diktator, Elhakim.
...****************...
Bibir indah itu mengambil ciuman pertama bibir Asha dengan lembut semakin lama semakin bergelorah. Asha tak mampu menolak gejolak dalam hatinya, ia turut membalas kecupan demi kecupan yang ia terima dari Azam. Matanya masih tertutup rapat saat lidah saling menautkan dan pertukaran saliva begitu nikmat.Azam tak bisa melepaskan bibir mungil itu yang kini mungkin akan menjadi candunya. Sedang Asha, mengapa ia menjadi selihai ini saat melakukan ciuman pertamanya itu.Bahkan ia pun tak mengerti dengan dirinya sendiri.
Azam memang yang memulainya,menciptakan desiran aneh pada kalbu saat dengan kepiawaiannya mempermainkan bibir juga lidah Asha.Astaga apa dia sering melakukan dengan gadis lain?
Asha tak sempat menanyakan karena tengkuknya sudah di tekan tangan kiri Azam sedang tangan kanannya memeluk erat pingang Asha.
Ciuman itu terasa begitu bergairah saat ia mulai kehabisan udara untuk ia hirup.Nafas keduanya terengah - engah saat ciuman itu selesai.Sorot mata kecewa tercetak jelas pada Azam.
"Kenapa berhenti...huh...?"
Suaranya serak dan sorot matanya persis saat pertama kali bertemu,tajam dan penuh intimidasi.
"Kamu berjanji,ciumanmu hanya sebagai permintaan maaf saja..."
__ADS_1
Asha mengulum bibir bawahnya yang mulai terasa kering.
Dan gerakan provokatif itu membuat perhatian khusus dari mata Azam yang semakin intens memandang bibir Asha.
"Sssss...jangan lakukan itu di hadapanku...!"
"Apa...?"
"Menggigit bibirmu cantik..."
Asha mengerti arah mata Azam membuatnya semakin berkobar kala ruas pertama ibu jari Azam mengusap halus permukaan bibir bawah Asha.
"Kenapa...?"
"Karena aku tak bisa berjanji untuk mengendalikan keinginanku saat mendapat pendangan seperti itu..."
Secara tiba - tiba sarang kupu - kupu mulai berterbangan dari perut Asha saat gerakan provokatif itu sudah di kendalikan kembali oleh Azam.Mencium singkat ujung bibir Asha sebelum ia melanjutkan pagutan itu kembali.
Mimpi...
Ada yang salah, mimpi itu berasa sangat nyata.Ini mimpi buruk bahkan sangat buruk seperti film Horror yang terus mengganggunya sepanjang hari.Walau ia terus meyakinkan bahwa semua hanya sebuah mimpi buruk,ia tak perlu gelisah.Tapi mengapa Asha mengizinkan laki - laki itu menyentuhnya walau hanya dalam sebuah mimpi kurang ajar seperti itu?
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu...?"
Kedatangan Arka di sertai pertanyaan monohok membuat Asha sedikit terkejut.
Arka duduk di empat tidur Asha lengkap dengan baju seragam ketatnya yang berwarna biru muda.Lencana penghargaan bertengger angkuh pada dada kirinya.Kakaknya itu tumbuh persis menjadi duplikat Iqbal Dirgantara sang ayah,kaku.
"Gak ada...Aa kapan datang...?"
Asha mencoba menghilangkan segala kegundahannya,namun kulitnya yang putih terlalu sulit menghilangkan jejak rona merah pada pipinya.
__ADS_1
Mata Arka memicing jeli,menelisik segala respon dari rona yang di timbulkan oleh pipi sang adik.
"Bicara saja..apa yang ada di kepalamu?katakan...?kamu sedang membayangkan apa...?"
"Hanya mimpi biasa..."
Asha salah,ucapannya justru menjadikan Arka seolah menemukan sebuah maskot dalam otak adiknya.
"Dengan wajah yang merona...?Dengarkan aku Little Sister,hanya ada dua alasan mengapa para gadis - gadis tenggelam dalam pikirannya sediri saat mendapatkan sebuah mimpi.Pertama,mimpi bertemu kekasihnya.Dan yang ke dua mereka bermimpi berciuman dengan kekasihnya..."
Petir tiba - tiba menyambar otaknya,yang harus di lakukan sekarang adalah membuat sebuah pembelaan.
"Ihhh...Aa jangan bicara sembarangan...mungkin Aa sendiri yang suka bermimpi seperti itu dan menuduhkan padaku..."
"Oh tentu jelas Baby...kaki kaum adam menyebutnya sebagai mimpi basah.Ckk...sudahlah,kadang - kadang jangan terlalu polos menjadi perempuan.Sekali - kali kamu juga perlu membaca majalah dewasa dan bisa memilah baik atau buruknya....!"
Asha semakin tak percaya pada kakaknya itu yang baru saja seminggu yang lalu pulang dari tugasnya di Wonogiri.Tunggu,apakah Dirga juga sepertinya saat muda dulu?
"Aa tuh yang sering membawa majalah dewasa,pantas saja Aa selalu menolak saat aku membantu mengemasi barang Aa.Iya kan...?"
Dengan santai Arka bebaring di samping Asha dan meraih guling di pangkuan Asha secara acrobatic dan memejamkan matanya.
"Aku tidak perlu repot - repot menyembunyikan benda itu,cukup aku hanya perlu meminjam pada teman - temanku..."
Asha melotot,tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Aaaaaaa'..."
"Berisik,jangan berteriak...aku datang dengan Fahmi,dia di bawah..."
Selanjutnya Arka sudah benar - benar tertidur.
__ADS_1