MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#76


__ADS_3

Bismillahirrah maanirrahiim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad.


Azam tak bisa berbuat banyak jika pagi tiba. Selain menemani Asha di sepan wastafel dan mengelus punggung wanita itu. Entah apa yang coba di keluarkannya? Sejak kemarin Asha tak mengkonsumsi apa pun selain segelas air putih. Azam mencoba memasakkan bubur, tapi Asha memuntahkan dalam sekali cicip.


Cemas? Tentu saja, apa lagi Asha terlihat sangat pucat. Selama proses itu, Azam tidak berkata - kata. Berdiri dengan dasi miring, kancing kemeja yang masih acak - acakan, dan muka ikut pias memandang Asha yang amat menderita.


"Aku izin saja hari ini, oke?"


Bisiknya, memandang Asha yang mendongak dari pantulan cermin. Wanita itu menggeleng lalu kembali muntah.


"Aku akan minta izin pada__!"


Asha menggeleng.


"Tidak boleh, Abang hari ini ada rapat bukan? Mama yang akan menjagaku"


Mana mungkin ia tega meninggalkan istrinya dalam kondisi seperti ini. Azam juga takut Asha jatuh seperti hari - hari sebelumnya.


Ya Allah, Asha pernah mengalami ini sendirian. Saat ia tak berada di samping wanita itu, beban Asha mungkin lebih berat berkali - kali lipat. Tiba - tiba Azam merasa dosanya menumpuk, ia ingin bersama Asha sepanjang waktu semampunya.


Asha berbalik, napasnya terdengar lelah. Keringat dingin mengucur dari pelipis, semalaman wanita itu tidak tidur sama sekali. Kini memaksa mengulas senyum.


"Ayolah My Hubby, nanti terlambat. Jangan tinggalkan tangggung jawab di kampus"


Bujuk Asha susah payah.


Azam diam, melirik arloji, menarik napas dalam sekali lagi.


"Baiklah, selesai urusan aku langsung pulang"


Asha membiarkan Azam menggendongnya ke tempat tidur kembali. Selimut di sampirkan sampai pinggangnya.


"Habiskan"


Azam melirik telur dadar, roti dan segelas susu putih di samping nakas. Tetapi Asha bertingkah seolah tak mendengar. Tentu saja wanita itu ogah melaksanakan perintahnya.


"Kalau kamu sayang pada dirimu dan kandunganmu, aku ingin lihat gelas dan piring yang terisi ini habis saat aku pulang nanti"

__ADS_1


Asha menengok sambil cemberut, tanpa kata meraih selembar roti selai yang di lipat dan memasukkan dalam mulut. Sekali telan lalu meminum setengah gelas susu.


"Lebih cepat lebih baik, biar Abang tidak menelphon ku setiap 5 menit sekali untuk bertanya apa aku sudah menghabiskan sarapanku apa belum!"


Sikapnya kekanak - kanakan. Tetapi Azam menahan diri agar tidak tertawa, biar bagaimanapun Asha tetap lucu.


Gerakan jemari wanita itu menyuruh Azam agar mendekat padanya, dengan telaten Asha memasangkan dasi dan kancing kemeja suaminya. Lebih rapi dari siapa pun yang memasangkan.


"Terima kasih"


Azam mencium kening istrinya lama, sebetulnya sulit berpisah dan tidak mau.


Asha mendorong dada Azam pada akhirnya, menunjuk jam weker di sisi nampan makanan. Tertera jelas jarum jam menunjukkan pukul 07.00. Selang sementit Azam mengucapkan salam, menutup pintu kamar mereka. Deru mesin mobil jeep terdengar hingga ke kamar.


...****************...


Kutitipkan hatiku pada Dzat yang tidak pernah menghianati titipan, agar Ia memberikan hatiku pada satu - satunya orang yang paling Ia ridlai menjadi pelengkap hidup dan tulang rusukku. Dan dalam penantian aku persiapkan dengan sebaik - baiknya agar aku bisa memuliakan wanita itu sebagai istriku, selamanya, dan biarkanlah keputusan-Nya itu menjadi rahasia hingga kelak waktunya tiba.


Azam tersenyut setelah rapat pemilihan ketua Dekan fakultas telah selesai. Tiba - tiba ia ingat do'a itu, doa yang selalu ia panjatkan dulu di kamar pondok pesantren Ashabul Kahfi. Doa yang tak henti sepanjang setahun damai ia tinggal di sana. Doa yang tanpa sadar menuntunnya pada Asha. Ternyata, Allah selalu menjaga hatinya hanya untuk satu wanita saja. Dulu maupun sekarang. Dan pemikiran tak lama lagi ia bakal di karuniai buah hati dari perempuan yang ia cintai, menambah besar gelembung kebahagiaan itu.


Dulu Azam telah menitipkan hatinya pada sang Maha, kini giliran Dia yang mengamanahkannya seorang anak. Entah itu putra atau putri. Kali ini Azam sungguh - sungguh akan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga.


Bunyi pesan Massanger berdenting mengalihkan perhatian Azam. Ternyata dari mertuanya, yang memintanya untuk singgah di pusat perbelanjaan membeli bahan makanan. Azam tak membalas, segera melaksakan tugas itu dengan cepat. Ia ingin segera pulang dan bertemu Asha.


Azam memarkirkan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan. Naik eskalator setelah berada di tempat yang di tuju, segera mendapatkan Trolley.


Azam tak tahu harus bergerak ke mana, kanan dan kiri penuh dengan rak - rak makanan yang meninggi. Tak pernah belanja apalagi masuk supermarket, Azam seperti manusia bulan yang nyasar di keramaian. Kikuk, bingung, dan nampak tak nyaman. Di tuntun insting, akhirnya Azam memutuskan belok kanan, matanya langsung bersibobrok dengan kehijauan segar yang di padati ibu - ibu.


Oh, ya ampun. Bagaimana caranya memilih sayuran kalau mereka begitu lama memilih? Di saat genting, untung mertuanya menelphon. Menginstruksikan dari seberang sana apa saja yang harus Azam beli.


"Hallo"


Suara Asha yang renyah menyapa ternyata, Azam langsung menegakkan badannya sigap. Sedari tadi yang mengajaknya berbicara hanya Hanifah.


"Abang baik - baik saja?"


Asha menyambung, dari nadanya kentara habis bangun tidur.


Seharusnya Azam yang mengajukan pertanyaan itu.


"Ya, pekerjaaku di sini hampir selesai"

__ADS_1


Azam melirik Trolley nya yang penuh dengan bahan masakan, begitu menggunung.


"Aku tidak suka cium bau bawang - bawangan"


Kata istrinya tiba - tiba.


Azam mengerti maksud Asha, wanita itu segan memerintah. Azam yang peka membongkar belanjaannya kembali, mencari - cari bawang merah dan bawang bombay di bagian bawah. Sampai seseorang ibu yang melihatnya kesusahan ikut membantu.


"Ummm...Aku tidak ingin minum susu rasa strawberry"


Asha memberi kode lagi.


Azam menggumam.


"Aku tahu, sekarang yang kamu sukai adalah kebalikannya"


Katanya, membuat Asha di ujung sana tertawa renyah. Meminta maaf, permitaannya terlalu merepotkan.


Diam - diam Azam ikut tersenyum, meski ikut lelah karena perubahan kondisi Asha tapi ia amat menikmati perannya sebagai suami dan calon ayah.


Calon ayah?


Azam terkekeh ketika dua kata itu mendominasi kepalanya.


"Anything for you"


"My Hubby, menyetirlah dengan hati - hati. Aku mencintaimu"


Asha menutup pembicaraan mereka, nada suaranya terdengar malu - malu. Membuat Azam tanpa sadar mengukir senyum yang tertangkap pengunjung. Ternyata, penampilan luar memang tidak bisa di sandingkan dengan kondisi hati seseorang.


"Aku lebih mencintai kalian"


Azam masih sempat membalas, tapi mungkin Asha tak mendengar.


Yang paling penting adalah rasa yang tersampaikan, bahwa Azam mencintai mereka. Asha dan calon bayinya. Yang menunggu kepulangannya dengan pelukan hangat.


Azam berdiri setelah semua belanjaannya beres, mengucap terima kasih pada si ibu yang tersenyum lebar. Mungkin ikut mendengar pembicaraannya, perempuan setengah baya itu mengusap bahunya lembut.


"Wanita hamil memang sering minta yang aneh - aneh, jadi bersabarlah menghadapinya. Semoga istrimu dan bayinya sehat selalu dalam lindungan Allah"


Like & Vote mingguan aku tunggu😙

__ADS_1


__ADS_2