
Bismillahirrahmaa Nirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Alihii Sayyidinaa Muhammad
Ketika pintu hati manusia telah tertutup rapat, maka tak ada yang bisa di lakukan seorang hamba selain menunggu sang pencipta mengetuk dengan perlahan - lahan untuk kembali terbuka.
Hujan di luaran sana masih rintik - rintik, bau tanah basah bersatu dengan pengapnya ruangan sempit itu. Yang biasanya di jadikan tempat bertemunya dua orang anggota keluarga. Saling berbagi kasih, kekuatan dan kerinduan. Tetapi situasi kali ini berbeda, tak ada sapa rindu atau senyuman mendampingi kesunyian.
Bagai tanaman yang di siram hujan deras semalam penuh, Azam terlihat layu. Terlebih saat ia menyadari bahwa Asha sama sekali tak mau memadang matanya. Seolah ia memiliki bola mata yang berbahaya seperti medusa.
Setiap bulir hujan yang jatuh di atas seng seakan menjadi pengingat detik demi detik yang tengah berlangsung.
Azam bernapas dalam - dalam, berbicara meski sebongkah batu menyumpat tenggorokannya.
"Bagaimana kabarmu?"
Suara seraknya khas sekali, serta mata meruncing seperti tombak.
"Buruk sekali"
Sahut Asha setelah terdiam.
Agaknya wanita itu lebih suka memilin gaunnya yang menyapu lantai dari pada berkontak mata dengan Azam.
Azam menggurat senyum pahit di bibirnya, menebak kemana arah kalimat itu.
"Bukan kabarmu yang buruk, tapi kamu memandangku dengan segala keburukan".
Kalimat itu membuat Asha mendongak, saling tatap penuh luka dan sakit hati. Juga sepercik benci membuat Azam ingin segera mengakhirinya.
Asha merunduk kembali demi menyembunyikan wajah, tak pernah tahu ada tatapan seteguh itu pada seorang pembunuh.
"Lantas mengapa abang melakukannya jika itu membuat sebuah keburukan?"
Bisik Asha, ada sebuah kemarahan yang tak pernah tertangkap dari seorang sefeminim itu.
Azam hanya diam, memilih mati saja dari pada harus menjelaskan. Tidak sesederhana itu, Azam hanya sendiri dengan tangan kosong tak akan mampu membuktikan pada istrinya.
Asha membuang napas, Azam yang terdiam begitu menjengkelkan. Tak ada sedikitpun pembelaan yang keluar dari mulutnya membuatnya jengkel setengah mati.
Asha meletakkan tangannya di atas meja agar Azam tahu betapa menggetarkannya kenyataan yang ia terima. Bola matanya yang cantik berkaca - kaca.
"Abang menjadikan hidupku sebagai persinggahan saja, Abang jadikan hidupku sebagai arena pertarungan atas masa lalumu yang pahit. Dimana Abang telah menawarkan pernikahan yang kokoh namun pada akhirnya roboh ke dalam api"
Azam ingin meraih jemari wanita itu, namun Asha menepisnya pelan.
"Tidak"
Azam berbisik, ucapan Asha begitu menohok menyakitkan.
__ADS_1
Asha menggeleng, air matanya jatuh tanpa harus menunjukkan tangisnya pada orang yang memberinya cahaya untuk bersama.
"Azam atau Gilang, aku tidak tahu siapa yang harus aku percayai? Meski kini aku mengetahui siapa Abang sebenarnya, tetapi tak ada sehari pun aku lewatkan tanpa bertanya. Siapa abang sebenarnya? Abang memiliki banyak rahasia, Abang menyembunyikan semua dariku. Seharusnya sejak awal aku menyadari jika Abang tak pernah menganggapku sebagai istri yang utuh. Abang tak pernah membagi kisah padaku!"
Azam mendengus marah, namun suaranya tetap terkontrol.
"Lupakan Gilang dan pandanglah aku sebagai Azam. Lupakan apa pun itu dan pandanglah aku sebagai Azam. Aku tak pernah membagimu ke dalam dua kategori, utuh atau sebagian. Kamu untuk hidupku, satu. Meski selalu ada cela diantaranya yang tak bisa aku bagikan. Lagi pula apa yang harus aku bagi padamu? Kegelapan? Mimpi buruk? Kesakitanku?"
"Apa pun"
Sambar Asha, giliran hatinya yang membeku. Sedingin puncak gunuh yang tertutup salju.
"Betapa pun ingatan Abang terenggut seluruhnya, aku ingin mendengar apa pun tentang Abang, tentang kehidupan Abang yang baru. Oh atau aku hanya terlalu berharap? Abang hanya ingin memanfaatkan aku bukan? Sebagai alat untuk menjalankan rencana pembunuhan Papa, permintaan dari ayah Abang?"
"Sudah cukup, jangan membuatku lebih marah dari ini!"
Tetapi Azam sama sekali tidak terdengar marah, cenderung putus asa.
"Menjadikanmu alat untuk balas dendam adalah hal mustahil bagiku. Tak pernah terlintas sekali pun!"
"Tetapi Abang membelot di tengah jalan___!"
Azam membungkam wanita itu dengan sebuah ciuman panjang, menyalurkan dukanya. Sekaligus menyerap luka istrinya, biar Azam yang menelannya dan mati detik itu juga. Mati dari pada menanggung kebencian dari Asha.
Mereka saling menempelkan mening saat ciuman itu selesai.
"Ku bilang cukup, kamu membunuhku"
Azam menyentuh setiap sisi wajah istrinya, empat minggu tak bertemu Asha, membuat Azam hampir overdosis rindu di dalam penjara.
"Katakan, selain menyampaikan tuduhan - tuduhanmu itu. Apa yang membawamu sudi mengunjungiku, Sha?"
"Aku ingin berpisah"
Di ucapkan Asha tanpa ragu.
"Ya, aku melihat itu jelas di matamu"
Azam mengerti, sejak pertama kali Asha berdiri di balik meja. Niat wanita itu tergambar jelas di kedua manik madunya.
Asha berusaha mengenyahkan perasaan sentimentilnya kala Azam mengecup lembut air matanya yang menetes. Sisi hatinya bergetar.
"Abang benar, seperti Bismillahirrahmaanirrahiim maka cinta kita akan di akhiri Shadaqallahul'adzim. Aku begitu naif dengan mengatakannya penuh keyakinan padamu. Nyatanya hatiku sendiri yang tak sanggup memperjuangkannya.Aku ingin mengubahnya menjadi Man shobaru zhafiran"
"Tak ada yang bisa merubahnya, meski kamu sodorkan beribu ayat dan Hadist"
Azam mengusap kepala Asha, mengambil keikhlasannya.
"Aku selalu berdo'a sebelum maupun sesudah ijab qobul akan janji Tuhan yang menyatukan kita dalam pernikahan, menjagamu selalu sebagai kekasihku, istriku yang satu. Sebab berpisah denganmu sama saja mencabut ruh dari ragaku, berdzikir namun tak hidup, berjalan namun tak bernapas".
Lelaki itu memejamkan mata, menengadah seolah mampu menembus langit - langit ruangan yang tinggi namun terasa sesak dan sempit.
__ADS_1
"Demi Allah, aku tak kuasa mengubah takdir yang telah terjadi. Tapi lancangkah jika suatu saat nanti aku meminta satu kesempatan darimu?"
"Wallahu A'lam bisshawab..."
Wanita itu menyahut lemah, membiarkan Azam meraih pinggangnya untuk di peluk kali terakhir.
Memeluk istrinya, Azam tak menyangka akan menjadi serapuh itu menghadapi perpisahan.
"Seberapa ingin kamu atas perpisahan ini, Sha? Apa kamu benar - benar ingin berpisah dariku?"
Asha memejamkan mata, menelisik perasaanya sendiri. Namun nyatanya tak ada harapan selain bayangan luka dalam sudut - sudut hatinya. Tak ada pengampunan atau masa depan dengan pria itu, Asha tak bisa memaafkan Azam.
"Aku menginginkan perpisahan sebesar aku membenci Abang"
Diatas puncak kepalanya, Azam ikut memejamkan matanya. Meresapi setiap kalimat Asha yang mungkin akan menjadi virus mematikan.
Perasaannya buruk, namun tak ada hari buruk yang musti ia sesali. Mungkin garis hidupnya harus seperti ini. Azam hanya terlalu lemah untuk melepaskan Asha dalam pelukannya. Setelah itu, sanggupkah Azam memandang bola mata itu yang menyiratkan beribu kebencian padanya?
Asha merasakan kecupan lembut menyentuh puncak kepalanya, lantas berhenti lama di atas keningnya.Di susul tetes air mata yang jatuh dalam keheningan.
*Azam m*enangis?
"Maka aku menceraikanmu"
Azam menjatuhkan talaq Shahih, benar - benar mengabulkan permintaan Asha.
Lelaki itu lalu melepas pelukannya, menandai berakhirnya kisah cinta mereka. Kisah mereka yang berawal dari keinginan berbicara pada Tuhan.
Mereka berdiri berhadapan, saling pandang.
Tak lama berselang, tiga orang petugas penjaga memasuki ruangan. Menyiapkan borgol untuk Azam.
"20 menit habis"
Katanya tanpa basa - basi.
Azam tersenyum tipis.
"Selamat tinggal, semoga Allah selalu melindungimu"
Lantas sosok Khairul Azam di giring masuk oleh petugas. Kata perpisahan terdengar samar bergaung di ruangan pengap. Matanya yang sehitam jelaga seperti mati menimbulkan kenangan pahit.
Asha menatap lantai yang kusam, tanpa bisa di cegah air matanya itu kembali mengalir dan menganak sungai. Asha berusaha meredam suara tangisannya, namun semakin berusaha maka semakin kuat desakan itu.
Asha tergugu sendirian dalam ruangan sepi itu.
Allah, sanggupkah ia menatap matahari esok pagi dengan hati yang berdarah - darah?
Ketika cintanya berakhir
Di kala kisahnya telah usai
__ADS_1
Terimaksih buat reader's yang masih setia menunggu setiap episodenya...😙