MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#35


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa alihii Sayyidina Muhammad


Secepat kilat pemuda itu menyalip kendaraan dealer dalam satu tancapan gas. Ke empat roda Jeepnya meliuk lantas meluncur mulus dengan kecepatan spektakuler. Dalam keheningan itu ia membelah jalan menuju provinsi lain menggunakan kecepatan konstan, membuat orang lain yang berkendara harus minggir teratur jika tidak mau tertabrak.


Hanya butuh waktu 2 jam lebih delapan belas menit jarak waktu yang tempuh Jakarta - Wonogiri. Jalanan area perdesaan Wonogiri ternyata sudah tertata apik namun sayangnya pengguna jalan tidak terlalu banyak karena sering terjadi kecelakaan di titik - titik rawan. Udara di sekitar mereka kini mulai terasa dingin dan lembab khas daerah dataran tinggi sebab pohon pinus mendadak memenuhi pandangan mereka.


"Hmm... Jalanan ini bekas rel kereta api. Aku tak pernah melewati jalan ini, si Mimi itu memang idiot...!"


"Ya jelas saja kamu tak pernah kemari. Kamu pikir untuk apa kamu sampai nyasar ke Wonogiri kalau bukan untuk membunuh...!!!"


"Ya baiklah, Anda memang selalu benar...!"


Pemuda itu lantas menaiki jalanan terjal seorang diri dengan membawa alat mirip flashdisk hitam yang berkedap - kedip cahaya merah.


Elhakim sigap mengikutinya, pemuda itu berdiri di samping Azam lalu memandang ke barisan rumah penduduk di bawah sana.


"Seperti tidak terjadi apa - apa disana!"


Katanya datar. Azam memutar penglihatannya dan mulai mencernai perkataan Elhakim.


"Tidak terjadi apa - apa..."


Langkah kakinya membawanya mengarungi jalanan berbatu sisi kanan dan kiri, mengamati jejak sepatu, Azam otomatis berhenti. Pemuda itu membungkuk di atas aspal halus. Telunjuknya mengusap permukaan menghitam tipis seperti bekas gesekan gaya. Mungkin bekas ban mobil yang mengerem mendadak.


"Kamu menemukan sesuatu?"


Sang Letnal Kolonel penasaran, tak sabar ingin mengetahui apa yang ditemukan Azam. Iqbal Dirgantara mencoba membuat spekulasi.


"Mobil melaju terlalu kencang menjadi sulit dikendalikan. Apalagi jika ada kendaraan yang mengikuti mereka. Lihat, banyak bekas gesekannya...!"


Azam mengangguk, lalu menuruni jalanan. Semakin menurun maka semakin mencurigakan, semua terasa janggal. Hingga pria itu tak bisa membendung keinginannya untuk segera menyusuri jalan. Azam mulai menghubungkan temuannya, matanya tidak sengaja bersibobrok dengan pohon besar di tengah pohon pinus. Kulitnya bopeng - bopeng serta penyok. Azam merunduk memperhatikan rumput yang layu karena terinjak dan sedikit terbakar. Ada serpihan kulit logam perak, Azam mengangkatnya ke udara.


"Toyota Camry, warna silver. Bukankah seperti milik Fahmi?"


Dirga mengambil alih, wajahnya mendadak sekeruh air cardas.


"Iya, ini milik Fahmi aku yakin. Jadi mereka menabrak pohon? Lalu dimana bangkai mobilnya?"

__ADS_1


Teriakannya semakin frustasi, sementara penduduk terdekat mengaku tidak pernah melihat mobil asing yang melintas di jalan itu.


Remotnya berkedip semakin kencang seiring di temukannya casing bagian belakang ponsel Fahmi, sedang badannya berserakan di akar pohon waru. Azam mencabut rumput penuh emosi. Apa - apaan ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kemana perginya mereka?


Sebuah nomer asing tertera di layar ponsel Iqbal Dirgantara, semua berdiri wasapa. Azam memberi kode agar Dirga menjawab panggilannya dengan menloadspeaker percakapannya.


"Apa kabar Dirgantara. Sedang sibuk mencari keberadaan putri dan anak angkatmu, Huh...?"


Suara asing itu tak di kenalinya.


"Siapa kamu?"


Kekehan panjang terdengar di sana.


"Jangan terburu - buru_!"


Dirga memotong.


"Ku tanya, siapa kamu?! Tak usah berbasa - basi!"


"Baik lah, kamu sepertinya tidak sabaran"


"Nah, ada yang ingin menyampaikan salam padamu. Tapi dia agak sedikit nakal dan bersikeras tak ingin membuatmu kawatir. Ayo, bicaralah pada ayah!"


"Pa...Papa...Tolong selamatkan Fahmi!"


Lalu sambungan telphon itu putus sempurna.


...****************...


Fahmi berbaring di atas tempat tidur yang nyaman, sebias cahaya memaksa masuk lewat cela - cela di balik tirai mewah. Kamar didominasi nuansa klasik, terpajang bingkai foto besar seorang lelaki menggunakan topi koboy lebar yang sebagian menutupi wajahnya. Hanya terlihat sebatang cerutu yang masih bertengger di bibirnya. Fahmi sedikit mengenal siapa laki - laki berhidung mancung itu, namun hanya sebatas familiar tapi dia tak begitu memahami siapa dia.


Tapak sepatu boot terdengar memasuki ruangan besar itu, topi koboy lebarnya masih setia nangkring diatas kepalanya. Pakaian bagusnya berbanding berbalik dengan Fahmi yang kumal dan banyak bekas darah kering disana - sini.


"Nah, bagaimana kabarmu hari ini nak?"


Suara bernada ******* keluar dari sela - sela giginya yang bau cerutu yang sangat pekat. Fahmi tak mempunyai sedikitpun keinginan untuk menjawab pertanyaan pria yang kurang jelas wajahnya sebab minimnya pencahayaan. Entah sengaja atau tidak, ruangan itu dibuat gelap agar setiap penghuninya tidak bisa di kenali.


"Oh tentu saja kamu lebih baik, karena anak buahku rutin menjengukmu."


Matanya memicing, melihat isi nampan makanan masih utuh seperti belum tersentuh sama sekali.

__ADS_1


"Kenapa tidak dihabiskan? Kamu tidak bisa menghargai kebaikanku, dan itu bisa melukai egoku sebagai seorang laki - laki!"


Fahmi di lain sisi menyipit mencoba mencari titik fokus, namun nihil. Luka di kepalanya sepertinya mempengaruhi penglihatanya yang buram.


"Lebih baik kamu bunuh saja aku!"


"Kamu memohon untuk urusan yang terlalu mudah anakku. Kamu harus menikmati ini terlebih dahulu, menjadi anggota ku dan siap menghabisi mereka!"


Terlihat pupil Fahmi melebar beberapa senti, bibirnya yang kering menyungging sedikit senyum walau diambang sekarat.


"Oh ya, siapa kamu?"


"Bagus, pertanyaan itu lah yang aku tunggu - tunggu sejak satu minggu yang lalu. Agaknya lebih baik memang aku datang sendiri saja dan tak banyak mengandalkan pengawalku yang tolol!"


Satu persatu wajahnya yang dibiarkan terekspos, tawanya nyaring hingga memekakkan gendang telinga Fahmi.


"Kamu...?!!"


Otak Fahmi berputar, kenangan masa remajanya seperti proyektor yang bekerja di depan mata. Namun nyatanya tak ada secuil pun ingatan yang dapat menghubungkannya dengan sosok yang ada di hadapannya.


Amarah perlahan berkumpul di wajah merah Fahmi, hingga ia berniat melayangkan sebuah tinju mentah - mentah pada wajah rupa tak begitu di kenali.


"Kamu...,_Ayah?!"


Tawa sumbang kedua kalinya bergaung di seluruh ruangan.


"Cerdas juga otakmu! Tapi sayangnya tebakanmu melenceng, karena aku bukan lagi ayahmu sejak 12 tahun yang lalu!"


"Ayah, apa maksud semua ini! Kenapa kamu melakukan ini! Aku mencarimu seperti orang gila, dan nyatanya pertemuan kita melebihi dari pemikiran orang yang tidak waras!"


Pemuda itu sama sekali tak percaya dengan apa yang di alami, pertemuan dengan Syamsudin Bahar seperti membuangnya ke dimensi lain hingga ia tak bisa mengenali dirinya sendiri.


"Harusnya kamu tak perlu ikut membayarnya. Misiku bukan menghabisimu, Iqbal Dirgantara harus merasakan semua yang pernah ia perbuat. Membuangku dari daftar keluarga karena aku menolak perjodohan antara Dirga dengan Hanifa. Tidak adil memang, aku yang mencintai Hanifa tapi kakakku yang menikahinya hanya karena tradisi bodoh itu. Dirga memang picik, merebut segala apa yang ia inginkan dan mengabaikan keberadaanku. Dan kini coba lihat, mereka mengarungi kebahagiaan di atas kekecewaanku. Parahnya lagi kamu pun masuk dalam keluarga mereka...!"


"Ayah, Papa Dirga tidak seperti itu!"


"STOPPP!"


Masih mau lagi gak...


Like...dan coment...

__ADS_1


__ADS_2