
Bismillahirrahmaanirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa 'Alihi Sayyidina Muhammad
Sejak usia 16 tahun, Husain Fahmi menjadi yaytim piatu. Ayahnya gugur saat bertugas dalam kendali lencana kebangganya di satuan TNI angkatan laut mengalami kesalahan teknik oprasi kapal selam. Seluruh awak kapal tidak ada yang selamat, begitu pun Rasyid ayah Fahmi. Satu bulan pencarian dilakukan oleh tim Sar maupun kapal nelayan membantu, namun hasilnya nihil. 18 awak kapal dinyatakan hilang termasuk ayah Fahmi
Ibunya menangis meraung - raung seperti orang gila dalam sepekan. Ia merasa hidupnya sudah retak dan tak berguna tanpa melihat kehadiran Fahmi sebagai pertimbangan. Egois, kata yang tepat untuk disematkan padanya. Hingga suatu hari ia menjadi sakit - sakitan dan terus menggerogoti tubuhnya. Tepat setahun kemudian, ibunya akhirnya meninggal dunia.
Husain Fahmi merasa hidupnya sudah berakhir, terus menangis meratapi nasibnya. Tangisan angin masih ia dengar saat berdiri di dekat pelabuhan berharap ayahnya kembali untuk memberi motifasi walaupun keluarganya sudah tidak sempurna. Ia berjanji akan memberikan pelukan terhangatnya jika saat itu tiba. Tetapi takdir tidak sebaik itu, harapan Fahmi hilang di terjang karamnya ombak. Remaja dengan hatu yang penuh luka itu akhirnya memutuskan untuk ikut menenggelamkan diri, ikut bersama ayahnya yang mungkin jasadnya sudah habis dimakan ikan hiu.
Fahmi terlunta - lunta karena kabur dari rumah, sebab apa guna tinggal dirumah yang tak berpenghuni. Buat apa tinggal di rumah jika kenangannya semakin membuatnya terluka.
Hingga tiba saatnya adik kandung ayahnya membawanya pergi dari tanah kelahirannya. Iqbal Dirgantara adalah satu - satunya saudara yang dimiliki ayah Fahmi. Dengan berlapang dada, ia bersedia menampung, menyekolahkan, dan mendidik Fahmi layaknya kedua putra putrinya. Namun tetap saja itu semua tak bisa serta merta mengembalikan kebahagiaan Fahmi secara utuh. Tak akan bisa karena surganya sudah kembali kepangkuan ilahi, dan tak dapat dijangkau kecuali kalau Fahmi ikut menyusul.
"Aku melihat kamu menangis setiap malam...!"
Fahmi mengacuhkan suara manis itu. Baik sih, namun bagi Fahmi itu terlalu cerewet dan terlalu banyak tanya. Dan Fahmi selalu bersikap acuh.
"Kenapa kamu selalu menangis, bukankah tidak ada yang menyakitimu?"
Gadis itu merunduk mengamati mata Fahm, apakah ada air mata lagi. Fahmi risih setengah mati dibuatnya.
"Aku kira kita bisa menjadi teman atau saudara, mengapa kamu harus selalu menyendiri? Sementara ada banyak orang yang menyayangimu dan ingin membuatmu tersenyum...!"
Fahmi tetap berpura - pura tuli.
"Mi...untuk menilai seburuk apa kehidupan yang kita jalani, tengoklah ke bawah dan tetaplah bersukur. Sebab takdir bukan diciptakan untuk ditentang!"
"Kamu tidak tahu apa - apa...!!!"
Jengkel kepada sepupunya yang sok bijak, padahal usianya jauh lebih tua darinya.
"Oh...tentu saja aku tau! Aku tahu kamu selalu menyalahkan segalanya atas kepergian orang tuamu...!"
"Kamu tidak tahu apa - apa karena kamu tidak pernah berada di posisiku, mengerti!"
"Kalau akau ada di posisiku, mungkin aku akan hancur. Tapi kembali, Fahmi. Papa Dirga dan Mama Hanifa bukanlah milikku, aku pun juga bukan milikku sendiri. Kamu pun bukan milikmu sendiri. Kalau Allah ingin mengambil miliknya, lantas apa yang bisa kita lakukan selain ikhlas?"
Sentilan paling perih yang dirasakan Fahmi, Asha seolah telah menyadarkannya dari kegilaan sesaat. Remaja laki - laki itu mulai tersenyum memandang Asha seolah akan ada kematian indah yang akan menyembutnya. Mau tak mau senyum Fahmi tersungging di wajahnya yang putih dan ganteng.
__ADS_1
"Sok tau ih...sana!"
Masih pura - pura judes, tensin karena mogok bicanya telah di gagalkan Asha yang tanpa lelah membujuknya. Asha cuek dikatai apa saja oleh sepupunya, asal sepupunya bisa menerimanya.
"Yey...Fahmi senyum...Masha Allah ganteng sekali. Mas Arkha sih lewat, Mama pasti pangling deh lihat kamu senyum seperti itu!"
Tanpa di duga Fahmi menyentilkan jarinya ke hidug mungil Asha. Gadis itu spontan ingin membalas namun Fahmi sudah keburu ngacir kedalam rumah dengan tawa nyaring.
"Ma tangkap Fahmi Ma...dia nyentil hidungku! Dia sembunyi dilemari, gimana bukanya nih...?"
Well, akhirnya Fahmi menemukan keluarga baru. Dirga yang bertanggung jawab, Hanifa yang baik hati, Arkha yang judes namun perhatian, dan si cantik Asha yang selalu meyakinkan bahwa memiliki keluarga baru bukanlah hal buruk. Fahmi seperti menemukan kepingan Puzzle hatinya yang hilang dengan bersama keluarga barunya.
Bagi Fahmi pengobatan luka hatinya sangat indah sekali. Namun kini, terasa berbeda sebab kenangan itu turut melebur bersama. Allah, untuk pertama kalinya Fahmi menangis kerena seorang gadis.
...****************...
"Mimi? Kapan datang? Kenapa tak mengabariku? Koperku masih ada di penginapan tau!"
Asha memberondong dengan berbagai pertanyaan kala mengetahui Fahmi sudah berdiri di teras rumah Kiyai Lathif dengan membawa secangkir kopi. Namun Fahmi tertawa mendengar ketergesahan pertanyan Asha.
"Satu jam yang lalu, cukup lama sih sampai aku menghabiskan beberapa cangkir kopi..."
Lengan Fahmi akhirnya dihadiahi tinjuan lemah dari oleh Asha karena jengkel.
"Mimi..."
Asha menepis tangan Fahmi. Ada hawa panas yang menguar di sekelilingnya. Ia berhenti bermain - main dengan Asha.
"Nah, bagaimana kabarmu mermaid man setelah kepulanganmu ke rumah?"
Tanyanya ramah, Fahmi memang resmi mengundurkan diri dari anggota G30RM tiga bulan yang lalu.
"Seperti yang kamu lihat!"
Azam memasang tampang biasa saja, Fahmi mengulas senyum hingga kedua lesung pipinya nampak jelas dan menawan.
"Yang mana yang kamu maksud? Aku melihatmu sungguh berbeda Memaid Man!"
Azam selalu mendidih saat panggilan itu disematkan untuknya. Well, tidak ada halangan lagi jika ingin menghajar Fahmi toh dia bukan rekan kerjanya lagi.
"Berhentilah menggunakan nama itu! Aku tidak suka mendengarnya!"
__ADS_1
Kata Azam dengan sangat pelan tapi ketus. Tapi Fahmi justru mengusap dagunya dengan tampang sok serius.
"Hmm, padahal nama yang lucu!"
Azam menahan emosi, dia memang pembawa virus. Jika ia masih bekerja sama, bisa di pastikan seluruh anggota G30RM akan mendapat julukan nama - nama dari tontonan kartun bodohnya itu.
Fahmi merangkul pundak Azam.
"By the way...kamu tidak keberatan kan kalau aku menjemput tuan putri menggunakan kereta kuda bersama pangeran Husain Fah...?"
Azam melotot saat memotong kalimat Fahmi.
"Tutup mulutmu dan segera pergi dari sini...!"
Katanya dengan menyingkirkan lengan Fahmu dari bahunya. Tapi Fahmi justru memasang wajah sebego Patrick Star saat kehilangan kotoran hidung.
"Ya salam...apa kamu tidak takut ketahuan orang tuamu kalau kamu sudah berbicara tidak sopan kepada tamu istimewa seperti ku...?"
"Akan ku gantung kamu di lapangan basket!"
Olok - olokan Fahmi berhenti begitu saja saat Asha sudah datang dengan tiba - tiba.
"Astaga apa yang sedang kalian bicarakan dengan suara sepelan itu? Jangan katakan ini tentang pekerjaan kalian?"
Azam menaikkan kedua alisnya saat menangkap suara Asha yang mencicit di ujungnya. Gadis itu merunduk karena takut.
"Kenapa kamu selalu membuatku takut? Sikapmu itu malah membuatku ingin bersaing secara tidak sehat tahu!"
Azam memperhatikan kalimat terakhir.
"Apa...maksudmu?"
"Detektor dari kecubung ini ternyata sangat berguna untuk mendeteksi sesuatu yang ada dalam hatimu. Kamu tidak perlu menghindar dari tuduhanku, Khairul Azam. Dan jangan berpura - pura bodoh dan seolah tidak mengetahui maksud ucapanku!"
Azam mengeratkan geraham, sementara Fahmi menepuk satu kali bahunya sebagai tanda pertemanan mereka.
Allahuakbat...Allahuakbar...Allahuakbar...
Happy ied Mubarrak,maaf jika ada salah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatnya kepada kita,Aammiinn...
Tetap, jangan lupa like dan coment...
__ADS_1
Jika banyak coment atau like,author akan up hari ini satu episode lagi...😘