
Bismillahirrahmaa Nirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad
Azam terbangun karena mendengar suara mengaji yang begitu merdu, berbalik menyamping dan menemukan Asha sedang melantunkan surat Yusuf. Wanita itu tak menyadari suaminya terjaga, Azam melirik jam pukul 01.20. Akhir - akhir ini Azam memerhatikan istrinya sering bangun tengah malam, atau mungkin lebih tepatnya tidak bisa tidur, terserang Sindrom Insomnia. Gelisah ketika berbaring namun tak mengatakan apa pun. Setiap Azam bertanya, Asha selalu menjawab tidak ada apa - apa.
"Eh? Aku membangunkan Abang ya?"
Saat Azam memandang Asha, istrinya melirik dan terkesiap. Azam menggeleng, tersenyum.
"Tidak sama sekali, lanjutkan. Aku seperti sedang berada di dalam surga"
Azam memejamkan mata, beringsut ke dekat perut Asha yang membesar memasuki bulan ke 9 masa kehamilannya. Asha balas tersenyum, kembali melanjutkan bacaanya yang tartil. Tangan kanannya memegang Al-Qur'an sementara tangan kirinya mengelus rambut Azam.
Telapak tangan Azam menyusup di balik mukena Asha, mengelus piaya istrinya. Samar - samar bisa merasakan gerakan di dalam perut Asha, gerakan lucu seolah laki - laki mungil mencoba menendang tangannya.
Di awal kehamilan, Asha hanya bisa tidur kalau tangan Azam berada di atas perutnya. Mengelus siang malam meredakan rasa mualnya. Sampai Asha tak merasakan lagi, pun kebiasaan itu tetap terbawa oleh Azam.
"Kamu senang mendengar suara ibumu?"
Gumam Azam, sekali lagi merasakan tangannya bergetar karena tendangan jagoannya.
"Ya ya...suaranya memang seperti bidadari. Hm, kamu nanti bisa lihat sendiri bagaimana cantiknya ibumu dengan suaranya!"
Dari dulu sudah begitu, Azam sering bebicara satu arah jika Asha berada di dekatnya.
15 menit kemudian Asha menyudahinya, ketika itu Azam sudah terjaga sepenuhnya. Duduk di samping istrinya, mau mandi, ambil wudlu lantas shalat malam. Tetapi Azam menyadari satu kejanggalan, sprei basah dan cengkeraman Asha menjadi pertanda lain. Kesadaran Azam terkumpul, sinyal waspada berdengung - dengung.
Azam mengusap wajah Asha yang di serang keringat dengan handuk kering di atas nakas, dari bibirnya keluar rintihan sakit. Azam berusaha mengontrol diri, rileks, tarik napas. Hubungi Hanifa dan Seruni, sudah waktunya? Padahal dokter memprediksikan jika kelahiran bayinya masih sekitar satu minggu lagi.
Azam menyambar sembarang jaket, memakaikannya pada Asha. Wanita itu makin erat mencengkeram tangannya, di sela pengaturan napas, mengelus perutnya naik turun sambil melafalkan istigfar.
"Sakit sekali, ya Allah"
__ADS_1
Dengan segera Azam menggendong Asha menuju ke ruang tamu, menunggu mobil Sam datang. Mana tahu keadaan darurat ini akan terjadi.
Azam memeluk Asha, mengelus punggung istrinya tanpa bicara. Wanita itu tak terisak, namun air matanya membasahi kaos Azam. Perasaannya makin kalut, apalagi aliran air terasa membasahi celananya.
Azam berjengkit, menyapu gaun tidur Asha dengan jemarinya. Napas istrinya terdengar putus - putus.
"Abang...Abang...air ketubannya pecah!"
Lewat semenit Azam bergerak, berlari ke kamar dan menggeleda laci. Mengambil kunci mobilnya, tak ada waktu menunggu keluarganya. Sebab Asha nampak begitu kesakitan, dan Azam tak kan mampu membiarkannya dalam kondisi demikian lebih lama lagi.
...****************...
Azam memberikan nama Ziyadarul Arash Wiratama yang di ambil dari bahasa Arab yang berarti tempat berkumpulnya berkah dari Allah.
Nama adalah objek sisipan doa dari ke dua orang tuanya untuk si buah hati, maka Azam berharap kelak putranya akan tumbuh menjadi insan yang memperjuangkan banyak hal untuk kebaikan dunia dan akhirat. Sebab sebaik - baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain.
Azam takjub bukan main ketika kali pertama menggondong putra ke duanya di ruang persalinan. Begitu mungil, menggeliat dengan tangisnya yang kencang. Azam sampai tak berani bernapas, terlalu takut jika hembusan napasnya melukai kulit putranya yang tipis. Sebetulnya masih ingin menimangnya, tetapi Arash harus di bersihkan dulu.
Maka dengan berat hati, Azam menyerahkannya pada seorang perawat. Untuk kemudian mendekat pada Asha yang berbaring dan masih memejamkan mata. Napas wanita itu kini mulai teratur, Azam menggenggam jari - jari Asha yang memutih dan menciuminya.
Bisik Azam di sisi telinga istrinya, tahu kalau Asha mulai terjaga.
"Aku tahu, entah mengapa tangisannya terdengar gagah sekali di telingaku"
Balas Asha, meski lemah namun sampai ke pendengaran Azam.
Lelaki itu mencium dahi istrinya, tersenyum bahagia. Cintanya makin tumbuh karena perasaan bangga. Asha telah melalui hal yang luar biasa, hidup dan mati masih memperjuangkan kesadarannya hanya untuk mendengar tangisan putra mereka. Di depan matanya, Azam menyaksikan sendiri betapa berat proses melahirkan itu. Asha adalah wanita yang tangguh.
"Sha, aku tidak bisa mengatakan apa pun"
Bibir Asha melengkung, namun matanya masih tertutup rapat.
"Kalau begitu jangan bicara apa - apa, aku tahu isi hati dan pikiran Abang. Sebab kita sudah terhubung"
Ya, Azam mengakui kebenaran itu. Ia tak bisa berbicara lain kecuali dengan rasa haru. Yang meluap lewat kehangatan bicaranya.
__ADS_1
"Kamu memberikanku sebuah kado yang di bungkus langsung di dalam rahimmu, Sha. Tepat di hari ulang tahun pertama pernikahan kita, aku tak bisa menemukan kalimat lain selain aku mencintaimu"
Air mata Asha menitik di pipi. Azam masih sempat menyekanya sebelum perawat datang untuk menjahit luka istrinya, memintanya mengurus administrasi lanjutan untuk kemudian bisa membawa Asha ke kamar rawat. Yang luas serta nyaman untuk di huni keluarga besar mereka.
Seruni, Hanifah bahkan Sam sekali pun antusias ketika kereta kaca memasuki ruang rawat Asha. Menampilkan bayi mungil menangis yang di balut selimut biru, terisak kecil. Nampak tak nyaman ruang geraknya terbatas oleh kain bedongan.
Kedatangan Arash berhasil mencuri perhatian seisi kamar, bergilir untuk di timang - timang. Tangisannya sudah berhenti, agaknya bayi itu senang di ajak main banyak orang.
Momen lain yang sangat membahagiakan bagi Azam ialah berkesempatan mengadzani putranya. Tepat di samping telinga bayi yang masih kemerahan. Arash terdiam namun jari - jari tangannya yang lucu keluar dari dalam selimutnya lantas bergerak - gerak seolah ingin menggapai wajah Azam.
ketika Iqomah, jarinya tak berhenti mengelus rambut Arash yang hitam. Tak salah lagi jika bagian yang satu itu di turukan oleh sang Ibu. Tidak ada rasa capek, memandangi dua objek yang kini menjadi poros hidupnya sedang beristirahat.
Sepagian rekan Azam dan teman - teman Asha semasa SMA dan kuliah bergantian datang membawa banyak bungkusan, hujan hadiah untuk baby Arash. Meskipun ruang perawatan begitu bising oleh percakapan, namun Arash tetap pulas dalam tidur indahnya.
Seorang bayi belum bisa di katakan mirip dengan siapa - siapa, tapi Azam menyangkal mati - matian pernyataan Arkha bahwa Arash mirip pamannya. Bosan mendengar bualan lelaki itu, Azam berkata sebaiknya Arkha di jodohkan saja. Dengan siapa pun dan membuat bayi. Agar tak mengaku - ngaku kepemilikan Arash yang jelas - jelas adalah putranya.
Kelamaan di ganggu, Arash bukannya membuka mata malah menangis kencang karena tak henti - hentinya jadi bahan elusan. Asha sebal bukan main, mengulurkan tangan meminta Arash dari gendongan Azam.
Tangisan bayi itu langsung berhenti bahkan saat baru menyentuh pakaian Asha. Luar biasa, rupanya ikatan batin mereka kuat sekali.
Ketika kejengkelan Azam pada Arkha benar - benar terlupa, Arkha tiba - tiba nyeletuk.
"Aku lupa bilang kalau hidung dan bibir Arash mirip Husain Fahmi, mirip sekali. Coba kamu perhatikan, Khairul Azam___!"
Hanifah yang sedang membuat susu sampai menengok.
"Arkha?!!"
Telat, Azam sudah menggeser kursi. Arkha buru - buru menutup pintu kamar rawat Asha dan langsung pergi. Azam mengejar sambil membanting pintu, entah apa yang mau di lakukan. Seperti sonic kalau sedang terjepit.
Asha menggeleng - geleng tak percaya, dan berbisik di samping telinga putranya.
"Kamu lihat, Papa dan Om mu? Mereka menyebalkan sekali, sejak pagi tadi hanya mengganggu tidurmu".
Siapa yang berminat di jodohin sama Aa' Arkha?
__ADS_1
Like dan Coment