
Bismillahirrahmaanitmrrahim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Aalihi Sayyidina Muhammad.
Azam membawa segelas susu hangat ke dalam kamarnya, di lihatnya Asha yang duduk di Sofa sembari memainkan gaunnya yang menjuntai panjang. Terasa canggung, tiba - tiba saja kini ia sudah menjadi penghuni Mansion mewah seorang laki - laki. Tapi mungkin ia tak butuh proses panjang untuk beradaptasi di lingkungan barunya sebab Asha adalah gadis yang pandai menempatkan dirinya.
Asha hampir terlonjak kala tubuhnya tepat berada di hadapannya. Azam meneguk sekali minuman itu sambil menikmati raut Asha, lantas memberikan cangkir itu.
"Minumlah..."
Azam mengelus sisi wajah Asha ketika perempuan itu meneguk air susu tepat di bekas tepiannya. Tindakan sekecil itu mampu memancingnya. Aneh, ia bahkan belum pernah menapakkan auratnya di depan laki - laki manapun, namun melihat keberadaan Azam membuatnya berpikir mereka dalam keadaan yang tidak - tidak.
"Kebaikan apa yang kamu panjatkan untuk pernikahan kita?"
Semakin di telisik maka semakin cantik Asha di matanya. Bidadari surga yang akan selalu Azam perjuangkan untuk kehidupan akhirnya.
Asha berkedip memandang Azam dengan segala kepolosannya.
"Seumpama seperti shorof, kita adalah wazan fataa'ala yang berarti musyarokah yang kapan pun dan dimana pun akan selalu mengarungi berdua. Karena-Nya aku taat kepadamu dan karena-Nya pula kamu ridha kepadaku"
Ya itu saja sudah membuatnya hampir meledak karena bahagia. Karena-Nya Azam mencintai Asha dan karena-Nya pula Asha harus meletakkan kesetiaan pada Azam. Azam merasa hidupnya akan benar - benar hijrah dari kegelapan menuju cahaya. Sebab Asha sudah berjanji akan menunjukkan sebesar apa cahaya itu pada dirinya. Azam menatap dalam - dalam di kedua mata Asha.
"Sekarang aku bisa melihatnya tapi bukan pada diriku, cahaya itu ada pada dirimu Sha. Kamu lah yang membagikan padaku".
"Kalau begitu aku ingin selalu berbagi sepanjang jantungku dan jantungmu masih berdetak".
"Hmmm..."
"Allahumma inni asaluka min khoirika wa khoiri ma jabaltaha alaihi. Wa 'audzu bika min syarri wa syarri m jabaltaha 'alaih"
Bisikan Azam seperti angin sepoi yang membelai pepohonan dengan rahmad. Sepenggal doa yang mengawali dan munstajab insya Allah akan senantiasa membawanya menuju keridlaan ilahi. Asha mengamininya dengan tak'dim.
Lantas kecupan itu beralih ke sepanjang tulang hidung, Azam mencium ujungnya yang mancung berkali - kali untuk kemudian berhenti di atas bibir Asha. Mengecupnya dengan hati - hati lalu sedikit menekannya dengan lembut, tidak buru - buru. Bibirnya membelas sabar, meminta Asha supaya membuka celah di antara bibirnya yang manis.
Asha mulai membuka bibir itu saat Azam mulai mendesak masuk, bingung dan kaku pada awalnya. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai membalas dengan malu - malu dan tanpa sadar kedua tangannya bertumpuh di kedua pundak Azam. Terasa pas menjadi tumpuan ketika tubuhnya mendadak lemas.
Merek bertukar saliva, kesegaran mint menyeruak sampai langit mulut. Asha merasakan kesegaran dan gelanyar di perutnya seperti simpul tali yang mengikat. Tekanan tangannya bahkan tak mereda ketika Azam melepaskan ciuman itu.
Asha membuka matanya saat tautan mereka terlepas, sekaligus menemukan Azam yang memandangnya. Ibu jari laki - laki terulur untuk mengusap permukaan hingga tepian bibir Asha yang basah. Nafasnya dan Azam memburu saling bekejaran.
"Aku tak pernah tahu jika kelopak mawar itu akan terasa semanis ini"
Gumam Azam hingga akan terasa sia - sia saja jika tak melanjutkan untuk merasai Asha lagi.
__ADS_1
"Kamu seperti air Khamr yang selalu membuatku kecanduan..."
Azam tersenyum miring, tak menyangkan jika mulut tajam gadis berphasmina merah muda yang dulu melawannya kini di milikinya.
"Tetapi kamu jauh lebih suci dari air itu sendiri. Bukankah kamu adalah Khamr yang halal untukku?"
Asha terengah menunjukkan belahan bibirnya yang terbuka. Azam menatap bibirnya sembari melepas bros yang menghiasi kerudung gadisnya. Satu per satu menanggalkan kain yang di bentuk sedemikian rupa untuk membuatnya nampak mempesona. Hingga jemarinya menarik lepas ikatan rambut Asha yang sengaja di buat sanggul, membuat helaiannya yang halus jatuh di setiap sisi wajahnya. Hitam, warna rambut panjangnya yang kontras dengan manik madunya yang keemasan.
Azam mengecupi rahang gadisnya yang bergaris lembut. Lihatlah! Bahkan Tuhan menciptaknnya begitu feminin.
"Ayo!"
Azam tiba - tiba berdiri di hadapan Asha.
" Mau kemana?"
Azam tersenyum melihat Asha yang ikut berdiri dengan sinar geli.
"Mau ke kamar mandi mengambil air wudlu untuk shalat sunnah dua rakaat. Aku ingin mensegerakan"
Allah, Asha mundur satu langka dengan gugup.
"Baiklah aku yang akan pergi duluan!"
...****************...
Suara siapa itu?
Mudah saja pertanyaan itu terjawab, karena wajah Azam berada tepat di samping wajahnya. Sedang mengawasinya secara terang - terangan sampai ke ujung selimut yang membugkus mereka.
Asha buru - buru menarik selimut sampai pangkal leher. Sepertinya butuh penyesuaian panjang untuk membiasakan diri kalau sosok Azam akan menjadi yang pertama kala ia membuka mata.
Asha berdehem untuk menormalkan tenggorokannya yang seret.
"Kenapa cara bicaramu aneh sekali?"
Tegurnya halus, mengacu pada ungkapan Azam dalam menyambut acara bangun tidurnya.
Azam melirik jam weker di belakang punggung Asha.
"Sebab sekarang memasuki waktu sepertiga malam. Ku pikir kamu mau shalat Tahajjud bersama?"
"Tentu saja aku mau"
Asha langsung menyauti, namun berbanding terbalik dengan matanya yang kembali terpejam.
__ADS_1
"Tapi tidakkah ini terlalu pagi? Aku tahu ini baik sekali bagi kita melaksanakan di waktu ini. Hanya saja, kenapa kamu bangun terlalu pagi?"
"Aku tidak bisa tidur, kamu selalu membuatku terbangun"
Suara serak dan lebih dalam seperti semalam. Azam tersenyum melihat pipi Asha bersemu merah muda, manis dan terkesan dewasa dalam penerangan temaram.
Tak ada reaksi apa pun dari istrinya yang cantik, Azam gemas sendiri sampai beralih ke atas tubah Asha membuat istrinya terpekik.
"Buka matamu, aku tidak suka main sembunyi - sembunyi Sha?"
Asha menyadari, wajah Azam begitu dekat hingga nafasnya terasa berhembus panas mengenai wajahnya. Panasnya serupa dengan api beberapa jam yang lalu saat membakar mereka dalam kenikmatan.
"Apakah aku harus menjawab pertanyaanmu?"
Kedua mata Azam kadung gairah.
"Tidak, kamu cukup merasakannya!"
Azam membenamkan diri diantara lekukan leher Asha, dengan lembut memberikan kecupan - kecupan kecil yang menggelora. Bibirnya menyapu tulang leher Asha, menghisapnya lama di sertai gigitan ringan yang menggelitik. Spotan tubuh Asha terdorong ke depan, meraih leher Azam sembari meremas rambut hitamnya yang lebat. Hembusan nafasnya terasa beradu dengan nafas Asha kala ciuman itu terjadi lagi. Respon Asha yang malu - malu, lembut, sekaligus cemas adalah perpaduan yang paling menyesatkan jiwa Azam untuk membuatnya bertekuk lutut. Ia tak suka wanita agresif dan jatuh cinta atas kepasrahan Asha.
"Ayo Sha, aku tidak ingin membuatmu lebih lelah dari pada ini"
Katanya menahan diri, terlepas fakta bahwa ia sudah bolak - balik ke kamar mandi mengambil wudlu agar bisa bercinta lagi dengan istrinya.
Ini pengalaman pertama Asha, ia harus memberi ruang padanya untuk menenangkan diri.
Di raihnya punggung Asha agar terduduk, tapi istrinya malah menjatuhkan diri dalam pelulannya dengan lunglai. Azam menciumi puncak kepalanya, rasa sayang dan cintanya ternyata tumbuh berkali - kali lipat.
"Apa rasanya sakit sekali?"
Azam membelai rambut panjangnya yang tergerai berantakan, lengket karena keringat namun wanginya masih memabukkan.
Asha menggeleng tanpa bersuara, hembusan nafas halus di lehernya setengah mati mengganggu Azam.
"Maaf aku tidak begitu mahir mengendalika diri terutama menyangkut dirimu!"
Azam mencium cuping telinga istrinya.
"Baiklah, aku atau kamu yang lebih duluan ke kamar mandi?"
Azam menyibak selimutnya dengan sekali hentakan. Mencuri satu kecupan sebelum Asha sempat menjawab, Azam lebih dulu menggendong tubuh istrinya sambil berbisik lembut.
"Atau kita masuk berdua sama - sama!"
"Ya Allah, abang...."
__ADS_1
Asha menjerit saat tubuhnya di bawah Azam menghilang di balik pintu kamar mandi.
Selamat beraktifitas kembali setelah libur panjang...beri Like dan Krisan ya...biar makin bersemangat