MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#77


__ADS_3

Bismillahirrahamaanirrahimm


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihi Sayyidina Muhammad.


Melewati masa 16 minggu kehamilan, perut Asha sudah membuncit. Bukannya banyak istirahat, wanita itu malah sering meminta jalan - jalan keluar. Tak pernah terlihat lelah, Azam sampai merasa seluruh daerah di ibu kota sudah di kelajahi.


Ponsel di atas dashboard berdering ketika ia sibuk menyetir, satu panggilan dari Sam. Azam mengangkatnya setelah melirik Asha yang tertidur di sangga bantal.


"Ya"


"Datanglah ke kesatuan, kami butuh bantuanmu"


Azam meloadspeaker.


"Aku sedang bersama istriku"


Lelaki itu menjawab ringan.


"Ayolah, bawa juga menantuku itu. Dia bahkan pernah bermain di lapangan tembak, lalu apa salahnya jika berkunjung ke bangunan milik ayah mertuanya sendiri?"


Azam menghela napas panjang, lagi pula Asha tak akan mau di ajak pulang sebelum langit gelap. Azam mematikan sambungan telphon, tancap gas menuju ke kesatuan yang sejak 2 bulan lalu tak pernah ia kunjungi.


Mobil jeep terparkir di depan bangunan dengan jalan rahasia. Sejak 5 menit lalu mesinnya mati, namun Azam belum mau beranjak. Ia enggan mengahiri pandangan manis Asha yang tertidur lelap, seolah tak ada yang mengganggu.


Sleeping beauty, Ya Allah dari segi mana pun istrinya terlihat cantik sampai Azam tak bisa berpaling dari hal apa pun. Azam mencondongkan tubuhnya, mengelus jilbabnya yang menjuntai dan naik. Kontan saja Asha terganggu dengan belaian lembut Azam di sisi wajahnya. Kedua mata wanita itu terbuka, bertemu manik hitam Azam yang cemerlang.


"Masa'ul Khair"


Azam menyapa, mengecup bibir Asha singkat yang mulai bergumam soal beranjak gelap. Padahal langit di luar masih benderang. Azam yang geli menurunkan kaca mobil, barulah Asha dengan polosnya mengatakan, oh.


Asha langsung duduk tegak.


"Kita ada dimana?"


Azam tak menjawab, membuka pintu lantas meloncat berlari ke pintu samping Asha. Membantu istrinya memijakkan diri, di sela itu ia berpikir sudah waktunya ia mengganti mobil demi kebailan Asha. Mobil jeep terlalu tinggi untuk seorang ibu hamil.


"Tempat kerjaku dulu, ada ayah dan rekanku di dalam"


Azam tersenyum, jemarinya mengapit begitu pas.

__ADS_1


Kepala Asha tak henti - hentinya mengagumi bangunan itu, begitu klasik dan elegan. Ruangan di bagian dalam bahkan jauh lebih mewah, banyak benda - benda asing menempel di dinding. Ruang bawah tanah yang luar biasa, lift terbuka menampilkan lorong berkelas yang di hiasi pintu - pintu metal. Azam menunjuk pintu paling ujung.


"Kamarku"


Gumamnya memberi penjelasan. Asha mengangguk sambi melangkah.


Akses menuju ruang utama adalah alat pemindai berupa teropong. Asha menatap benda di samping pintu dengan takjub, siapa yang berhasil membuat alat semenarik ini?


Azam yang tahu arah pemikiran Asha, menjawab rasa penasaran itu.


"Fahmi dan Raihan yang membuatnya 4 tahun yang lalu"


Asha mengerjab.


"Uh, aku jadi kangen Mimi"


Wanita itu berucap tulus, Azam malah mendengus jengkel. Menyesal bukan main berkata demikian.


Himpitan pintu terbuka, objek pertama yang di lihat Asha adalah pigura besar Azam di hiasi lampu biru menempel di dinding. Wajah - wajah yang lain terabaikan, matanya hanya focus menatap Azam yang gagah memakai seragam G30RM hitam - hitam. Di dada kirinya tertulis bordiran BIN atau Badan Intelijen Nasional.


Kaana kullu amrihi 'ajaba.


"Lewat sini, Sha"


Sejak tadi, genggaman mereka tak pernah putus.


Pintu itu terbuka, Sam nampak dari balik pantry menyambut gembira. Meletakkan mug di atas meja, lalu menghampiri Asha.


"Kabar baik, menantuku?"


Tanya Sam, ruangan yang Cool itu sirna karena kehadiran Asha.


"Kabar baik, bagaimana kabar Papa?"


Azam menyusul masuk sembari membuka jaket kulitnya ketika Sam menggiring Asha duduk di sofa.


"Kamu tahu? Adanya kamu membuat orang sakit menjadi sehat, Asha"


Canda Sam.


"Papa sudah membuatkan susu cokelat untukmu, kamu sudah tidak rewel lagi kan?"

__ADS_1


Menggoda masa - masa ngidamnya.


Asha tertawa, menggeleng malu. Aneh di homebase ada cangkir selucu ini? Mau minum, Azam malah mencuri start menyeruput pinggirannya. Melihat Asha cemberut membuat Azam terkekeh. Dan kekehannya di anggap aneh rekan - rekannya.


Apalagi Hamzah, yang tadi terusir dari sofa. Menatap Azam dari ujung kepala ke ujung kaki dengan sengit. Azam balas mendongakkan dagu, tatapan mereka semua langsung bubar jalan melihat sekip bengis itu. Asha yang sibuk menikmati minumannya di rangkul Azam posesif.


"Nah, sekarang katakan apa yang membuat Ayah memanggilku kemari?"


Sam mengetukkan jari, Hamzah langsung beranjak mengambil sekotak perlatan dari dalam kamar kerja Husain Fahmi.


Azam mendengus, keluar dari kesatuannya bukan berarti ia menjadi mekanik gratisan. Kan?


Sam mengeluh.


"Tak ada yang tahu password kotak sialan itu, sementara Fahmi tidak bisa di hubungi. Aku harap dia memberi tahukannya padamu".


Kotak berwarna silver itu di letakkan di atas meja, Azam mengamatinya dari samping ke samping bagiannya. Sambil berpikir apa kiranya digit yang di gunakan oleh si Fahmi untuk melindungi kotak itu.


Sam sudah mencoba mengetikkan password kombinasi angkan dan huruf, failed.


"Ada alat yang kami butuhkan untuk terjun di proyek NTT"


Kata Sam.


Azam menarik benda itu lalu mencobanya lagi, Failed berulang kali. Hingga Azam meminta Asha mendiktekan tanggal lahir laki - laki itu, gagal. Tanggal berdirinya kesatuan, gagal. Karena Fahmi cinta perdamaian, Azam mencoba peruntungan dengan memasukkan tanggal kemerdekaan negara. Tapi tetap gagal. Episode Spongebob favorit gagal pula. Nomor Handphone tak bisa. Tanggal Steven Hawking menerima gelar doktoralnya juga failed. Azam diam - diam mengutuk dirinya sendiri, dia ternyata hapal banyak kegemaran Fahmi tanpa di sengaja.


"Hancurkan saja kotak ini kalau memang perlu!"


Seru Azam jengkel, berbeda dengan gerakan tangannya yang terus memcoba.


Sam mendecak.


"Aku tak mau ambil resiko jika isinya ikut rusak. Benda itu sangat sensitif"


Seketika jari - jari Azam berhenti bekerja, bukan karema ucapan Sam. Lelaki itu melirik Asha yang tengah asik mengobrol soal grup Line dengan Hamzah. Tiba - tiba ilham itu datang padanya, enggan Azam membuktikan praduganya.


Tanggal ulang tahun Asha...


Dan kotak itu terbuka. Oh sialan benar, sebesar itukah cintamu pada Asha, Husain Fahmi? Azam mengurut pelipisnya yang tak sakit.


Like dan Coment😙

__ADS_1


__ADS_2