
Allohumma shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa alihi Sayyidina Muhammad
Dimana Asha? Dimana gadis itu? Satu diantara mereka menguasai diri, setelah yakin kalau Azam dan Elhakim adalah orang baik untuk menyelamatkan mereka.
"Teman kami,Asha dan Putri dikejar mereka lari jauh ke arah hutan.Sedang Julius, kami tidak mengetahui posisinya sekarang..."
Laki - laki bernama Arya itu terus memberi penjelasan, pelipisnya berdarah.
Pelipis Azam berdenyut.
"Ke arah mana...?"
Arya menyeka darah yang terus mengucur dari pelipisnya.
"Ke arah bekas pembakaran bangunan...!"
Oh,Asah mengapa kamu pergi kesana?
"Hakim,cepat bawa mereka keluar dari sini.."
Azam hanya berbicara lewat bahunya namun Elhakim mengerti dan segera membawa mereka keluar dari lindungan rimbun pepohonan.
Namun Arya menghentikan langkah Azam.
"Aku ikut dengan mu,aku bisa menggunakan senjata.Aku mohon...?Aku juga ingin menyelamatkan teman - talemanku..."
Azam bergeming,mengamati jelas - jelas kondisi Arya,sebelum mengedikkan bahunya memberi kode agar satu senjatanya di berikan pada Arya.
Lantas hanya Azam dan arya yang tersisa memasuki hutan.Tidak sampai setengah jam mereka menyusuri hutan belantara sampailah mereka di tempat tujuan.Banyak sekali orang yang berjaga di sekeliling pohon ulin.Sebagian merangkak untuk memasang ranjau baru,tidak ada yang selamat saat seseorang melewati itu. Azam dan arya,merka berdua bersembunyi di balik pohon meranti.
"Mereka di kejar ke arah sana...!"
Arya berbisik sedang Azam mengangguk dan menatap arah yang sudah di tunjuk oleh Arya.Berjalan dibalik pepohonan besar melewati orang - orang yang sedang berjaga dan ribut mencari - cari keberadaan Asha.
"Mereka belum tertangkap, aku yakin itu..."
Kata Arya.
__ADS_1
Lain Arya lain Azam,Arya menajamkan matanya ke pohon - pohon gelap merapat sedang Azam menajamkan pendengarannya dan berlari ke arah yang berbeda dengan Arya.Ada suara tangis merintih juga bisik - bisik panik yang ia dengarkan.Arya muncul di balik punggung Azam saat menemukan sumber itu berada.
Kedua wanita itu mendongakkan kepalanya seranya bola matanya yang melebar.
"Arya..!"
Pekik putri, spontan tangannya meronta - ronta ke udara agar bisa berdiri tegak.
"Azam..?"
Suara Asha terdengar mencicit.Kedua kakinya bergetar hebat saat mencoba berdiri.
Betapa leganya Azam saat menap gadis itu sedang baik - baik saja dan tidak kurang suatu apa pun.Kecuali pakaiannya yang rusak dan kotor,dan juga darah-
Darah?!
"Woi mereka ada disitu,tangkap....!"
Teriakan dan serbuan langkah kaki membuat mereka beranjak.
...****************...
Putri merintih menunjukkan luka pada tumitnya.Cukup lebar,mungkin terkena goresan ranting. Siapa pun tak akan sanggup beridiri apa lagi dipaksa berlari.
Arya berinisiatif berjongkok dan menawarkan punggungnya untuk segera di naiki Putri.
"Naiklah ke punggungku cepat, ayo kita tidak punya banyak waktu..."
Putri patuh, mengalungkan kedua lengannya pada pundak Arya. Wajahnya nampak pucat dan letih mungkin terlalu banyak mengeluarkan darah.
Merak mulai beranjak, Putri yang dipanggul Arya di ikuti Asha dan Azam berlari di belakangnya.
"Mau pergi kemana kalian..."
Teriakan itu bergema. Mereka dihadang pria - pria bersenjata yang muncul dengan tiba - tiba. Salah satu dari mereka menggenggam batu yang siap di lemparkan pada Arya. Reflek Azam maju untuk menghalangi, kaki kananya melayang seperti atlet kapoera sukse menjatuh batu itu dari tangannya.Di dorongnya punggung Arya agar terus maju.
Azam menjejalkan kompas ke tangan Arya sementara ia masih bertarung.
"Ikuti arahnya dan berlari lah secepat mungkun. Cepat pergi kaliam semua...!"
__ADS_1
Asha menatapnya tanpa berkedip,Azam memiliki waktu dua detik untuk membalas tatapan Asha sebelum berteriak kembali menyuruh mereka segera pergi. Semua serangan sudah di lemparkan pada Azam namun masih luput. Tak ada satu pun yang bisa melukai Azam atau balas melakukan serangan padanya.
Azam menedang pria berbadan pendek,menginjak kepalanya setelah badannya terjatuh. Merampas senjatanya dan menancapkan pada telapak tangan musuhnya.Jeritan kesakitan membahana ke seluruh penjuru hutan.
Mereka segera menyusi jalan kembali.Asha dengan gaunnya yang sudah robek - robek dan penuh duri melewatinya dengan ngeri. Sebuah tangan dari salah satu kadal gurun itu menarik gaun Asha hingga gadis itu terjerembab ke tanah. Azam maju dan menyebet tangan yang sudah menarik kaki Asha, terbayar dengan putusnya dua jari bandit itu.
Azam membantu Asha berdiri, gadis itu mencengkeram kaos Azam bagian depan dengan luka gores di sana sini.
"Kamu, siapa kamu sebenarnya...?"
Asha menatapnya dengan tatapan seorang yang mengeksekusi tawanannya di dalam lubang tanah.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaanmu...!"
Azam segera mencengkeram pergelangan Asha dan mulai berlari.Melihat ke depan dimana Arya dan Putri berlari dengan cepat melewati semak belukar yang tajam.Tiba di depan kolam berlumpur,Arya menghentikan pelariannya.Jalan buntu,tak ada pilihan lain.Tetap masuk kolam lumpur atau kembali pada bandit - bandit itu.
Azam menepuk punggung Arya sebagai komando agar tetap berkonsetrasi mengarungi.Putri yang masih dalam gendongannya Arya melompat hanya dengan sekali hentakan,seketika keduanya hilang dari pandangan Azam yang terlambat yang memasuki daerah itu. Masih dengan menggenggam tangan Asha,Azam harus melewati ujian fisik lagi.
Sekelompok bandit muncul dari belokan Arya dan putri melarikan diri tadi. Tidak ada jalan kembali kalu mereka memaksa masuk ke dalam lumpur,mereka pasti tertangkap. Azam harus putar balik dan itu artinya mereka akan menghadapi begunjal sebelumnya tadi.
"Sialan...!"
Umpatan itu lolos dari mulutnya tanpa memperdulikan Asha yang berada di dekatnya. Semua di luar dugaan,bagaiman mungkin ia terjebak dengan puluhan setan - setan itu.
"Apa mereka akan membunuh kita...?"
Suara Asha terdengar bergetar, Azam menoleh dan pandangannya tertuju pada pelupuk matanya yang sudah tergenang air.Mengapa ia selalu melihat Asha menangis tanpa ada kesempatan menyekanya? Sejak lama Azam membenci air mata,air mata uminya yang selalu memintanya kembali, air mata Asha atau air mata siapa pun yang tertumpah karenanya.
Azam mengeratkan pegangannya pada pergelangan Asha yang yang tanpa disadari membuat Asha merintih kesakitan.
"Iya,mereka ingin membunuh kita tapi aku tak akan pernah membiarkan terjadi..."
Tanah lapang itu tersambung dengan pohon ulin raksasa ternyata banyak dibatasi dengan pohon jati. Setia jalan yang ada disana sepertinya sengaja dibuka untuk mengarahkan musuhnya agar termangsa korbannya hidup - hidup.
Azam berhenti karena Asha tersandung sebuah batu,ia ingin merengkuh gadis itu dan langsung mengajaknya berlari.Tapi jalannya terkepung,mereka tak memiliki pilihan keluar lagi.Mereka datang dengan tawa yang saling membahana,menepuk - nepukkan pentungan pada telapak tangannya. Sebagian ada yang mengasah golok dan cluritnya.Gerak otomatis,Asha mencengkeram jaket Azam,seakan itu satu - satunya yang bisa membuatnya tetap berdiri.Azam menarik pinggang Asha dan langsung disambut siulan nakal segerombolan singa lapar itu.
"Hoi...masih siang bolong kalau kao orang mau berciuman jangan disini,sana cari kasur..."
Ucapan salah satunya disambut gelegar tawa para bajingan itu.
__ADS_1