
"He's so cool..."
Putri berucap untuk Azam.
"Ya memang sangat dingin, untung aku memakai mantel..."
Asha menjawab tanpa memandang lawan bicaranya itu. Ia masih sibuk memeriksa ponsel dan menampilkan gambar - gambarnya.
Berjalan di belakang para pria itu untuk kembali ke perkampungan membuat Asha dan putri menatap puas punggung kedua laki - laki asing tadi.
"Oh God...bukan udaranya My Luvly Zahra, tapi pria itu...tatapannya sangat dingin. Dia laki - laki yang berada di kantin waktu itu kan...?"
"Hum..."
"Apa kamu sudah mengenalnya...?"
Asha menegakkan pandangannya dan menatap punggung laki - laki yang dimaksud Putri kemudian sedikit mengangkat bahunya.
"Tidak...tapi dia teman Fahmi..."
"Oh ya...sungguh beruntung...!"
Binar - binar bahagia mulai terpancar pada netra Putri sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku rasa di dalam hutan tadi sudah ada Cupit yang sudah menancapkan panahnya kepadaku..."
"Bukan hanya Cupit,Dewa Amor ada juga mungkin...!"
Asha mengetahui arah pembicaraan Putri,memutar bola matanya jengah dan kerut pada keningnya begitu dalam sebelum memasukkan ponselnya ke dalam kantong mantel.
"Aku tidak mau, kalau kamu berniat silangkan berkenalan sendiri..."
Asha menutup negoisasinya bahkan sebelum Putri mengucapkannya.
"My Love....Please..."
"Tidak..."
Putri beringsut, memajukan sedikit bibirnya merupakan pemandangan lucu yabg sering Asha jumpai pada bibir sahabatnya itu.
"Asha...apa kamu mendapat gambar binatangnya...?"
Pak Sodikin memperlambat langkah barisannya agar dapat menjangkau dengan sisi gadis itu.
"Tidak ada binatang apa - apa pak...tapi aku mendapat satu gambar burung Kasuari, coba lihat..."
Asha menunjukkan gambar itu pada pak Sodikin, senyuman tipis mulai menghiasi bibirnya.
__ADS_1
"Kamu benar, indah sekali..."
Sedikit ucapan pak Sodikin sudah mampu membuat hati Asha berbunga - bunga dan tanpa sengaja melempar pandang pada Hamzah yang sedari tadi diam - diam selalu memerhatikan Asha.
"Pak Sodikin baik sekali seperti Mama ku..."
Hamzah mencoba membaur dengan dialog khas anak dan bapak itu. Mendapat balasan senyum dari Asha membuat laki - laki itu menjadi canggung dan salah tingkah.
"Oh ya...aku dengar kamu disini sedang melakukan penelitian,benarkah...?"
Hamzah semakin salah tingkah sendiri atas pertanyaa Asha yang mencekat.
"Ohh...i-iya...kami sedang melakukan penelitian...!"
"Penelitian apa...?"
"Perkawinan tanaman silang..."
Hamzah berkata seadanya. Bertukar pandang pada Azam sebelum ia menggaruk tengkuknya sendiri yang tidak gatal.
"Pasti perkawinan silang antara anggrek hitam dan anggrek bulan...?Aku ingin tau bagaimana hasilnya nanti..."
Hamzah semakin tak percaya diri saat menatap netra Asha yang penuh harapan.
"I-iya...nanti akan aku tunjukkan...!"
"Aku harap kamu bisa melakukan hal sebodoh itu,Mengawinkan dua tumbuhan..."
Azam mencibir dengan berbisik pada telinga Hamzah sebelum keduanya saling membalas tatapan.
"Aku sudah berbuat sebaik mungkin dan kamu tidak menolongku pak ketua. Jadi jangan memprotes pengalihanku..."
"Harusnya kamu cukup diam,erepotkan saja...!" Ada penekanan,nada lain tersangkut dalam ucapannya dan itu tak disadari Azam.
Hutan telah terlewati, suara Adzan mulai terdengar walau sinar jingga masih bergelayut indah di langit sana. Rombongan itu sudah memasuki perkampungan. Rombongan itu sendiri mengambil jalur yang berbeda.
Jalanan terbelah menjadi dua jalur, Azam dan Hamzah
"Sampai nanti pak...Kalau ada waktu kapan - kapan aku ingin ikut ke perkebunan kelapa sawit..."
Putri berbasa - basi perpamitan pada pak Sodikin dengan pandangan yang terus tertuju pada Azam.
"Asha..."
Nama itu begitu indah terucapkan dari bibir Azam,nama yang cantik secantik pemiliknya. Menyebutkan dengan lirih dan lembut seperti angin yang berhembus di tengah hutan.
"Sapu tanganmu..."
__ADS_1
Phasminanya berdesir mengikuti alunan gerak kakinya yang tiba - tiba terhenti karena suara Azam. Gadis itu membalikkan pandangannya.
"Untuk mu saja,kamu lebih membutuhkan..."
Tak ada reaksi apa - apa yang di tampilkan Azam,kaku dan terpaku melihat makhluk indah itu pergi sebelum menghilang dari balik gang sempit yang akan mereka lewati.
Tunggu,Asha berhenti lalu mengalihkan pandangannya pada Azam yang masih setia mematung.
"Jangan lupa di obati..."
Semburat jingga tiba - tiba melebur di atas langit bersamaan dengan Adzan yang saling berkumandang bersautan.
...****************...
Ruang yang tak begitu besar itu dan didominasi bau khas rumah sakit ini tampak sepi dan lengah.Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Mereka, disaat orang - orang mulai terlelap dalam mimpi,merapatkan selimut dan memeluk guling.Mata serta otak mereka dituntut untuk tetap bekerja,terbuka dan waspada.
Pasien apa lagi yang akan mendatangi tempat itu...
Asha bertugas malam ini bersama tiga rekannya yang lain.
Tatiana masih membuat kopi di dapur sederhana Puskesmas itu, sedang Anton yang usianya jika dibanding Asha memang dia lah seniornya dengan jambul khas silky yang masih on karena berkat bantuan jell merasa tak kuasa saat bed satu itu terus saja melambai - lambai dan merebahkan tubuhnya disana.
Tiba - tiba Asha merasakan angin malam bertiup kencang. Pintu keramat itu,pintu Instalasi Gawat Darurat di jam sepuluh malam menjadi tujuan pandangan utamanya sesaat ,Pasien datang.
Siluet laki - laki tinggi sudah berdiri di ambang pintu,mengenakan kaos oblong dan di lapisi jaket kulit. Tangan kanan mengucurkan darah dan tangan kiri menopangnya. Perlahan Asha mulai menyadari, siapa pasien itu.Gemuruh dadanya tak bisa dikendalikan lagi,saling menggulung serta menerjang bagai ombak di lautan.
Azam....
Ombak itu memberikan dampak besar di hati Asha,seketika ia mematung dan berusaha mengalihkan tatapan itu.Tatapan dingin yang tak pernah berubah.
"Mas Anton, tolong siapkan Hecting set sekalian sama lidocain-nya ya? Ada pasien luka robek,aku mau jahit sekarang...!"
"Siap dokter...laksanakan segera...!"
...****************...
Air di rumah pak Sodikin memang sangat dingin dan sejuk,namun air itu tak mampu menjernihkan sekelompok pemuda yang masing sibuk mengeluarkan beberapa senjata dan mulai mengontrolnya.Mengisi slot - slot peluru yang masih kosong.
Kumandan adzan isha' di surau mulai terdengar saling bersutan. Tak ada yang menghiraukannya, mengabaikan panggilan yang dulu sangat ia kagumi.Semua seperti itu,sama.Kelompok itu sudah terlaknat,bagaikan binatang buas yang tak pernah mengenal siapa penciptanya.Hati kecil Azam tertawa sumbang.mengejeknya yang telah bertransformasi menjadi manusia laknat yang abai akan panggilan tuhan.
Azam begitu berapi - api menjadi seorang pejuang,rela mengorbankan segala jiwa dan raga demi kedaulatan negara.Namun nilai spiritualnya tak terhitung betapa buruknya.Kawan - kawannya juga sama,sejenis dan pantas di tempat yang sama.Hatinya kosong dan hitam.Mungkin hanya Petrus yang masih religius terlihat kalung salib yang setia melingkar pada lehernya dan setiap pagi ia selalu memberikan penghormatan pada keyakinannya.
"Lebih baik kalian makan dulu,perut yang kosong tidak akan membantu keras dalam menyusun strategi..."
Susah bget sih.....
__ADS_1
Dukung karyaku ya