
Bismillahirrahmaanirrahim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Alihii sayyidina Muhammad
Wajahnya berubah kumal dan pucat, Syamsudin Bahar hanya penghuni sel menyedihkan. Kelaparan tak terurus, tak ada yang menjenguknya. Sebelumnya, sidang lelaki itu berjalan cepat. Dengan putusan seumur hidup mendekam di penjara.
Cukup adil bagi Sam, setidaknya untuk ukuran hukum dunia. Semua orang bersuka cita atas tertangkapnya gembong mafia itu. Headline koran lokal di penuhi pemberitaan dia selama satu bulan ini.
Akbar Simanjuntak berdiri di depan selnya, menikmati momen manis itu sambil menyesap rokok lintingnya lalu membuang ke lantai sel dan menginjak - injaknya agar cepat padam.
"Well Bahar, akhirnya aku bisa melihatmu mendekam disini seperti musang busuk"
Bahar mendongakkan wajah, raut itu di liputi kebencian melihat Sam menyeringai. Sam mengetukkan jarinya di pagar besi yang merapat, mencoba menangkap sosok Bahar dengan jelas dengan mata menajam.
"Aku telah menunggu kehancuranmu selama bertahun - tahun. Menanti begitu sabar, dengan sabar, sangat sabar. Pelan - pelan merancang semua rencana, step by step. Dan gini kamu menerima kanjaran atas semua perbuatan kejimu pada banyak orang, Bahar. Maka nikmatilah kesengsaraanmu supaya kamu mati tidak dalam keadaan gila seperti dia"
Kedua bola mata Sam berpendam redup kala mengucapkan kata terakhirnya.
Bahar terdiam, namun bola matanya terus bergerak - gerak. Lantas beberapa detik kemudian tertawa, meledakkan tawa yang tak putus - putus sembari bertepuk tangan.
"Hebat, dari dulu kamu selalu gigih memperjuangkan wanita itu. Wanita yang berhasil aku buat gila dan sengsara"
Bahar menekan ucapanya, mendesis dan tertawa hingga suaranya nyaring mengalir melalui cela - cela besi.
Sam merasakan tubuhnya menegang, otot di sekitar lehernya mengencang.
Senyum Bahar yang culas menghiasi bibirnya yang ungu.
"Kamu tak akan menemukan dia, hidup atau mati. Wanita itu sudah aku kirim ke tempat lebih buruk dari kematian. Dimana tak ada lagi yang mempercayainya, sendiri dan kesepian"
Sam merunduk, menarik baju tahanan yang di gunakan Bahar. Kepala sang mafia otomatis menabrak jeruji besi dengan keras.
"Apa yang kamu lakukan padanya? Jawab aku bajingan! APA YANG KAMU LAKUKAN!"
Bahar meludah.
"Anjing! Sejak dulu kamu memang biangnya! Kamu selalu ikut camput dalam urusanku dengan dia!"
__ADS_1
Sam mengerung marah, menyelipkan lututnya untuk mengahajar perut Bahar.
"Karena kamu menyakitinya! Kamu menyiksanya setiap hari, dan apa aku harus diam saja melihat anakmu sekarat di rumah sakit? Kamu melempar mereka dari atas balkon itu!"
Suara ribut memancing para petugas, namun melihat kemurkahan Akbar Simanjuntak membuat mereka mundur teratur. Sang Komandan tak akan ada yang bisa menghentikan, kecuali oleh keinginannya sendiri.
Lidah bahar tergigit giginya sendiri, air liur di sudut bibirnya bercampur dengan darah segar.
"Dia pantas mendapatkannya! Dan kamu, berapa kali kamu sudah tidur dengan dia,Huh?"
"Dia itu istrimu, kamu pikir kamu pantas mengucapkanya! Dia adalah satu - satunya wanita terhormat yang aku kenal. Kamu seharusnya malu dan merasa berdosa padanya"
Sam terengah, teringat bagaimana dulu Seruni di perlakukan kejam dan keji oleh Bahar. Bagaiman dia tahu Gilang Panji Wiratama keluar masuk UGD akibat kekerasan fisik dari ayahnya sendiri. Serta bagaimana tertekannya Sahrir tanjung yang di perbudak olehnya. Semuanya itu membuatnya marah, sebab Bahar tak pernah menghargai kesetiaan Seruni. Seruni yang terlalu bodoh dan terlalu baik.
"Aku membencinya, aku membenci kalian semua"
Desis Bahar.
"Maka hiduplah dengan kebencianmu!"
Sam berbisik, mengatur napasnya.
"Oh tentu saja, selama aku tahu si Dirgantara mati di tembak menantunya sendiri. Aku bisa hidup tenang!"
Sahutnya penuh kemenangan.
Sam mengepalkan kedua tangannya, amat bernafsu untuk melenyapkan nyawa lelaki itu dengan pistol di celananya.
"Kamu telah menjebaknya, Bahar!"
Sam ingin mengguncang tubuh itu agar setan yang bersemayan dalam dirinya pergi.
"Sadarlah, dia itu putramu! Anak yang kamu buang dalam jantung gunung itu anakmu kalau - kalau kamu lupa. Dia yang memanggilmu ayah, dia yang kamu hancurkan jiwanya. Dasar sinting, kamu menghancurkan segalanya yang kamu miliki. Yang dulu mengasihanimu!!!"
Bahar bersandar di dinding, mencekeram dadanya sendiri.
"Well, bukankah dia akan menemani ayahnya membusuk dalam sel?"
Sam memejamkan mata kuat - kuat, hati dan pikiran Bahar memang sudah tidak berfungsi. Terlalu kuat di kuasai mantra kebencian.
__ADS_1
"Sayang sekali, karena ku pastikan tak lama lagi dia akan keluar. Tinggal bersama orang yang mencintainya tanpa menyia - nyiakannya".
Bahar pura - pura melongo, kembali tertawa keras.
"Hei, bangunlah dari mimpi Simanjuntak! Tak ada yang bisa mengeluarkannya dari penjara. Kesalahannya tidak termaafkan, tak ada bukti yang bisa membebaskannya. Dia akan hidup bersamaku dan kelak akan aku lihat dengan mata kepalaku bagaimana dia akan mati. Kali itu, aku akan benar - benar mati!"
Sam menunjukkan wajah sekeras batu, menohok Bahar.
"Aku tahu kamu melakukan sesuatu pada senjata itu, kamu memodifikasinya Bahar".
Raut Bahar seketika berubah, kedua tangannya saling mengepal.
"Omong kosong"
Sam menunjukkan sebuah benda kecil dari dalam kantung bajunya, rekaman CCTV dan merasa menang bukan main melihat tubuh laki - laki itu bergetar. Di ujung tanduk pada kekalahannya.
"Aku bersumpah akan menemukanya, kuncian tembak otomatis yang kamu buang ke dalam parit"
"Tak akan kamu temukan, benda itu sudah tenggelam dan hilang di bawa arus. Kamu tak akan menemukannya, tak ada bukti apa pun yang sanggup menyelamatkannya"
Bisik Bahar kasar, bibir bawahnya gemetar.
Berpikir sampai mana kebenciannya pada Gilang Panji Wiratama dan Khairul Azam ketika visual dua wajah itu hadir di benaknya. Kebencian pada Sahrir Tanjung, kebencian pada kedua putranya. Sesungguhnya itu kebencian untuk dirinya sendiri.
Sam melempar benda itu ke udara, lantas menangkapnya kembali.
"Maka akan aku turunkan Tim SAR terbaik yang bisa menemukannya. Tak ada yang berani berhenti dari pencarian itu meski esok hari terjadi kiamat".
Sahut Sam tegas, memperlihatkan kesungguhannya.
"Kita lihat saja siapa yang akan jadi pemenangnya? Kamu yang terkurung dalam kandang atau aku yang berkuasa di luaran sana?"
Sam berbalik untuk membelakangi Bahar.
"Terakhir, Bahar. Aku kecewa sekali pada Mafia besar seperti dirimu. Seharusnya kamu hidup dengan binatang dan belajar bagaimana mereka rela mati demi melindungi anak - anaknya. Bukan malah memangsa satu per satu demi kelaparan yang tak pernah usai!"
Selesai. Kalimat itu bergaung, membawa sosok jangkung Akbar Simanjuntak melenggok dingin meninggalkan Syamsudin Bahar di dalam sel khususnya. Sendirian, yang saat itu menghajarkan tangannya ke tembok. Membiarkannya berdarah dan remuk.
Detik itu juga Syamsudin Bahar mengakui kekalahannya.
__ADS_1
Sabar ya reader's...ujian harus tetap di hadapi Azam dan Asha. Tapi aku pastikan semua akan indah pada saatnya. Terima kasih atas Krisannya...Like dan Coment😙