MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#44


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad


"Mudah saja, kamu hanya perlu menjadikan aku orang pertama yang menyekanya"


"Hanya itu?"


"Hummm"


"Kalau begitu aku akan menangis setiap hari"


"Asal kamu bahagia"


"Berarti Abang harus selalu memberiku kejutan"


"Anything"


Asha mencium rahang Azam sebelum mematung sempurna di ruang tengah yang luas yang di beri cat warna putih itu.


"Kapan Abang mempersiapkan semua ini?"


Azam bersandar di bahu tangga.


"Satu minggu yang lalu, bersama mama Hanifah. Beliau yang mengatur warna cat dan letak prabotannya".


Asha menyipit.


"Oh, jadi kalian menjalin aliansi ya?"


"Ya jelas, Mama kamu kan lulusan Arsitektur!"


Asha menaiki undakan tangga.


"Apa Letnal Kolonel kita yang galak itu ikut bersekongkol juga?"


Azam mengangguk mantap.


"Benar, pak Kolonel yang mengangkut lemari ke lantai dua!"


Asha mau marah, tapi bau sedap membungkam mulutnya.


"Dan wangi apa ini?"


"Sup jagung manis, pergilah ke dapur dan bantu Mama menyiapkan makanan".


Asha melompat dari undakan tangga mengacuhkan seruan Azam yang takut ia terpeleset.


"Ma...Mama...?"


Asha berteriak antusias, sepenuhnya mengabaikan Azam.


...****************...


Tangan Asha menjelajah ke punggung suaminya, merasakan otot - otot yang menjalari bagian itu bereaksi atas sentuhan itu. Sementara Azam memperhatikan aksi istrinya dengan mata menyipit. Asha tidak pernah belajar dari pengalaman rupanya, kalau suaminya sudah mengeluarkan geraman halus itu artinya Asha harus berhenti. Atau kalau tidak, mereka akan terkurung dalam kamar seharian penuh. Lupa makan dan mandi junub, itu sangat berbahaya.


"Bahumu"


Bisik Asha lembut, aroma jeruk mandarin menguar dari bibir merah muda itu.


"Ya, luka selalu meninggalkan bekas. Hati maupun tubuh hakikatnya sama. Luka tidak akan bisa hilang dengan sempurna"


Azam menarik jemari Asha yang berada di belakang bahunya, enggan membiarkan wanitanya menyentuh sisi buruknya.


Asha mendengarkan, tangan kanannya bebas menjangkau wajah Azam. Mengelus dahinya dengan lembut dan secafa inplusif mendaratkan kecupan kecil disana.

__ADS_1


"Kamu begitu berani"


Asha tersenyum malu - malu teringat bagaimana dulu Azam sampai merosot karena beberapa tembakan untuk melindungi dirinya.


Asha tak pernah mempermasalahkan seberapa banyak luka yang ada dalam tubuh suaminya, di tangannya yang penuh sayatan atau


di ujung alisnya.


Azam merunduk makin rendah, tanganya membelai rambut panjang Asha yang tergerai indah di atas bantal. Azam menyukai bagian itu, tempat ternyaman untuk membenamkan diri ketika badai orgasme menghantam. Asha tidak akan pernah tahu, seberapa dalam ia mempengaruhi Azam. Ucapan maupun tubuh selalu menjadi magnet untuk kian merekat.


"Justru kamu lebih berani dari pada perkiraanku, tidakkah kamu takut menikah dengan orang jahat sepertiku Sha?"


Asha kurang suka mendengar perumpamaan itu. Azam bukan orang jahat, sebab tindakannya tidak di peruntukkan untuk kejahatan. Lebih sopan kalau menyebut Azam sebagai manusia yang tidak terlalu tepat memilih jenis pekerjaan dan jalan hidupnya sendiri.


"Dunia tidak hanya terbagi orang jahat atau orang baik. Semua orang memiliki pilihan dalam hidupnya, semua tergantung pada pilihan yang kita ambil. Itulah yang sesungguhnya menentukan jati diri kita, My hubby!"


Azam tersenyum tipis.


"Good girl"


Tak tahu akan jadi apa ia kalau Asha tak pernah hadir dalam kehidupannya.


Asha mengusap kening Azam yang mengkerut supaya lebih rileks.


"Aku punya beberapa pertanyaan!"


Tanyanya pelan.


"Go ahead"


Asha menatapnya lama, ada ketidak ikhlasan hilir mudik pada maniknya yang menawan.


"Berapa kali Abang di sentuh oleh wanita itu?"


Azam mengangkat sebelah alisnya atas pertanyaan istrinya.


Azam memotong cepat.


"Aku tidak pernah membiarkan mereka menyentuhku kecuali aku mengizinkannya. Kamu terkecuali, Sha. Kamu satu - satunya wanita yang aku izinkan menyentuh di mana saja yang kamu inginkan!"


Asha membuka mulutnya, namun hal itu malah mengundang kesempatan bagi Azam untuk memangut bibirnya lebih dalam.


"Salah besar jika kamu mengatakan dia wanita seksi. Bagiku kamu jauh lebih dari padanya!"


Mata hitamnya menelusuri seluruh bagian tubuh Asha yang masih menyisakan pakaian dalam.


"Hanya bagian dari tugas Sha, wanita itu kunci saksinya dan aku di dapuk sebagai umpannya. Tidak kurang dan tidak lebih. Kamu tahu kan bagaimana pekerjaanku menuntutku!"


Asha mengangguk, penjelasan Azam sudah lebih dari cukup.


"Aku tahu bagaimana hatimu!"


"Tentu saja, sebab kamu pemiliknya!"


Tanpa tedeng aling - aling, Azam mulai menyatukan tubuh mereka dengan perlahan.


"Kenapa kamu begitu cantik Sha?"


Azam mengerang, seluruh kesakitan yang pernah di tangguhkannya tidak berarti di banding rasa sakit yang menyerang tubuh bawahnya jika di biarkan lama dekat - dekat Asha.


Asha menutup kelopak matanya.


"Aku tidak merasa seperti itu?"


Azam mencium ujung bibirnya.


"Karena kamu hanya menunjukkan padaku Sha, kamu tidak pernah mencoba tampil cantik di hadapan siapa pun"

__ADS_1


Cukup, Azam sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi. Sebuah erangan panjang mengiringi ledakan dalam dirinya pada diri Asha. Asha telah memberikannya lebih dari kepuasan. Azam menempelkan kening mereka, mengatur pernapasan yang masih memburu. Meredam getaran yang menjalar hingga ke tulang sum - sum terdalam.


"Apa kalian tidak turun untuk makan malam bersama?"


Asha dan Azam saling berpandang mendengarkan suara Hanifah, ketukan pada pintu kamarnya terus berbunyi. Asha yang pertama mendengar segera mendorong tubuh Azam agar menyingkir dari atas tubuhnya.


"Ya Ma, sebentar lagi turun!"


Teriak Asha sambil mengenakan pakaiannya satu persatu dengan buru - buru.


Azam terkekeh melihat Asha keteteran mengenakan jilbabnya.


"Kamu turun duluan, nanti aku menyusul".


Katanya sambil bangkit memakai celana piyama hitamnya, melenggang santai menuju kamar mandi.


Sementara Arkha sudah duduk di depan meja makan, kedua tangannya sudah siap memegang sendok dan garpu saat Asha menuruni tangga.


"Uh...keramas, sambutan luar biasa setelah satu bulan tidak bertemu adik kecilku. Lama sekali kalian turun, sampai pantatku lumutan karena menunggu. Kalian habis coba ranjang baru ya?"


Asha duduk sambil melotot.


"Tolong ya A', kalau ngomong di saring dulu! Apa perlu aku belikan saringannya?"


Arkha menepuk kedua tangannya.


"Wah...sombong sekali nyonya baru ini, dapat pemasukan ganda ya?"


Huh...kalau bukan kakaknya, Asha mungkin akan menendang Arkha keluar rumah.


"Mana suamimu? Masih cuci....?"


"Aa'....?!"


Asha jengkel bukan kepalang, wajahnya merah padam.


"Arkha...tolong jangan ganggu adikmu, kamu selalu saja tidak mengerti!"


Hanifa memperingati sembari memindahkan sup ke mangkuk Arkha. Arkha menjadi bungkam seribu bahasa.


Tak lama, Azam muncul bersamaan dengan Iqbal Dirgantara dari arah kamar tamu. Suami Asha itu sudah berganti kaos dan celana panjang. Rambutnya rapi namun masih basah, airnya menetes - netes di pundak baju. Asha melirik Arkha dengan pandangan mengancam.


"Kamu sudah menyusun laporannya?"


Dirga menerima nasi dari Hanifah.


Azam bergumam dengan mendapatkan perlakuan yang sama manis dari istrinya. Hamya Arkha yang terlihat mengenaskan di meja itu tanpa pasangan.


"Pihak tergugat di dampingi dengan kuasa hukum dengan posisi lemah. Sepertinya Steve Yan bangkrut dan tak bisa menyewa pengacara handal"


"Aku ingin jaksa penuntut umum memberikan hukuman seumur hidup"


"Aku akan memperjuangkan, mereka pantas membusuk dalam penjara!"


Hanifah melirik Asha yang tiba - tiba mengehentikan suapannya dan hanya mengaduk - aduknya saja.


"Bisakah kalian jangan membicarakan hal serius itu di meja makan?"


Kedua lelaki itu baru menyadari kalau wajah Asha berubah pucat.


Azam menggenggam jemari istrinya.


"Semua akan baik - baik saja!"


*Hei...hei...hei...menuju episode mendebarkan nih...kira - kira konflik apa ya?


Terus beri author dukungan berupa Like dan Krisan*....

__ADS_1


__ADS_2