
Allohumma Shalli 'Ala Sayyidina Muhammad
Wa'alaa 'Alihi Sayyidina Muhammad
Azam berhenti karena Asha tersandung sebuah batu, ia ingin merengkuh gadis itu dan langsung mengajaknya berlari.Tapi jalannya terkepung, mereka tak memiliki pilihan keluar lagi. Orang - orang itu datang dengan tawa yang saling membahana, menepuk - nepukkan pentungan pada telapak tangannya. Sebagian ada yang mengasah golok dan cluritnya. Gerak otomatis,Asha mencengkeram jaket Azam, seakan itu satu - satunya yang bisa membuatnya tetap berdiri.
Azam menarik pinggang Asha dan langsung disambut siulan nakal segerombolan singa lapar itu.
"Hoi...masih siang bolong kalau kao orang mau berciuman jangan disini,sana cari kasur..."
Ucapan salah satunya disambut gelegar tawa para bajingan itu.Asha ketakutan saat salah satu dari mereka yang membawa pentungan mendekatinya. Gadis itu masih sempat memandang Azam dengan seribu permohonan agar kegilaan ini segera berhenti, tapi Azam hanya bergeming.
Kontak fisik mereka benar - benar terpisah saat salah satu kadal gurun itu menyeret paksa Asha menjauhi Azam. Pentungan itu mendarat indah pada kaki Azam,serta bagian tubuh yang lainnya secara membabi buta. Satu diantara tiga puluh orang produktif mustahil mampu melawannya.
Azam memejamkan mata, kekosongan menyerang dirinya saat Asha direnggut darinya. Ada rasa marah dan kecewa dalam dirinya, namun ia harus tetap tenang agar bisa berpikir jernih.
"Hei kao cari mati ya...?!"
Golok itu tepat berada di sisi lehernya, sedikit saja tertekan makan lehernya siap tergorok secara perlahan.
"Kami tau,kalian mengintai tempat ini sejak beberapa hari yang lalu. Kao dan orang - orangmu sudah cari perkara dengan kami dan bos besar...?!"
Kedua tangan Azam di telikung ke belakang agar tidak bisa meloloskan diri. Sebenarnya tidak perlu. Melihat benda tajam itu masih berada di dekat tubuh Asha,Azam tak mungkin bisa meloloskan diri. Gadis itu terlihat gemetar dalam sandraan, wajahnya pucat bahkan hampir pingsan.
"Dengar,- tidak ada yang bisa mengusik kami apalagi cecunguk seperti kalian. Kekuatan bos besar kami terlalu kuat untuk kalian kalahkan...!"
Tawa - tawa sumbang kembali menggelegar. Azam mengambil kesempatan itu untuk mengaktifkan GPS jam analog di pergelangan tangannya yang berada di balik punggung. Memberi signal pada anggota G02RM untuk mengetahui keberadaanya dan segera menyerbu masuk ke dalam hutan.
"Siapa kao orang sebenarnya...?mata - mata yang di kirim tentara busuk itu...?kao orang pikir bisa mengalahkan kami...? jangan bermimpi...? tidak ada yang bisa kembali setelah masuk hutan ini,hutan ini milik kami..! Jangan berani mengusik kegiatan kami..?!"
__ADS_1
Azam tersenyum sinis sambil melirik wajah yang penuh amarah itu.
"Cepat geledah pakaiannya, Topan...?!"
Teriakannya seolah ingin merenggut nyawa seseorang. Mereka menyimpulkan,lebih baik tawanannya itu di bawa menghadap bos besar lebih dulu karena sepertinya tawanannya kali ini bukan dari orang biasa.
Laki - laki berbau busuk itu segera melaksanakan perintahnya untuk menggeledah tubuh Azam. Pistol Heckler dilempar ke tanah bersama pisau lipatnya. Kantong loreng dicabut dari kaitan gesper Azam menyebabkan semua benda - benda kecil yang paling penting itu jatuh berantakan dan kemudian di injak - injak oleh mereka. Mereka tau barang - barang itu adalah alat pengintai, Azam dihadiahi tendangan pada lututnya sampai roboh. Kemudian bogem mentah juga sudah mendarat indah pada perut Azam. Lelaki yang berada di belakangnya menarik kaos Azam dengan kasar.
"Bedebah....bangun kao orang...?!".
Sebuah hantaman mengenai rahang Azam hingga sudut bibirnya berdarah. Sebelumnya ia tak akan pernah membiarkan dirinya terluka tanpa balasan yang setimpal.
"Tengok ini Topan, sepertinya dia orang suka bermain dengan pisau ini...?!"
Pisau lipat Azam sudah dilempar pada laki - laki yang memegang Asha.
Guntur menyeringai, lelaki itu balas melempar goloknya tepat mengenai sepatu Azam.
Asha terisak namun matanya tetap tertutup rapat - rapat. Pisau itu menekan dagu Asha. Gadis itu tidak mengerti apa yang mereka katakan, namun satu hal yang pasti nyawanya benar - benar dalam bahaya.
Robbanaa laa tu-aa khidznaa in nasiinaa au akhtho'naa, rabbanaa wa laa takhmil 'alainaa ishran kamaa hamaltahu 'alalladzinaa min qoblinaa, rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thoo qotalana bihi, wa'fu annaa wagh-firlanaa warhamna anta maulanaa fanshurnaa 'alal-qoumilkaafiriin.
Asha berdo'a memohon pada Alloh agar mereka segera dikeluarkan dari situasi sulit ini dan dan terbebas dari orang - orang kafir yang berhati jahat. Asha menangis sambil berdzikir tiada henti, menyerahkan hidup dan matinya hanya kepada Alloh. Satu - satu penguasa alam semesta.
Asha melihat bagaimana Azam dipukuli secara bertubi - tubi. Tubuhnya menjadi sasaran tinju mereka, perutnya ditendang tapi Azam tetap diam. Tubuhnya diangkat lalu di jatuhkan lagi untuk mendapat perlakuan yang lebib keji. Namun raut wajahnya tidak menunjukkan kesakitan meski darah sudah mengucur dari segala arah. Mata sehitam jelaga itu memandang Asha dengan penuh tegar.
Asha terus menangis, pisau itu kembali menggores nadinya dengan lincah. Tiga sampai lima senti luka itu terbuka dengan keji. Bahkan rasanya tidak seberapa dibanding harus di paksa melihat adegan Azam di siksa.
"Bukka kao punya mata...!?"
__ADS_1
Guntur memindahkan pisau itu ke arah pelipis Asha ,memposisikan pisau itu seperti hendak mencongkel bola matanya.
"Lihatlah tontonan itu...kami akan membuat pacarmu itu sekarat..."
Guntur menekan pisau itu hingga ujungnya menciptakan luka pada pelipis Asha yang disusul tetes darah lain yang keluar.
Gigi Azam gemelutuk,mencoba melawan dengan menerjang lawannya namun tangannya di tikung ke belakang.
"Apa yang akan kamu perbuat,Huhh...?!"
Guntur marah, pisau itu kembali menyusuri pipi Asha. Berhenti di bawah dagunya membuat luka garis halus seperti jalur benang. Guntur berpikir, luka kecil akan menimbulkan rasa perih yang lebih menyiksa ketimbang langsung menguliti leher gadis itu. Asha tentu saja menutup mulutnya rapat - rapat enggan untuk merengek kesakitan.
Azam meludah ke tanah.
"Banci...! Kalau kalian punya ********, jangan pernah menyentuhnya...?!"
Mata kumbangnya terus berkilat - kilat, nafasnya seperti di buru kuda.
Guntur berang seperti kebakaran jenggot.
"Tutup mulutmu...!!!"
Satu tendangan dengan mudah menyentuh perut Azam, ususnya melilit seperti mau muntah darah. Tapi ia harus tetap bertahan. Azam mengusap darah di keningnya dan meraba bagian tubuhnya yang kulitnya terkelupas akibat tendangan bertubi - tubi tadi.
Ia mengerjapkan pandangannya sekali untuk memastikan pandangannya.Benar, Azam melihat pergerakan di balik pohon ulin.Pasukan berseragam hitam dengan rompi anti peluru.
Sosok Elhakim yang pertama kali muncul memberi kode. Berkomunikasi dengan anggotanya lewat sambungan earcret. Elhakim memberi isyarat dengan hitungan jari lantas Gading muncul di balik pohon memegang kantung loreng.
Sebuah benda sebesar bola pimpong menggelinding ke arah punggung orang - orang biadab itu. Tiga menit waktu yang dibutuhkan, granat itu meledak dengan sempurna. Suara dentuman yang begitu keras membuat pecahan kaca saling berhamburan. Asap hitam terbumbung tinggi di udara. Orang - orang itu jatuh terpental, tengkurap, telentang tak berdaya. Punggung dan tubuh mereka rusak parah dan beberapa yang lain sudah tergolek mati.
__ADS_1
Huff...tegang...tinggalkan jejak...