MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#12


__ADS_3

"Negri ini di jajah berabad - abad pak karena tanahnya subur akan rempah - rempah.Kami ingin membangunkan tempat ini bukan menjajah seperti mereka..."


"Yah...begitulah...kadang orang - orang lebih memilih kenikmatan sesaat dari pada anugerah yang kekal untuk anak cucu mereka..."


Mata pak Sodikin menerawang, membayangkan bagaimana kejamnya Mafia itu. Mereka sudah merenggut beberapa nyawa dari penduduk saat penggerebekan dilakukan secara kompak. Tak ada yang berani melawan mereka karena terlalu kuat. Mendapat dukungan dari penguasa daerah itu membuat sekelompok bandit itu tak ada yang bisa mengalahkan. Termasuk istri dan anak perempuan satu - satunya pak Sodikin yang ikut menjadi korban kebringasan mereka.


Membayangkan itu semua membuat luka laki - laki tua itu kembali mengangah. Mungkin jika putri kecilnya itu masih hidup pasti seusia Asha.


"Bagi kami...hidup tenang sudah lebih dari cukup ketimbang hidup berlebihan namun pemberontakan dan menganiayaan masih sering menghantui. Biarlah sesuka hati mereka melakukan apa yang mereka ingin kan. Asal,jangan mengusik ketenangan kami lagi..."


"Tapi pak...ini tidak adil. Kita yang selalu berupayah memakmurkan bumi,tapi mereka yang menikmati hasil..."


"Biarkan saja...bapak yakin,Alloh maha tau segalanya..."


Sedikit obrolan Asha bersama pak Sodikin membuatnya semakin prihatin akan keadaan yang sesungguhnya terjadi di bumi Telihan,ini tidak bisa di biarkan. Mengaduh pada Letnal kolonel Iqbal Dirgantara akan menjadi agenda utamanya saat kembali ke rumah nanti.


Hingga tak terasa mereka sudah sampai di Landasan timur. Meninggalkan semak belukar yang baru saja ia lalui.


Sayangnya, Barang - barang yang telah di kirim dari RS.Shaloam itu tidak mendarat di Landasan itu, sebuah kendaraan Logistik sudah mengangkut segalanya sampai pada Posko tenda mereka.


"Oh God...,kenapa tidak ada yang memberi tahu dari tadi kalau obat - obatan sudah sampai di tenda kita..."


Arya mengumpat saking kesalnya.


"No problem...Kita tidak bisa menyia - nyiakan kesempatan ini. Bayak objek yang musti aku abadikan,ini momen langkah.Tunggu sebentar,aku akan segera kembali..."


"Kamu mau kemana Sya...ini sudah hampir gelap tidak ada bintang kejora disini..."


"Sebentar saja ya pak...aku tadi melihat seekor burung...mana tau jika aku beruntung ,tadi itu burung kasuari indah...boleh ya pak...?"


Asha menampilkan senyum ramahnya untuk meminta izin pada pak Sodikin.


Laki - laki tua itu cukup tersenyum dan menganggukkan kepalanya, berharap putrinya juga sebahagia Asha yang sudah berada di Surga.


"Mungkin Alloh menciptakanmu sambil tersenyum nak, hingga Alloh pun menciptakan makhluk semanis dirimu..."

__ADS_1


"Well...tunggu sebentar ya pak..."


Asha berlalu menggandeng tangan Putri yang sudah terang - terangan menolak ajakan Asha.


Benar saja, tak butuh waktu lama burung indah itu memang nyata adanya. Hinggap di sebuah ranting pohon delima dan mengepak - ngepakkan sayapnya yang lebar. Membuat Asha tak sabar ingin segera mengambil gambarnya.


Silau dari kamera itu membuat burung menjadi terkejut dan segera terbang dari ranting delima.Meninggalkan Asha dan Putri dengan secuil kekecewaan.Namun sedikit puas, satu gambar sudah berhasil Asha simpan.


Semak - semak bergoyah akibat kepakan sayap lebar itu.


Semak -semak itu terus bergoyang seolah ikut terganggu cahaya kamera Asha atau seperti binatang melata yang sedang menyibak jalan. Asha masih menunggu ketika gerakan semak - semak itu semakin mendekat dengan segala rasa penasaran. Siapa tau akan muncul babi hutan atau mungkin burung Cendrawasih. Tapi burung cendrawasih tak mungkin bisa menimbulkan suara seperti jejak manusia,kan?


Seketika Asha merasakan sensasi jantungnya yang jatuh ke dasar tanah serta beberapa kupu - kupu sedang melilin perutnya hingga ia hanya mampu terpatung dan detik kemudian meledak sebuah kembang api kecil - kecil menggelitik sesuai irama jantungnya. Sebuah nama berhasil keluar dari bibir indahnya dengan halus dan lembut seperti hembusan angin sore itu.


Azam...


Laki - laki berdiri dengan cara ganjil seolah gerakan larinya di hentikan sebuah badai mendadak. Sembari masih memegangi pisau lipat, alis tebal pria itu saling bertaut seolah tidak suka. Tunggu dulu, pisau? Asha memandang bergantian antara pisau dan raut wajahnya yang berantakan.


Wajahnya kusut,kucel dan berkeringat. Rambutnya tak tertatah rapi seperti saat terakhir bertemu dengannya. Bajunya kotor dan sedikit terdapat lumpur pada lenganya yang masih menggenggam erat pisau lipat itu sebelum ia menyimpan dalam saku celana jeansnya.


Suara maskulin lain terdengar dari balik punggung Azam sebelum laki - laki itu dengan kaku menggeserkan sedikit tubuhnya untuk memberi akses pada Hamzah pada pandangannya.


"Oh...!"


Laki - laki asing itu hanya berkata itu, terpukau pada bidadari cantik yang sedang berada di tengah hutan Telihan.


"Apa yang kamu lakukan di sini...?"


Suara itu dingin, dingin sekali hingga membuat Asha mencengkeram mantelnya rapat - rapat. Merasa begitu canggung gadis itu berusaha mencairkan tenggorokannya.


"A-aku...,!"


"Azam...?"


Asha menoleh ke belakang,pak Sodikin datang dengan membawa senter di tangan kirinya.

__ADS_1


"Saya cemas sekali kao orang beduo belum kembali..."


Raut tua itu tampak jelas sekali, ia melewati Asha dan Putri begitu saja. Asha menjadi bertanya - tanya ada hubungan apa antara mereka.


"Kami sudah kembali pak..."


Laki - laki dingin itu berkata dengan penuh penekanan bahwa mereka tidak apa - apa. Matanya tak lepas dari pandangan Asha dari pertama mereka saling berhadapan, tidak sedetik pun ia lepaskan pandangannya dari gadis itu.


"Azam terkena patuk ular pak cik...!"


Hamzah beringsut ke samping Azam dan menunjukkan luka bekas patokan ular pada pergelangan tangan kanannya. Asha ikut melirik pada luka itu yang sebelumnya ia tak menyadari luka itu.


"Apa kepala kao rasa pusing tak...?"


Pak Sodikin sedikit khawatir dan mengangkat telapak tangan kanan Azam.


Azam menggeleng.


"Bisanya sudah saya buang pak..."


"Lukanya harus cepat dibebat agar racunnya tak menjalar..."


"Aku punya sapu tangan untuk menghentikan pendarahannya..."


Entah dari mana kekuatan itu ia dapat,ia sudah berani menawarkan pertolongannya untuk Azam.Ia bisa saja meninggalkan pemuda menyebalkan itu tanpa menghiraukan keadaannya. Namun melihat darah yang sudah bercucuran dari tangan Azam membuatnya sedikit bersimpati dan menawarkan bantuannya.Asha buru - buru merogoh kantong mantelnya tempat sapu tangan itu tersimpan. Berdiri di samping pak Sodikin dan kemudian melilitkan sapu tangan putih itu pada pergelangan Azam.


Sehati - hati mungkin Asha melakukannya agat tidak menyakiti Azam yang tak menampakkan ekspresi apa pun. Asha jadi ragu, apakah pemuda ini bisa merasakan sakit.


"Aku rasa ini sudah cukup tapi luka sayatannya agak lebar. Aku sarankan agar kamu segera ke posko pengobatan atau puskesmas agar lukanya bisa dijahit..."


Tak ada jawaban dari Azam.Asha merasakan jantungnya mengetup - ngetup saat tatapan dingin itu kembali ia rasakan.


"Sudah selesai..."


Gadis itu mengangkat wajah dan mendadak ingin menangis sekencang - kencangnya saat tatapan dingin itu terus Menerrornya.

__ADS_1


Ayo - ayo jangan lupa tinggalkan jejak lagi ya...like atau komen sebanyak - banyaknya...


__ADS_2