MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#74


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihi Sayyidina Muhammad


Romantika a la Azam


Permainan ini di bagi menjadi 2 kelompok, tim merah dan tim biru. Masing - masing memiliki 5 anggota, dan setiap tim di pimpin seorang kapten. Tim merah di pimpin Sam dan tim biru di pimpin Arkha. Siapa cepat menemukan kapsul yang merupakan pusat hidup setiap tim, maka tim yang menemukan itulah pemenangnya. Sementara dalam pencarian kapsul boleh membunuh siapa saja yang di anggap menggaggu.


Asha tak pernah menmbayangkan, liburan cuti Azam akan di habiskan buat main - main. Seminggu terakhir Azam mengajaknya bersenang - senang outdoor, dan menjadi bagian anggota permainan a la militer tak pernah masuk ekspektasinya. Tapi dia ingin mencoba, setidaknya ia tahu kalau pekerjaan suaminya dulu bukanlah jenis pekerjaan mudah. Pun demikian dengan pekerjaan Iqbal dan Arkha Dirgantara. Hidup mereka nyatanya penuh resiko.


Asha dan Azam masuk tim biru yang kaptennya tak lain adalah Arkha.


"Dimana ayahmu meletakkan kapsul itu, Azam?"


Arkha bertanya sambil mengendap di bayangan pepohonan, lagaknya seperti Rambo.


Azam mengangkat bahu, satu lengannya merangkul pundak Asha posesif.


"Dia meletakkan kapsul itu dimana saja, aku tidak punya prediksi akurat. Namun karena kamu kaptennya, maka kamu yang bertanggung jawab menemukan!"


Arkha sama sekali tidak gembira dengan informasi itu dan justru ingin menyeburkan api kembali. Namun pergerakan di depan membuat mereka bertiga terkesiap, Arkha langsung pasang kuda - kuda.


Hamzah muncul di tukungan jalan antara pohon pinus dan jati. Pemuda itu membidik jantung Arkha, namun meleset karena Arkha bersembunyi di balik pohon melinjo. Mereka terlibat baku tembak, tidak ada yang mau mengalah. Peluruh karet berhamburan sia - sia.


Asha tegang menonton, mencengkeram lengan Azam. Mana bisa jari - jarinya yang manis melesakkan peluru? Lihat kakaknya saling serang saja sudah di kuasai rasa ngeri.


"Yakin serangan yang kamu kirimkan ini di sebut tembakan, kapten? Menurutku tembakanmu mirip lemparan batu anak SD!"


Ejek Hamzah memprovokasi, di sertai tawa meronta dari sela pohon mangga.


Gaung Arkha kala membalas memenuhi udara dingin itu.


"Keluar kamu dari sana, dan selesaikan urusanmu secara jantan!"


Detik itu juga, sangkur dalam celananya melayang dengan akurat mengenai ujung jaket Hamzah.


"Curang kamu Arkha Dirgantara, siapa yang mengizinkan kamu memakai benda itu. Huh?"


Hamzah berteriak frustasi.


"Siapa pula yang melarang, bocah tengil"


Anak sulung Dirgantara itu bertepuk tangan ringan, puas hati. Berjongkok, lantas menyentil kening Hamzah keras.

__ADS_1


"Mati saja kamu Hamzah"


Suara peluru melayang di sertai jeritan Hamzah.


Selesai. Arkha berdiri puas meski di amuk caci maki Hamzah penuh amarah. Setelah Hamzah, kini muncul sosok lain dalam bayangan. Azam tiba - tiba saja sudah berhadapan dengan lawannya, Simanjuntak dan Raihan Harahap.


Azam perlahan menggeser Asha dengan siku selagi pistolnya masih mengarah ke tubuh lawannya. ketika hampir ada yang mau menyerang duluan, Azam mencuri start. Satu peluru karet mengenai tulang kering Raihan, lelaki itu otomatis terkapar.


Azam memanggil istrinya untuk mendekat dengan isyarat telunjuk. Suara kresek daun kering dan ranting patah menghentikan gerakan Asha, wanita itu berbalik dengan senapan teracung. Jari Asha yang bergetar tak sengaja menyentuh sisi triggernya dan meledakkan isinya. Tak bisa di percaya, dia baru saja membunuh Elhakim? Tepat di jantungnya.


Hakim terduduk dan batuk - batuk karena tekanan peluru Asha di dadanya. Mata Asha membulat, wanita itu meminta maaf berkali - kali. Hampir saja membantu Elhakim berdiri kalau Azam tak buru - buru mencegah.


"Biarkan saja, dia tim merah"


Lirikan tajam dan dingin itu mengarah ke Hakim, setelah Asha memastikan bahwa Elhakim tidak dalam keadaan sekarat. Barulah dia beranjak ke sisi Azam, tak tahu kalau dari Arah belakang suaminya itu sudah mengacungkan sangkur milik Sahrir Tanjung. Dengan mata tajam, ia mengomando Hakim.


Sekali lagi kamu mencari perhatian, Sangkur ini akan nyangkut di tenggorokanmu.


Elhakim balas dengan melempar biji melinjo tepat mengenai kepala belakang Azam.


Arkha kembali memimpin, kemenangan menghiasi wajahnya. Sangat bergairah untuk segera menemukan kapsul musuh. Dan ketika hampir menyentuh area terbuka, kakinya mendadak berhenti lalu berjongkok. Memeriksa.


"Aku rasa kapsulnya ada di sini?"


Gumam sang kapten, matanya mengawasi batang pohon yang sudah keropos tengahnya. Azam mendekat, ikut berjongkok. Satu tangannya masih menggenggam jemari Asha.


"Menurutmu ada apa di dalam sini? Masukkan saja tanganmu, mengapa repot hanya menduga - duga?"


Jawab Azam pedas.


Si kapten lantas menjorokkan tangannya ke dalam kayu, merasa telapak tangannya mencabut tanaman jamur dan detik itu juga serangga - serangga merayap di punggung tangannya. Arkha hampir bersorak saat usahanya hampir bersibobrok dengan ujung kapsul. Di tariknya benda tersebut, dan memang kapsup tim merah ada di tangannya. Tugas terakhir yang akan menjadikan ia kapten termasyhur adalah memasangkan kapsul di box dekat papan pengumuman kemenangan.


Azam mengetahui jalan tercepat menuju pos utama, dan menjadikannya GPS dadakan.


Oh menyebalkan, ketika pemikiran tentang kemenangan itu harus terhenti karena dentuman keras akibat Arkha tak sengaja menginjak ranjau yang di pasang tim merah. Tubuh Arkha terlempar di atas tanah merah. Azam yang sigap situasi langsung berbalik dan menyiapkan senjata di dadanya, melompati lubang menganga bekas ranjau dan membantu Arkha berdiri.


Focus Arkha terpecah kala mengetahui tim merah memutuskan untuk menyerang dan kapsul di tangannya sudah terlempar di seberang sana. Berteriak pada adiknya yang berdiri di sana.


"Asha, ambil kapsulnya! Ambil di depanmu, ya ampun!!!"


Arkha berteriak kalang kabut, Azam yang tengah membantu kakak iparnya sontak menoleh, tapi Asha keburu di tawan oleh Petrus yang menenteng kapsulnya sendiri. Oh, sial. Mengapa skenario berubah 180 derajat?


Kapten bisa menggunakan kartu As terkahir untuk membuat pasukannya yang mati, hidup kembali. Azam melepaskan perlindungan untuk Arkha, gesit berlari untuk melindungi Asha dari tembakan Petrus. Namun senapan Raihan sudah terarah padanya, dan tampa bisa di cegah lagi tembakan itu membabi buta di tubuh Azam.


Azam benar - benar menjadi papan tembak, namun menyelubungi tubuh Asha dari amukan peluru adalah misi utama di sepanjang permainan ini.

__ADS_1


Arkha terduduk lesu, suasana hatinya mencak - mencak sementara Azam sibuk khawatir memeriksa tubuh istrinya. Bertanya, adakah bagian tubuhnya yang sakit?


"Aku tidak apa - apa, Hubby!"


Asha menyambut jemari Azam yang terulur membawanya berdiri.


"Menyingkir kamu, Azam! Permainan ini tidak akan berhenti kalau istrimu belum mati"


Teriak Raihan. Asha demi mendengar teriakan itu memeluk pinggang Azam begitu erat.


"Aku tidak mau kena peluru itu! Kalian para lelaki saja sampai terjatuh"


Asha merajuk, Azam berdehem cool. Balas menelingkup jemari Asha yang betah di depan perutnya. Bertingkah superior di depan istrinya menyenangkan, apalagi dengan bonus sebuah pelukan mesra.


"Peraturan nomer 2, pasukan yang mati masih bisa melindungi rekannya asal hanya dengan tangan kosong. Bertarung satu lawan satu!"


Raihan melirik Sam yang membelalak atas ucapan Azam.


"Apa?? Aku tidak membuat peraturan seperti itu?"


Azam terkekeh melihat kepanikan ayah tirinya.


"Betul, komandan bilang begitu!"


Hakim ikut menimpali.


Raihan sebal.


"Sialan kamu kapten!"


Tak tahan dengan bulan - bulanan, Sam nekat mengarahkan senapannya ke tubuh Azam. Membuat pelukan Asha terlepas. Azam tahu jika perbuatan Sam hanya ingin memisahkannya dengan istrinya. Ia melepas rompi alarm wanita itu dan membuangnya ke tanah. Meletuskan peluru ke udara, rompi Asha tak bernyawa.


Game over


Tim biru kalah setelah di ujung kemuliaannya. Arkha melempar pelindung ke atas tanah.


"Kenapa kamu masukan wanita dalam tim kita? Sudah ku katakan dia itu ceroboh, tidak bisa berlari, tidak bisa bersembunyi! Bagaimana mungkin kapsul di depan matanya sama sekali tidak di lihatnya?"


Emosional Arkha berteriak.


Asha berkacak pinggang, menusukkan telunjuknya di dada Arkha hingga laki - laki itu terhuyung mundur.


"Ya! Apa semua salahku? Aa' juga menginjak ranjau tahu? Tentara macam apa yang tidak bisa melihat ranjau di depan hidungnya sendiri?"


Azam menengahi, melihat kobaran api yang semakin mengkilat - kilat di setiap mata kakak beradik itu.

__ADS_1


Up 2x hari ini...


__ADS_2