Menikah Dengan Pak Duda

Menikah Dengan Pak Duda
Extra Part (Ulah Ryana)


__ADS_3

...~Extra Bonus~...


Beberapa bulan kemudian...


Usia kandungan Nasya kini sudah menginjak usia delapan bulan. Perut yang sudah semakin besar, membuat wanita muda itu begitu sulit untuk melakukan aktivitas nya dengan bebas.


Namun, meski begitu tetap saja Nasya masih ingin datang ke sekolah Ryan dan Ryana karena harus memenuhi panggilan guru. Adnan masih berada di luar kota, jadilah mau tak mau, dirinya yang harus datang ke sekolah.


"Mom!" pekik Ryan ketika melihat ibu nya baru turun dari mobil.


"Sayang." Nasya langsung tersenyum saat melihat putra nya berlari ke arah nya, "Ryana mana?"


"Dia masih di ruang guru. Kenapa Mommy yang datang, kasihan adek twin nya," ucap Ryan merasa kasihan melihat perut ibunya yang sudah nampak sangat besar.


"Gapapa Sayang, kalau Mommy gak dateng, siapa yang mau mengurus hem?" kata Nasya tersenyum dan mengusap wajah putra nya.


"Ryana nakal sih, gara gara dia, Mommy jadi harus repot datang ke sekolah!" ucap Ryan langsung berdecak dengan kesal.


Ya, tujuan Nasya datang ke sekolah siang ini, karena tadi dirinya mendapatkan kabar bahwa putri nya telah bertengkar dengan salah satu orang murid lain. Sehingga dengan terpaksa guru memanggil orang tua murid, di karenakan ini bukanlah kali pertama.

__ADS_1


"Hey, gak boleh gitu. Ayo kita masuk ke dalam."


Dengan menggandeng tangan Ryan, Nasya segera berjalan dengan perlahan dan penuh hati hati memasuki lorong demi lorong menuju ruang guru.


Setelah mengantarkan ibu nya di ruangan dimana Ryana berada, Ryan segera pamit karena bel tanda masuk sudah berbunyi. Nasya pun mempersilahkan Ryan agar segera masuk kelas dan ia bisa menemui Ryana sendiri.


"Mommy hiks hiks hiks." Ryana langsung menangis ketika melihat kedatangan ibu nya, gadis itu segera memeluk sang ibu dan menumpahkan tangis nya.


"Maaf Pak, apa yang terjadi dengan putri saya?" tanya Nasya sembari mendudukkan diri nya di sofa dan berhadapan dengan guru sambil memeluk Ryana di samping nya.


"Ryana, coba kamu jelaskan apa yang sudah kamu lakukan tadi?" tutur seorang guru laki laki yang bersama dengan Ryana sejak tadi.


"Tapi kan Raka yang salah Pak. Kalau saja Raka gak usil sama Ryana, tentu saja Ryana tidak akan membalasnya!" ucap Ryana membela diri.


"Sayang, bilang sama Mommy, ada apa? Mommy tidak akan marah," ujar Nasya begitu lembut.


"Ryana buang tas Raka di tempat sampah," gumam Ryana pelan.


"Tempat sampah mana, Ryana?" sambung Pak Guru lagi dengan penuh penekanan, yang mampu membuat Nasya mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Sayang... "


"Tapi kan Raka yang mulai Mommy. Raka itu sudah banyak dosa sama Ryana! jadi Ryana udah kesel sama dia. Baju seragam Ryana di ambil sama Raka di gantung di pohon, dan pas Ryana ambil Ryana jatuh, nih Mommy lihat lutut Ryana berdarah!" Adu gadis itu menunjukkan luka di lutut nya yang masih terdapat darah mengering di sana.


"Lanjutkan, Ryana... " sambung Pak Guru lagi, seolah menunggu cerita dari Ryana.


Untuk sesaat gadis itu menggigit bibir nya takut, "Tas nya Raka sudah di bawa sama truk sampah, beserta orang nya."


"Hah!" pekik Nasya terkejut, "Ma—maksud nya bagaimana? Raka di bawa truk sampah?"


"I—iya Mom, tapi sekarang udah ketemu, dan Raka... "


"Raka dimana? sudah pulang?" tanya Nasya penasaran.


"Raka di rumah sakit," cicit nya lagi dengan memejamkan mata nya erat.


"Kenapa?" tanya. Nasya masih bingung dan terkejut.


"Raka jatuh dari atas truk sampah ketika hendak mengambil tas nya. Beruntung belum sampai ke jalan raya, tapi tetap saja dia mengalami beberapa luka di tubuh nya termasuk tangan kiri nya mengalami patah tulang." jelas Pak Guru panjang lebar membuat Ryana kembali terisak.

__ADS_1


"Allahuakbar, astaghfirullah... " gumam Nasya langsung menelan saliva nya sambil mengusap dada.


Ia membayangkan Raka, teman sekelas Ryana naik truk sampah dan jatuh. Sungguh, sulit untuk di bayangkan, dan ia juga heran. mengapa putri nya bisa memiliki pikiran sejauh itu untuk melakukan balas dendam kepada teman nya?


__ADS_2