Menikah Dengan Pak Duda

Menikah Dengan Pak Duda
Semakin dekat


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Sshhhhh


Nasya terus menggigit bibir bawah nya ketika ia sedang berusaha untuk memberikan asi kembali kepada baby R. Ia bahkan sampai menahan napas nya saat bayi itu menghisapnya dengan cukup kuat.


Berbagai rasa sudah Nasya rasakan. Perih, ngilu, sakit namun juga tak bisa ia pungkiri, ada rasa bahagia dan bangga lantaran bisa menyusui bayi nya sendiri.


“Pelan pelan Sayang, mommy sakit,” bisik Nasya seraya menahan isak tangis nya.


Jam sudah menunjuk angka enam pagi. Dan baby R sudah terbangun sejak jam lima pagi tadi. Hampir satu jam lamanya baby R menyusu padanya dan seolah belum memiliki tanda bahwa bayi itu akan berhenti. Padahal, sebelum menyusu, baby R sudah menghabiskan dua botol susu sekaligus, namun masih terus menangis, hingga akhirnya Nasya berinisiatif untuk kembali menyusui nya dan ternyata benar, tangis baby R langsung berhenti.


“Ssshhh sakittttt!” pekik Nasya kembali menjerit dan langsung melepaskan diri dari hisapan baby R.


Terlihat sangat merah bahkan juga lecet, membuat air mata wanita itu kembali menetes, namun ia masih berusaha untuk mengatasi nya. Ia menarik napas nya sedalam mungkin dan menghembuskan nya perlahan.


Baby R yang merasa asupan makanan nya menghilang, sontak saja tangis nya langsung pecah hingga memenuhi ruang kamar yang tidak terlalu luas tersebut. Nasya kembali panik, dan ia kembali memberikan asi kepada baby Rayyan.


Ketika baby Rayyan berhenti menangis, maka disitulah Nasya yang menangis menahan sakit. Dan saat ia sedang berusaha menahan rasa sakit nya, tiba tiba saja pintu kamar nya terbuka, menampilkan Adnan yang baru masuk dengan membawakan nya sarapan.

__ADS_1


Deg!


Sontak saja, mata keduanya ketika bertemu langsung membulat satu sama lain. Dengan cepat, Adna menutup kembali pintu kamar Nasya dan mengunci nya. Ia menghela napas nya erat, lalu berjalan mendekati ranjang Nasya.


Beruntung yang masuk ke dalam kamar pagi itu adalah Adnan. Bagaimana kalau Ryan atau bahkan Marvel, sungguh Adnan tidak akan bisa memaafkan siapapun yang masuk ke dalam kamar istrinya tanpa mengetuk terlebih dulu. Walau sebenarnya kesalahan ada pada Nasya yang tidak mengunci pintu, namun Adnan tidak akan menyalahkan nya.


“Mas, kenapa kamu masuk!” seru Nasya masih dengan wajah menahan sakit nya. Ia segera bergerak membelakangi Adnan tanpa bisa melepaskan asi nya dari bibir mungil sang bayi.


“Kenapa kamu tidak mengunci pintu nya, hem? Lain kali, tolong kunci pintu selalu, apalagi kamu sudah mulai menyusui Rayyan. Jangan sampai—“


“Iya aku tahu, maaf,” ucap Nasya dengan cepat memotong pembicaraan Adnan.


“Jadi ini yang membuat mu menangis semalaman?” tanya Adnan kini mendudukkan diri di kursi meja rias yang berada di belakang Nasya.


“Hemm,” jawab Nasya masih enggan untuk menghadap ke arah Adnan.


Walaupun mereka suami istri, dan Nasya sudah mengingat nya sebagian. Namun tetap saja ia merasa malu.


“Apakah isinya lancar?” tanya Adnan lagi membuat Nasya langsung menghela napas nya dengan berat.

__ADS_1


Nasya menunduk, menatap wajah putra nya yang terlihat begitu asik meminum susu walaupun isinya tidak sebanyak dari botol.


“Tidak,” jawab Nasya menggelengkan kepala nya dengan lemah.


Sedih, tentu saja ia sangat sedih. Karena setiap ia melihat video video di sosial media yang dimana seorang ibu memamerkan stok asi nya yang melimpah, sementara dirinya? Jangan kan melimpah, mungkin dalam satu hari saja tidak akan bisa ia dapatkan satu kantung asi. Dan mengingat hal itu membuat tangis nya kembali pecah.


‘Nangis lagi?’ gumam Adnan menghela napas nya kasar, ia beranjak dari kursi dan memeluk Nasya dari belakang, sambil tangan nya mengusap lembut kepala sang putra.


“Tidak papa, perlahan nanti juga akan keluar banyak dan lancar. Apa kamu mau ke rumah sakit? Kita bisa konsultasi dengan dokter, aku yakin dokter punya solusi nya untuk memperlancar asi kamu,” ucap Adnan di bahu Nasya, seketika membuat wanita itu langsung memalingkan wajah nya ke samping hingga membuat wajah keduanya terasa begitu dekat.


"Apakah bisa?" tanya Nasya begitu lirih namun terdengar dengan sangat jelas lantaran wajah keduanya yang dekat.


"Bisa, asal kamu yakin dan terus berusaha. Besok aku akan mengatur jadwal untuk bertemu dokter. Kamu mau?" tanya Adnan tersenyum begitu lembut.


Percayalah di balik senyuman itu tersimpan begitu banyak tawa dan rasa bahagia yang sangat ingin Adnan ungkapkan. Dimana dirinya bisa begitu dekat dengan sang istri tanpa ada penolakan, bahkan kini wajah nya bisa merasakan hembusan napas dari Nasya.


'Sedikit lagi, harus sabar. Ya Allah terimakasih,' gumam Adnan dalam hatinya.


...~To be continue .......

__ADS_1


__ADS_2