Menikah Dengan Pak Duda

Menikah Dengan Pak Duda
Mempercayai Olin


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Setelah mendengar semua cerita dari Olin, tanpa sadar membuat air mata Nasya kembali luruh. Wanita itu langsung menundukkan kepala dan meremas ujung pakaian nya dengan tangan. Ia tidka menyangka bahwa ternyata dirinya memang sudah menikah dan memiliki dua anak sambung, serta satu anak kandung yang kini masih bayi karena baru berusia hampir dua bulan.


“Lantas dimana putra ku?” tanya Nasya dengan nada sedikit bergetar, ia berusaha untuk menahan air mata nya menatap wajah Olin.


Padahal, selama ini sudah banyak yang mengingatkan nya, namun entah mengapa ia tidak bisa mempercayai nya. Karena memang ia tidak bisa mengingat apapun. Dan kini, ia mau mempercayai Olin, lantaran ia sudah mengingat tentang dirinya dan Olin serta Ryan dan Ryana.


Namun mengapa hanya mereka bertiga. Mengapa ia belum juga mengingat tentang suaminya?


“Dia ada di rumah kalian. Adnan bilang, ia sudah membawa nya kemari namun kamu tidak mau menemuinya. Nasya ... apa kamu tidak ingin pulang?” tanya Olin kembali menggenggam tangan Nasya.

__ADS_1


“Aku—“ Nasya kembali menggigit bibir bawah nya, pulang kemana? Batin nya.


“Nasya ... eyang tidak pernah melarang kamu untuk tinggal disini. Biar bagaimana pun, kamu juga sudah mencari cucu saya, tapi suami kamu memang sudah menunggu di rumah, bersama anak kalian.” Saut eyang Liana yang tiba tiba saja sudah memasuki kamar Nasya.


“Bu Liana,” sapa Olin langsung bangkit dan sungkem kepada eyang Liana.


“Maaf saya baru turun, tidak sempat menyambut kamu,” ujar eyang Liana menepuk nepuk tangan Olin dengan pelan.


Meskipun eyang Liana tidak menyukai Riri. Namu,ia juga tidak bisa membenci Linda, atau Olin. Karena bagaimana pun, kesalahan ada pada Riri bukan ibu nya. Dan eyang Liana bukanlah tipe orang yang suka menyangkut pautkan kebencian pada seseorang. Selain itu, lagipula Riri sudah musnah jadi tidak perlu lagi di ungkit apalagi di benci.


Sementara itu, Nasya yang masih terdiam dan mencerna nasehat dari dau orang yang ada di depan nya merasa begitu dilema. Ia juga ingin menemui putra kandung nya, bahkan suami nya. Tapi entah mengapa, ia merasa seperti ada sesuatu yang menghalangi nya. Seperti ada tembok besar yang mencegah dirinya untuk mendatangi rumah tersebut.

__ADS_1


“Jadi bagaimana Sya? Kamu mau kan pulang?” tanya lin kembali menatap ke arah Nasya.


“Pulang lah sebentar Nak. Setelah itu, kamu bisa kembali kesini lagi, kapan pun kamu datang, pintu akan terbuka lebar untuk kamu. Bahkan eyang akan sangat senang bila kamu mau menetap disini sama anak anak kamu,” tutur eyang Liana ikut mendekati Nasya.


Sejujurnya, hati Olin merasa sedikit iri kepada Nasya. Karena Nasya begitu beruntung bisa mendapatkan restu secara langsung dari eyang Liana. Sementara dulu, Riri bahkan tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti Nasya dari eyang Liana.


Jangankan kasih sayang seperti yang di dapatkan Nasya dari eyang Liana. Hanya sebuah restu atau sekedar menyambut kedatangan Riri saja, tidak pernah. Ada satu waktu ketika Riri di bawa datang ke rumah itu bersama Olin, namun eyang Liana justru memilih untuk pergi keluar bersama supir dan asisten nya.


Awalnya Olin sakit hati, namun seiring berjalan nya waktu. Ia sadar bahwa memang putri nya yang bersalah dan tidak benar, jadilah Olin bisa berdamai dengan hatinya dan tidak menyimpan dendam kepada eyang Liana. Sehingga, dirinya kini bisa datang ke rumah itu lagi untuk menemui Nasya.


...~To be continue .......

__ADS_1


__ADS_2