Menikah Dengan Pak Duda

Menikah Dengan Pak Duda
Uly


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Halo baby boy,” ucap Ryan seraya menyentuh kulit tangan mungil adik bayinya, “Daddy lihat, tangan Ryan di pegang sama dia!” sorak Ryan begitu bahagia lantaran tangan nya di genggam lembut oleh bayi tersebut.


Saat ini, Adnan dan kedua anak nya sedang berada di dalam ruang bayi untuk menjenguk keadaan baby R. Hingga saat ini, Nasya masih juga belum membuka mata, ia seolah begitu betah dan asik berada di dunia nya seolah enggan untuk kembali ke dunia yang sudah memberikan nya rasa sakit bertubi.


Entah sampai kapan Nasya akan membuka mata dan menyudahi hukuman untuk Adnan. Namun, Adnan dan anak anak tidak pernah lelah untuk bersabar dan menunggu hingga saat itu tiba.


“Ryana juga mau!” ucap Ryana ikut mendekati adik bayi nya dengan perlahan.


Walaupun takut, namun Ryana memberanikan diri dan menyentuh nya dengan begitu perlahan. Memiliki adik bayi ternyata sangat mengasikan, tidak seburuk yang Ryana pikirkan selama ini. Adik bayi begitu lucu dan menggemaskan, dan kini ia kembali menyalahkan dirinya sendiri lantaran sempat menolak kehadiran adik bayi. Seharusnya ia tetap pada prinsip awal nya, bahwa ingin adik bayi.


“Salsa gak bohong, adik bayi memang lucu,” gumam Ryana begitu lirih, bibir nya terangkat ketika melihat kelopak mata mungil itu terbuka secara perlahan. Bukan hanya mata baby R yang terangkat, melainkan mulut nya juga terbuka seolah akan melahap kedua jari sang kakak.


“No adek! Gak boleh,” seru Ryana menggelengkan kepala nya, “Daddy seperti nya adek bayi haus.” Kata Ryana menatap sang ayah yang saat ini sedang berbincang dengan dokter.

__ADS_1


“Jadi kapan anak saya bisa di bawa ke ruangan ibu nya Dok?” tanya Adnan lalu ia melirik ke arah tiga anak nya yang sedang begitu asik bermain.


“Sebenarnya sudah bisa. Kesehatan baby R juga sudah pulih dengan begitu cepat, berat badan nya terus naik, dia anak yang kuat dan sehat,” tutur dokter begitu kagum dengan keadaan baby R.


Meskipun tidak mendapatkan asi ekslusif dari ibu nya, namun baby R benar benar tumbuh dengan cepat dan sehat. Satu bulan setelah lahir, kini berat nya yang awal nya hanya dua koma satu, sudah naik menjadi dua koma tujuh. Tentu saja itu sudah masuk ke dalam berat badan bayi yang lahir normal. Namun, sayang seribu sayang karena keadaan Nasya belum bisa di pastikan kapan untuk bangun.


“Alhamdulilah,” balas Adnan tersenyum lega mendengar kata kata dokter.


Setelah berbincang cukup lama, kini akhirnya Adnan bisa membawa putra nya untuk di pertemukan dengan Nasya. Meskipun wanita itu masih damai dalam tidur nya, namun Adnan berharap setelah merasakan kehadiran baby R, maka bisa membantu mempercepat kesadaran Nasya.


Cklek!


Baru saja Adnan hendak meletakkan baby R ke dalam box bayi, tiba tiba ter urungkan ketika mendengar suara pintu terbuka.


“Uly!” seru Ryan dan Ryana langsung tersenyum lebar ketika melihat tamu yang datang siang ini.

__ADS_1


Ryan dan Ryana segera turun dari brankar dan menghampiri wanita yang sudah tua renta yang sedang berjalan begitu pelan memasuki ruangan Nasya.


Uly, adalah panggilan yang di buat oleh Ryan dan Ryana. Yang berarti uty Liana. Hubungan mereka sudah membaik, banyak kejadian dan pelajaran yang positif sejak kepergian Riri dan koma nya Nasya. Uly menjadi sering datang ke rumah sakit, mengobrol dengan Ryan dan Ryana hingga membuat mereka semakin akrab.


Setiap kejadian tidak akan ada yang sia sia. Tuhan sudah menggariskan dan mentakdirkan segala sesuatu nya dengan baik dan matang.


Tuhan memang tidak akan memberikan apa yang kita inginkan, namun Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan.


Adnan banyak belajar atas ujian yang ia terima selama ini. Dengan kejadian ini, membuatnya semakin dewasa dan mengerti bahwa apa yang dia pikir baik belum tentu baik, dan begitupun sebaliknya.


Adnan yang mengira bahwa eyang nya jahat dan menolak anak anak nya, ternyata hanya ingin yang terbaik untuk nya. Nasya yang ia kira begitu egois dan mementingkan dirinya sendiri, ternyata justru dirinya yang kurang introspeksi diri.


Inilah mengapa dalam setiap hubungan, komunikasi itu nomor satu. Agar tidak tidak terjadi kesalahpahaman. Mungkin sepele, namun bila di biarkan, berlarut maka kesalahpahaman itu akan mendaging dan membuat luka yang akan selalu membekas.


‘Ya Tuhan, berikan kesempatan untuk ku, sekali saja. Setidaknya, biarkan aku menebus semua kesalahan ku, izinkan kami berkumpul kembali dan bahagia bersama.’ Gumam Adnan dalam hatinya seraya mendongak dan memejamkan mata sekilas.

__ADS_1


...~To be continue.......


__ADS_2