
...~Happy Reading~...
Setelah beberapa saat, kini tangis Nasya sudah sedikit reda. Posisi keduanya masih sama, yakni berpelukan di lantai. Tak bisa Nasya pungkiri bahwa ia masih merasa nyaman saat berada di pelukan Adnan. Namun, ia juga tidak mudah melupakan semua kejadian demi kejadian yang begitu menyakitkan hatinya.
“Minum?” Adnan mencoba menawarkan minuman kepada Nasya, dan wanita itu langsung mengangguk tanpa bersuara, karena memang menangis itu menguras tenaga.
"Tangan kamu kenapa?" tanya Adnan ketika melihat Nasya mengambil gelas dari tangan nya.
Dengan cepat, Adnan langsung melihat luka di tangan Nasya, sangat terlihat kekhawatiran di raut wajah Adnan.
"A—aku gapapa," jawab Nasya berusaha menarik tangan nya.
Adnan pun langsung bangkit dan pergi keluar kamar, untuk sesaat Nasya sempat bingung dan heran. Kenapa Adnan malah meninggalkan nya lagi, namun ketika ia hendak menangis tiba tiba ia melihat Adnan kembali masuk dengan membawa sebuah kotak p3k.
"Sini tangan kamu," ujar Adnan langsung meraih tangan Nasya dan mengoleskan nya obat, "Kenapa bisa seperti ini hem?" tanya nya dengan penuh kelembutan.
"Tadi mau buat susu," jawab Nasya pelan namun ekspresi wajah nya masih datar, dan sesekali masih terdengar suara isak tangis.
Berat bagi Adnan, melihat istrinya terluka tapi tidak bisa bermanja padanya. Sungguh, saat ini Adnan semakin sangat merindukan istrinya, dan ia berharap tiba tiba Nasya langsung memeluknya, merengek padanya dan bermanja padanya. Namun sayang, itu hanya ada dalam angan dan mimpi Adnan semata.
__ADS_1
Entah selama apa lagi dirinya harus menunggu. Namun ia akan tetap berusaha bersabar dan menerima karena memang istrinya seperti ini karena nya.
Setelah beberapa saat, Adnan sudah selesai mengobati luka Nasya. Ia meletakkan kotak itu ke meja dan kini menatap ke arah Nasya.
“Bagaimana? Sudah tenang sekarang? Istirahat ya, biar Rayyan sama aku," ucap Adnan namun Nasya malah menggelengkan kepala nya.
“Aku mau tidur dengan nya hiks hiks," jawab Nasya dengan cepat, ia masih menundukkan kepala, seolah enggan untuk menatap ke arah Adnan. Namun ia juga enggan di tinggalkan.
Aneh, bahkan Nasya sendiri tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini. Ia tidak ingin Adnan pergi lagi, namun ia juga belum bisa memaafkan Adnan.
“Baiklah, kamu disini dulu, biar aku yang ambil Rayyan,”ucap Adnan seraya mengangkat tubuh Nasya dan mendudukkan nya ke tempat tidur.
‘Mas Adnan,’ gumam Nasya dalam hatinya seraya menarik napas sedalam mungkin.
Bohong bila ia tidak merindukan sosok laki laki itu, setelah apa yang di lakukan Adnan tadi yang mampu memberikan nya ketenangan. Sedikit demi sedikit kenangan mereka terbuka, namun rasa benci, marah dan kecewa masih begitu mendominasi perasaan nya. Ia masih sulit untuk menerima semuanya, rasa sakit, kecewa dan penyesalan yang tidak bisa ia lupakan begitu saja, seolah juga melarang nya untuk memberikan nya maaf.
Ia ingin di peluk, di manja, di perhatikan dan di berikan tempat sandaran. Namun, hatinya juga masih begitu sulit untuk menerima semuanya. Egois? tentu saja Nasya egois, dia memang sangat egois, tapi apa dia juga mau berada di posisi seperti ini?
Setelah beberapa saat, kini Adnan sudah kembali ke dalam kamar Nasya lagi denan membawa seorang bayi kecil. Dengan perlahan, Adnan mendudukkan diri di sisi ranjang bersebelahan dengan Nasya.
__ADS_1
“Kamu masih mau menggendongnya? Atau biarkan dia tidur di sana?” tanya Adnan sedikit mengerutkan dahinya menatap ke arah Nasya.
“Tadi kenapa dia menangis?” tanya Nasya akhirnya mencoba untuk menekan ego dan melawan rasa sakit nya.
“Dia haus,” jawab Adnan menghela napas nya berat, “Pelan pelan, aku yakin kamu bisa. Jangan nangis lagi, jangan panik karena perasaan kalian sangat kuat. Apa yang kamu rasakan, maka akan di rasakan juga oleh nya. Tenangkan hati kamu ya.” imbuh nya panjang lebar.
“A—aku ... “
“Nasya,” panggil Adnan seraya menggenggam jemari tangan Nasya dengan begitu lembut, “Apakah masih berat untuk mu memaafkan ku?”
Nasya tida menjawab, ia hanya terdiam dan menundukkan kepala nya. Pikiran nya sedang berkelana. Memikirkan mengapa ia begitu sulit untuk memaafkan Adnan. Apakah dirinya terlalu egois? Ya, Nasya juga berfikir seperti itu, namun bagaimana? Bila tubuh nya saja menolak untuk berdekatan dengan Adnan.
“Tidak bisakah kamu memaafkan ku? Membuka lembaran lagi dengan ku, dengan anak anak. Aku tahu, mungkin kesalahan ku sama kamu sudah terlalu over load. Tapi aku sudan berusaha untuk memperbaiki nya. Sya, aku mohon ... maafin aku,” pinta Adnan dengan penuh permohonan.
Nasya tidak bisa langsung menjawab, ia sibuk meremas kedua jemari tangan nya. Hatinya berkata IYA aku ingin memaafkan mu, mengulang rindu yang selama ini sudah hilang.
Dan menggantikan semua kenangan buruk dengan yang indah. Namun .... namun lidah nya terasa kelu, ia tidak mampu berkata seperti itu. Pikiran nya seolah menolak keras, bayangan bayangan itu selalu muncul setiap kali ia ingin mencoba untuk berdamai dengan situasi nya saat ini. Semua tidak semudah membalikkan telapak tangan.
...~To be continue.......
__ADS_1