Menikah Dengan Pak Duda

Menikah Dengan Pak Duda
Curhat sahabat


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Hari minggu, seperti biasa, Aqila dan Riska pasti akan berkunjung ke rumah Nasya untuk bermain. Kini mereka sudah bukan anak kuliahan lagi, keduanya berhasil lulus dan kini langsung masuk kerja di perusahaan suami Nasya. Tentu saja itu karena bantuan dari Nasya juga yang membujuk suaminya agar memberikan kedua sahabatnya pekerjaan.


The power of orang dalam, kalau menurut kata Aqila dan Riska. Tentu saja, memiliki teman yang sukses tidka boleh di sia-siakan, itulah prinsip mereka.


“Oh iya La, kapan rencana kamu akan menikah sama Abay?” tanya Nasya membuka suara, saat ini ketiganya sedang menikmati siang hari dengan bersantai di gazebo yang berada di halaman belakang dekat kolam renang.


Sementara bayi gembul nya tengah tidur siang bersama sang ayah. Ryan dan Ryana, seperti biasa, setiap weekend akan pergi ke rumah Uly untuk berkunjung dan menginap dari hari sabtu hingga minggu sore. Jadi rumah saat weekend akan terasa sepi.


“Mungkin beberapa bulan lagi, doakan saja,” jawab Aqila sambil membalas pesan chat di ponsel nya.


“Terus kalau udah nikah, apakah kamu juga akan resign dari pekerjaaan?” tanya Nasya lagi menatap pada Aqila.


Untuk sesaat, Aqila terdiam, ia meletakkan ponsel nya keatas meja dan menatap ke dua sahabat nya. “Menurut kalian aku harus gimana? Abay pengen aku fokus sama dia, dia pengen aku buka usaha sendiri bersama dia. Agar aku tidak terikat dengan seseorang, ngerti kan maksud ku? Tapi—“

__ADS_1


“Tapi apa?” tanya Nasya dan Riksa bersamaan.


“Tapi aku bingung. Kayaknya adek nya Abay itu kurang suka sama aku,” keluh nya dengan wajah bersedih.


“Adek? Abay punya adek?” tanya Nasya mengerutkan dahi.


Aqila segera menganggukkan kepala nya, “Waktu itu aku udah di temuin sama adik nya. Tapi dia kaya gak suka gitu sama aku. Dan mulut nya, duhh kalau kalian tahu, rasanya pengen ku pites itu kalau gak inget dia adik nya Abay!” imbuh Aqila dengan gemas sendiri, mengingat pertemuan nya dengan keluarga kekasih nya beberapa hari yang lalu.


“Ujian mu berarti. Kamu jangan takut, jangan mundur, harus di lawan, dia Cuma adik ipar, bukan mertua. Mertua aja kalau bis di lawan kalau mulut nya pedes, ya gak, apalagi adik ipar!” saut Riska dengan begitu menggebu.


“Makanya itu aku bingung Sya, Ris. Sumpah itu adek nya tuh ngeselin banget aku—“


Drrtt ... Drrtt ... Drrttt ..


“Nah kan, baru juga di omongin udah telfon, panjang umur dia, iks kesel aku,” cetus Aqila lalu ia segera mengangkat panggilan telfon dari calon adik ipar nya.

__ADS_1


‘Halo, kak Aqila.”


“Ada apa May?” tanya Aqila sedikit menghela napas nya berat.


“Kak bilangin mas Abay suruh jemput aku dong. Aku udah nungguin dari tadi di kampus tapi gak ada dateng dateng. Di telfon juga nomor nya gak aktif, pasti lagi sama kak Qila kan!” ucap Maya menuduh Aqila dari seberang sana.


“Kamu ngapain di kampus? Ini hari minggu, dan juga bukan nya mas mu lagi ada lemburan hari ini?” tanya Aqila sedikit mengerutkan dahi.


“Lagi ada acara di kampus. Pokoknya gak mau tahu, kak Qila harus suruh mas Abay jemput aku sekarang, keburu hujan ini.” ucap Maya yang langsung memutuskan sambungan telfon nya.


“Nah kan, kalian denger sendiri, aku harus apa coba?” tanya Aqila kembali menghela napas nya dengan berat.


“Sabar ya,” ucap Nasya dan Riska bersamaan.


Belum menikah saja, cobaan untuk Aqila sudah terlihat cukup berat. Baik Nasya maupun Riska tidak ada yang tau bagaiman kehidupan Aqila nanti setelah menikah.

__ADS_1


...~To be continue .......


__ADS_2