Menikah Dengan Pak Duda

Menikah Dengan Pak Duda
Pasrah


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Nasya mengurungkan niat untuk masuk ke dalam kamar Ryana, karena ia tidak mau mengganggu kebersamaan nya dengan sang ibu kandung. Mungkin saja, Ryana merindukan sosok ibu kandung nya, pikir Nasya.


Akhirnya Nasya memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamar. Dan baru saja ketika ia hendak menutup pintu, tiba tiba pintu nya di tahan oleh seseorang dari luar. Adnan, laki laki itu, tadi ia melihat Nasya mengintip sebentar di kamar Ryana, sehingga membuat nya segera beranjak dan menghampiri Nasya.


“Apakah Ryan sudah tidur?” tanya Adnan begitu lembut seperti biasa seolah tidak terjadi apapun di antara mereka.


“Sudah, bagaimana dengan Ryana?” kata Nasya yang balik bertanya.


“Dia masih mengobrol dengan Riri,” jawab Adnan, lalu ia mengajak Nasya untuk duduk di tempat tidur, “Sayang, apa kamu terganggu dengan keberadaan Riri disini?” tanya Adnan kini ia mengusap wajah Nasya dengan lembut.

__ADS_1


Nasya hanya terdiam, bagaimana bisa Adnan bertanya seperti itu. Apakah harus ia menjawab pertanyaan seperti itu? Bukankah sudah jelas, bahwa tidak ada perempuan di dunia ini yang betah atau tahan bila harus satu rumah dengan wanita dari masa lalu sang suami. Sungguh konyol, batin Nasya ingin mengumpat kasar pada Adnan.


“Riri ingin lebih dekat dengan anak anak, ia ingin mengenal anak anak lebih jauh lagi. Kamu mau kan membantu dia?” tanya Adnan sekali lagi, hingga membuat Nasya hampir tersedak udara.


“Tidak ada alasan untuk aku bisa menolak kan?” kata Nasya dengan tersenyum paksa di bibir nya, “Lagipula aku hanya menumpang disini, lantas mengapa harus kamu tanyakan apakah aku setuju atau tidak. Terganggu atau tidak, memang nya aku punya hak apa? Ini bukan rumah ku,” imbuh Nasya panjang lebar, masih dengan senyuman di wajah nya.


Namun, meskipun bibir nya tersenyum lebar. Hatinya begitu sakit dan ingin menjerit sekuat tenaga nya. Namun, ia tidak bisa melakukan itu, ia tidak ingin membuat keributan, dan selama ia masih bisa bertahan maka ia akan bertahan. Nasya ingin memastikan bagaimana sosok Riri yang sebenarnya, lagipula Nasya percaya pada Olin. Ia tidak akan membuat dirinya kecewa bukan? Batin Nasya dalam hati.


“Sayang, aku tidak suka dengan perkataan mu ini!” kata Adnan menatap datar pada istrinya.


Deg!

__ADS_1


Adnan kembali mencerna dan mengingat kembali perkataan yang ia ucapkan kepada Nasya sebelum nya, dimana ia mengatakan bahwa Riri juga pernah tinggal di rumah nya dan rumah itu juga milik Riri.


“Istirahat lah Mas, aku akan berganti pakaian terlebih dulu,” ucap Nasya masih begitu santai dan tersenyum lembut kepada Adnan, lalu ia bangkit dari tempat duduk nya dan pergi ke kamar mandi.


Dan ketika dirinya sudah memastikan pintu terkunci, Nasya segera menyalakan air shower dan menangis sekuat tenaga nya. Ia mengeluarkan seluruh tangis nya di dalam bilik air shower.


Sakit, perih dan menyiksa, itu lah yang ia rasakan saat ini. Namun ia tidak ingin terlalu terlihat oleh Adnan.


“Tuhan, aku pasrahkan semuanya padamu. Aku pasrah hiks hiks, dan aku percaya bahwa akan ada pelangi seusai badai. Dan aku akan menunggu dan berusaha untuk bertahan sampai pelangi itu tiba untuk menjemput kebahagiaan ku,” gumam Nasya dalam hati sambil terisak.


Sementara itu, Adnan yang sejak tadi berdiam, kini kembali mengingat ingat kembali perkataan nya.

__ADS_1


‘Apakah aku sudah menyakiti Nasya? Istri ku? Maaf bila perkataan ku ada yang menyinggung mu, tapi percayalah bahwa bukan itu yang aku maksud sebenarnya.’ Gumam Adnan dalam hati dan terus mengamati pintu kamar mandi nya.


...~To be continue .......


__ADS_2