
...~Happy Reading~...
Setelah sampai di rumah sakit, Marvel dengan sigap segera mengangkat tubuh Nasya yang sudah berlumuran darah dan membawa nya memasuki UGD. Dengan langkah tergesa dan terus berteriak memanggil petugas, kini akhirnya Nasya sudah di tangani oleh dokter.
Tuuttt .... Tuttt ....
Marvel pun segera menghubungi Adnan, namun benar seperti yang di katakan oleh Bibi, bahwa Adnan tidak menjawab panggilan telfon nya. Akhirnya Marvel mencoba untuk menghubungi Yoga.
Tuutt ... Tutt ...
Dan tidak butuh waktu lama, Yoga segera menjawab panggilan telfon nya.
“Ha—“
“Dimana bang Adnan, Ga?” tanya Marvel to the point dengan nada yang tiak biasa.
“Dia ada disini, ada apa bang?” tanya Yoga mengerutkan dahi nya bingung, ketika mendengar suara Marvel yang nampak bergetar.
“Apa dia tidak membawa HP?” tanya Marvel sekali lagi.
__ADS_1
“Oh itu, HP nya ketinggalan di rumah tadi. Ada apa?Biar aku sampaikan—“
“Pranata Hospital, sekarang! Nasya kritis!” ucap Marvel datar, lalu ia segera mematikan smabungan telfon begitu saja.
Ia menghela napas nya kasar an langsung mendudukkan dirinya di kursi tunggu. Menjambak rambut serta mengusap wajah nya dengan begitu frustasi. Membayangkan kembali bagaimana suara Nasya yang berteriak merintih kesakitan di tambah adanya darah yang begitu banyak, membuat hati dan pikiran Marvel tidak tenang.
Sementara itu, Yoga yang baru saja mendengar kata kata Marvel, seketika langsung speachles dan terdiam. Otak nya terasa berhenti dalam sekejab, Pranata Hospital dan akan kehilangan istrinya? Apaah terjadi sesuatu dengan Nasya? Pikir Yoga masih mencerna.
“Siapa Ga?” tanya Adnan seketika membuat lamunan Yoga ambyar dna langsung teringat kata kata Marvel.
“Bang Marvel, dia bilang kalau dia k—kalau Nasya kritis," kata Yoga yang masih tidak percaya, "Pranata Hospital, Bang!"
Deg!
“Kamu disini dan jaga mereka. A—aku ke sana sekarang!” ucap Adnan engan panik, namun tiba tiba langkah nya terhenti ketika di tahan oleh Ryan.
“Ryan mau ikut!” ucap anak itu dengan ekspresi wajah datar dan langsung meggandeng tangan ayah nya.
Adnan tidak ingin berdebat, ia pun membiarkan Ryan untuk ikut dengan nya. Adnan langsung mengendarai mobil nya dengan kecepatan cukup tinggi, jarak antara rumah sakit yang merawat Riri dan Nasya lumayan jauh. Karena Riri di bawa ke rumah sakit yang khusus menangani kanker, sementara Nasya berada di rumah sakit lain.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Adnan sudah tiba di rumah sakit yang di maksud oleh Marvel. Ia segera mencari dimana ruangan istrinya, yang ternyata kini Nasya maish berada di ruang UGD.
“Om Marvel!” pekik Ryan ketika melihat Marvel dan bibi dari kejauhan.
Marvel pun langsung menghela napas nya dengan cukup kasar ketika melihat kedatangan ryan dan Adnan.
Tangan nya sudah terasa begitu gatak sejak tadi ingin menghajar Adnan. Namun melihat keberadaan Ryan, sangat tidak memungkinkan bila ia melakukan itu. Jadilah ia hanya mampu mengepalkan tangan dengan kuat untuk meredam rasa emosi nya terhadap Adnan.
“Bagaimana keadaan Nasya? Dia kenapa?“ tanya Adnan langsung pada inti nya dan menatap Marvel dengan tidak sabar.
“Kalau saja Ryan tidak ada disini, aku rasa aku suah memukul bang Adnan sekarang!” tutur marvel sedikit berbisik kepada Adnan.
Tentu saja Adnan langsung membulatkan matanya dan menatap tajam pada Marvel. Bagaimana bisa, dirinya di ancam seperti itu, batin nya.
“Apa maksud mu!” seru Adnan tidak terima.
“Berdoalah supaya mereka baik baik saja, karena kalau tidak. Maka aku pastikan aku yang akan membawa Nasya pergi dari kehidupan Abang. Tentu saja bang Adnan tidak lupa kan dengan kata kata ku waktu itu. Aku siap melawan Eyang bila ia tidak menyetujui ku untuk jadi PEMBINOR,” ucap Marvel sengaja menekankan kata mereka dan pembinor kepada Adnan, berharap laki laki sadar dan cukup peka
“Jangan kurang ajar kamu Vel!” seru Adnan yang langsung mencengkram kerah kemeja Marvel dan hendak memukul nya.
__ADS_1
“Keluarga pasien!” suara seorang dokter yang menangani Nasya membuat niat Adnan ter urungkan. Ia pun menghempaskan tubuh Marvel dan segera bergegas menghampiri dokter untuk menanyakan keadaan istrinya.
...~To be continue ... ...