
🍁🍁🍁🍁
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kini mobil yang di tumpangi Adnan dan Nasya sudah tiba di suatu tempat yang belum pernah Nasya datangi.
Ya, Adnan tidak membawa Nasya langsung pulang ke rumah eyang Liana maupun rumah lama nya. Namun Adnan membawa Nasya ke rumah baru yang akan ia tinggali bersama anak dan istri nya.
“Ayo turun,” ajak Adnan membukakan pintu mobil Nasya dan mengulurkan tangan agar di genggam.
“Ini rumah siapa?” tanya Nasya masih mengamati setiap sudut pekarangan rumah tersebut.
Bisa di lihat dari pintu gerbang, halaman dan bangunan rumah, ini bisa di katakan dua kali lipat lebih besar dari rumah milik Adnan sebelum nya.
“Rumah kamu, rumah kita,” jawab Adnan langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.
“Hah!” sontak Nasya langsung menganga dan menoleh menatap ke arah Adnan yang kepala nya sudah berada di bahu kanan nya.
“Bukankah kamu bilang, rumah sebelumnya adalah rumah Riri?”
“Bukan aku yang bilang, tapi kamu!” saut Nasya dengan cepat meralat ucapan Adnan. Tentu saja dengan ekspresi wajah datar.
__ADS_1
“Iya aku tahu, aku salah. Maaf sudah mengatakan hal yang ternyata menyakiti kamu,” ucap Adna penuh penyesalan, “Maka dari itu, aku membeli rumah baru, untuk kamu dan anak anak.”
“Kamu?”
“Aku numpang sama istriku aja,” jawab Adnan tanpa sadar membuat Nasya langsung menahan senyuman nya.
“Tidak seharusnya dulu aku berkata seperti itu. Tapi sekarang aku sadar, bahwa sebaik apapun orang di masa lalu kita, akan lebih baik bila orang itu tidak ada.”
“Akhirnya sadar!” sindir Nasya sedikit ketus.
“Iya Sayang, aku sadar. Aku sangat sadar sekarang. Bahwa, kamu adalah segalanya untuk aku, aku sudah cukup tersiksa selama satu tahun ini. Dan aku tidak mau mengulangi lagi, aku gak akan sanggup,” ucap Adnan dengan wajah menyesal nya.
“Mau masuk?” tanya Adnan dan Nasya pun dengan segera menganggukkan kepala nya.
Memasuki rumah, Nasya langsung di buat terpesona dengan interior dan desain yang ada di rumah barunya. Jauh lebih indah dan mewah dari rumah yang sebelum nya, tentu saja karena rumah ini Adnan sendiri yang mendesain dan turun langsung untuk memastikan kesempurnaan nya.
Adnan ingin memberikan sesuatu yang luar biasa untuk istrinya. Maka dari itu, mengapa selama beberapa minggu ini ia jarang mengunjungi Nasya dan anak anak di rumah eyang Liana. Karena dirinya sibuk agar rumah nya segera selesai. Dan sesuai ekspetasi nya, rumah itu selesai lebih cepat dari waktu yang ia targetkan.
“Apa kamu suka?” tanya Adnan kembali memeluk tubuh Nasya dari belakang.
“Tentu saja aku suka, rumah ini sangat indah, bahkan—“
__ADS_1
“Tentu saja, rumah ini spesial untuk orang yang begitu spesial.” Jawab Adnan dengan cepat seolah tahu dengan apa yang akan di ucapkan oleh Nasya.
“Modus!” cetus Nasya mengulum senyum nya malu.
“Mulai hari ini, rumah ini akan menjadi saksi perjalanan hidup kita ke depan. Kita buka lembaran baru disini, dan kita ciptakan surga kita bersama sampai menua, dan bahkan sampai kita memiliki cucu dan cicit. Aku sengaja membuat rumah ini lebih besar agar bisa menampung anak dan cucu kita nanti,” ucap Adnan terkekeh sendiri.
“Mas, umur ku masih dua puluh tahunan, jangan membicarakan cucu!” cetus Nasya memanyunkan bibir nya.
“Baiklah, untuk cucu kita masih lama memiliki nya. Jadi aku ubah kosa kata ku, ini rumah untuk Ryan dan Ryana juga adik adik nya.”
“Adik adik nya? Adik Ryan dan Ryana Cuma Rayyan.” ralat Nasya menghela napas nya kasar.
“Untuk saat ini! tapi untuk besok, dan seterusnya kita gak tahu. Target ku masih banyak Sayang,” kata Adnan dengan senyuman mengembang di bibir nya.
“Enggak!” tolak Nasya menggelengkan kepala nya, “Tiga anak sudah cukup Mas!”
“Ryan dengan Rayyan. tapi Ryana belum punya adik Sayang. “ kata Adnan dengan menaik turunkan alis nya menatap Nasya, “Gimana kalau kita uji coba di rumah baru dulu.” Imbuh nya lalu dengan cepat Adnan langsung mengangkat tubuh Nasya dan membawa nya menaiki tangga menuju kamar utama.
'Resiko punya suami mantan duda labil karatan!' gumam Nasya dalam hati hanya bisa pasrah.
...~To be Continue... ...
__ADS_1