
...~Happy Reading~...
Nasya hanya mampu menangis saat melihat mobil yang di tumpangi oleh suaminya pergi begitu saja meninggalkan dirinya di halaman rumah. Air matanya semakin tak kuasa ia tahan, hatinya semakin terasa sakit. Benarkah ini akhir dari pernikahan nya? Benarkah dia benar akan kehilangan suaminya? Atau, apakah memang dirinya begitu egois tidak mau mengerti keadaan? Batin Nasya bertanya tanya.
“Aaahhh! Auuwhhh!” pekik Nasya tertahan, tubuh nya langsung terjatuh ke lantai, matanya sukses membola dengan sempurna ketika melihat adanya sebuah cairan berwarna merah yang sudah membasahi kaki nya bahkan hingga membasahi sendal yang ia pakai.
“Masss!” pekik Nasya menangis histeris.
“Non Nasya!” seru sekuriti yang langsung menghampiri Nasya dengan panik.
“Astagfirullah!” Bibi yang mendengar suara Nasya berteriak, langsung ikut menghampiri Nasya yang ternyata sudah tergeletak di lantai.
“Bibi tolong telfon mas Adnan! Tolong Bi hiks hiks, sakit.” Ucap Nasya memohon di sela tangis nya.
“Yono, buruan kamu telfon den Adnan. Sekarang!” ujar Bibi yang tidak tega meninggalkan Nasya, akhirnya menyuruh sekuriti agar masuk ke dalam rumah dan menghubungi Adnan.
__ADS_1
Bruummm!
Setelah beberapa saat, Nasya yang masih sadarkan diri, ia mendengar ada mobil yang datang. Namun sayang, itu bukanlah mobil yang ia harapkan.
“Den Marvel! Kebetulan sekali. Den tolongin non Nasya. Den Adnan gak bisa di hubungi! Tolong den!” seru Bibi dengan panik nya memanggil Marvel.
“Nasya! Kamu kenapa!” pekik Marvel langsung berlari setelah turun dari mobil.
“Sakittt! Hiks hiks mas Adnan. Sakittt!” Nasya terus menangis meraung sambil mencengkram perut nya yang kian terasa melilit.
“Sya, da—darah!” Marvel semakin panik ketika ternyata Nasya mengeluarkan cukup banyak darah.
“Astaga, iya Bi.” Ucap Marvel segera menggendong Nasya dan membawa nya ke mobil.
Sepanjang perjalanan, Nasya terus menangis dan terisak melawan rasa sakit nya. Ia merasa bahwa darah segar semakin deras mengucur di bagian intim nya. Membuat bulir bulir keringat dingin terus mengucur di dahi nya membasahi wajah.
__ADS_1
“Bang Adnan kemana Bi?” tanya Marvel di tengah fokus nya saat menyetir.
“Den Adnan ikut ke rumah sakit Den, nganterin non Riri anfal lagi.” Ujar Bibi sambil tangan nya terus memeluk tubuh Nasya.
‘Shitt! Brengsekk!’ umpat Marvel daam hati nya dan memukul setir dengan penuh emosi.
Baru beberapa hari yang lalu ia memberikan nasehat kepada Adnan agar memperbaiki hubungan nya dengan Nasya. Terlebih, Marvel juga sudah mengatakan kalau ada yang tidak beres dengan Nasya. Karena selama ini, dirinya selalu di ributkan oleh keinginan keinginan yang tidak masuk akal oleh Nasya. Meskipun Marvel terbilang jomblo tapi dia bukan jones. Marvel pernah menemani dan menjadi ajudan pribadi sepupunya ketika hamil. Dan kini ia rasakan lagi pada Nasya.
Meskipun Nasya tidak pernah mengatakan dirinya hamil, namun Marvel seperti memiliki firasat di tambah kini ia melihat Nasya pendarahan. Tidak mungkin Nasya terkena penyakit hingga pendarahan seperti ini, dan Marvel bisa pastikan ini semua karena ulah Adnan.
“Vel, aku gak kuat! Sakittttt!” Tiba tiba Nasya berteriak seraya mencengkram tangan Bibi dengan begitu kuat, “Aarrkkhhhh!”
“Astaga Non Nasya!” pekik Bibi ikut merasakan sakit, ketika tangan nya di cengkram kuat oleh Nasya, hingga tiba tiba tubuh Nasya terlihat lemas dan tak sadarkan diri.
“Den cepetan!” imbuh Bibi dan Marvel pun segera menambah kecepatan agar segera sampai di rumah sakit.
__ADS_1
'Mas, kenapa harus sesakit ini?' gumam Nasya di dalam hati. Tidak luka hatinya yang sakit, namun kini fisiknya juga tak kalah sakit.
...~To be continue .......