
...~Happy Reading~...
Hari berganti hari dengan begitu cepat. Kini sudah terhitung satu bulan Riri tinggal satu atab bersama Adnan dan Nasya. Dan hari yang di tunggu telah tiba, hari ini Olin datang untuk menjemput Riri pulang ke kampung halaman nya.
Tangis haru langsung pecah ketika Olin datang dan memeluk Riri dengan begitu erat. Begitupun dengan Riri yang membalas pelukan ibu nya tak kalah erat.
Rindu, tentu saja. Tujuh tahun lebih mereka tidka bertemu. Dan beberapa bulan kemarin, mereka hanya berkomunikasi secara virtual. Sedangkan hari ini, Olin benar benar bisa bertemu dengan putri nya, bahkan bisa memeluk nya lagi.
“Maafin Riri, Bu hiks hiks hiks.” Ucap Riri terisak di pelukan Olin.
“Kenapa kamu tega melakukan ini Nak, hiks hiks. Ibu sangat merindukan kamu, kenapa kamu hiks hiks hiks.” Olin bahkan sudah tidak mampu membendung kerinduan nya kepada sang putri.
Ia marah, kecewa namun ia juga tidak bisa membenci Riri. Biar bagaimana pun, Riri adalah anak nya, dan selamanya akan seperti itu. Dan hanya dirinya yang di miliki Riri saat ini.
Uhuukk hukkk
__ADS_1
Saat keduanya tengah berpelukan, tiba tiba saja Riri terbatuk dan mengeluarkan darah segar dari mulut nya. Tentu saja hal itu langsung membuat semua orang memekik terkejut.
“Riri! Mama!” pekik Olin dan dua R bersamaan.
“Riri mau pulang sama Ibu hiks hiks,” gumam Riri begitu lirih, dengan posisi kini masih berada di pelukan Olin.
“Kita ke rumah sakit dulu ya, kita ke rumah sakit.” Ucap Olin menangis khawatir, namun Riri segera menggelengkan kepala nya.
“Riri mau pulang sama Ibu,” gumam nya begitu kekuh.
Hati Olin semakin terasa perih, ketika melihat putri nya sudah tidak baik baik saja. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri, mengapa tidak sejak dulu ia datang ke Jakarta dan nekat memaksa Riri agar mau berobat. Olin teramat sangat menyayangi Riri, sehingga menyanggupi permintaan Riri yang melarang nya untuk datang.
Maka dari itu, selama sebulan terakhir ini Nasya semakin merasa kesepian. Hubungan nya dengan Adnan belum membaik, bahkan selama ini Adnan selalu tidur bersama Ryan karena Nasya masih melarang laki laki itu masuk ke dalam kamar. Dan setiap kali Ryan bertanya, maka Adnan akan menjawab bahwa ia selalu ketiduran.
Dan hari ini, tentu saja Nasya di buat terkejut melihat kedatangan Olin dan keadaan Riri yang sudah cukup buruk. Tak bisa di pungkiri, bahwa Nasya ikut meneteskan air mata ketika melihat dan mendengar tangisan haru antara Olin dan Riri. Biar bagaimana pun, ia tidak pernah membenci Riri apalagi Olin, Namun, bila untuk mendekatkan diri dengan Riri, Nasya akui ia tidak akan bisa. Untuk alasan mengapa, dirinya tidak tahu, bahkan . Nasya sendiri juga tidak mengerti mengapa ia bisa bersikap acuh kepada suaminya sendiri. Selama satu bulan penuh malah.
__ADS_1
“Huhhh!” Nasya menghela napas nya dengan cukup kasar. Ia tidak tahu mengapa tiba tiba ia merasa dada nya begitu sesak, dan kepala nya kembali berdenyut ketika melihat pemandangan tersebut.
Bukan ia tidak memiliki rasa prihatin atau tidak berkemanusiaan. Nasya sendiri juga tidak mengerti mengapa akhir akhir ini tubuh nya sangat sensitif dan sulit di mengerti. Terlebih bila menyangkut Adnan maupun Riri, Nasya menjadi sedikit kejam karena tidak mau perduli.
Karena tidak kuat, akhirnya Nasya memilih untuk pergi ke dapur untuk mengambil air minum, setidaknya itu akan membuat dada nya merasa lega.
...~To be continue ......
Nasya : Mommy jangan buat aku jadi jahatttt!
Mommy : Enggak Sya, kamu gak jahat kok. Cuma sedikit julid
Nasya : Gak mau mom, gak mau! Jangan rusak image aku!
Mommy : Bukan aku yang merusak nya Sya!
__ADS_1
Nasya : Mommy author nya, jadi sudah pasti Mommy yang ngerusak!
Mommy : Aku juga yang salah 🙄😩😩